Sekilas Tentang Perencanaan Program

PERENCANAAN PROGRAM

I. PENDAHULUAN
Sebagai suatu wadah, Human Service Organization (HSO) merupakan oragnisasi/lembaga tempat dimana kegiatan pelayanan kemanusiaan atau kesejahteraan sosial dilaksanakan. Kegiatan HSO bukan dominasi atau monopoli bidang sosial saja, melainkan bidang-bidang lainnya yang bergerak dalam kesejahteraan sosial seperti kesehatan, pendidikan, hukum dan lainnya.
HSO tumbuh sebagai jawaban dari kebutuhan pelayanan bagi masyarakat oleh keluarga maupun pasar. Lembaga ini memastikan pelayanan yang dapat diperuntukkan bagi seluruh warga Negara tanpa kecuali. Oleh karena itu visi dari HSO haruslah memberikan pelayanan professional sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.
Untuk meningkatkan profesionalitas seuatu HSO perlu mempunyai perencanaan program yang baik, dan berorientasi kepada pelayanan kliennya. Sebagai usaha peningkatan profesionalitas para pelaksana dan lembaganya, perencanaan program selanjutnya akan dibahas dibawah ini.
Perencanaan merupakan salah satu fungsi managerial yang mendasar yang terdiri dari sejumlah tugas, antara lain :
1. Menetapkan kebijakan, tujuan, standar dan pedoman
2. Pengembangan anturan-aturan prosedur
3. Pengembangan perencanaan
4. Memperhatikan lingkungan yang teliti.
Bentuk perencanaan diterjemaahkan melaui program-program yang dapat diinterpretasikan sebagai :
1. Proses apa yang sedang dikerjakan
2. Target pelayanan
3. Hasil yang akan dicapai
4. Intervensi termasuk juga kebijakan

Setidaknya secara spesifik perencanaan harus mengandung unsur :
1. Apa ?
2. Siapa ?
3. Kapan ?
4. Bagaimana ?
5. Dimana ?
Pentingnya perencanaan program hingga keberhasilan suatu kegiatan tergantung kepada perencanaan yang digunakan. Apa bila perencanaan tersebut baik maka kemungkinan akan menghasilkan kegiatan yang baik pula, demikian pula sebaliknya.

II. PEMBAHASAN
1. Model-model perencanaan program
Terdapat sejumlah faktor penting yang terdapat dalam perencanaan pelayanan kemanusiaan, yang di singkat AVICTORY, antara lain :
a. Ability atau kemampuan
b. Value atau nilai-nilai
c. Information atau informasi
d. Circumstances atau perihal
e. Training
f. Obligation
g. Resintance
h. Yield
Pentingnya perencanaan program hingga keberhasilan suatu kegiatan tergantung kepada perencanaan yang digunakan. Apa bila perencanaan tersebut baik maka kemungkinan akan menghasilkan kegiatan yang baik pula, demikian pula sebaliknya.
Perencanaan program dilakukan agar pelaksanaan manajemen lebih efektif sehingga dapat menghasilkan atau mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebagaimana mestinya. Seperti terlihat dalam gambar dibwah ini.
Gambar 6.1 Tujuan Manejemen Efektif

Sumber: Christian, WP.and Hannah, G.T. (1983) Manajemen efektif pada
pelayanan manusia, Prentice Hall, Englewood Cliffs, N.J.,p.15.

Elemen itu dapat digunakan untuk bekerja melalui sistematis tahapan-tahapan, garis besarnya dalam Gambar 6.1, yakni analisis, implementasi dan pengukuran. Suatu perencanaan program dapat disusun dengan menggunakan model logis yang memuat tentang :
a. Alokasi sumber untuk program
b. Maksud aktivitas program
c. Harapan hasil program
d. Asumsi hubungan penyebab

2. Isu-isu yang muncul pada tahap analisis perencanaan
Beberapa kompleksitas yang muncul dari implementasi program telah tercatat seperti dalam pembuatan keputusan dan komunikasi, konflik dan perubahan manajemen. Beberapa isu yang sering muncul dalam analisis perencanaan sebagai berikut :
a. Penggabungan masalah dengan konsep dan pengukuran kebutuhan;
b. Perumusan pernyataan misi, tujuan dan spesifikasi obyek;
c. Mendefinisikan suatu masalah Nilai dan posisi teoritis yang disediakan, untuk analisis, mata rantai hubungan penyebab, pendefinisian masalah atau kondisi yang dialamatkan dan perancangan komponen program untuk memperoleh pengaruh yang kuat pada kondisi itu. Contoh, kekerasan terhadap anak disebabkan oleh sumber-sumber yang tidak tercukupi dan faktor struktural, suatu kecenderungan untuk menolak program pertolongan.
d. Angket atau questioner yang digunakan

Kebutuhan pengukuran
Ini adalah konsep yang telah menimbulkan sejumlah perhatian pada kebijakan sosial dan manajemen pelayanan manusia. Definisi kebutuhan sangatlah kompleks dapat diukur dengan siapa butuh, dan oleh standar apa; perbedaan antara kebutuhan, keinginan dan permintaan, dan keabsyahan kebutuhan. Kompleksitas permasalahan membutuhkan definisi, dan perkembangan suatu jawaban yang mencukupi, melalui menerima sejumlah perhatian dalam kebijakan sosial. Satu perumusan awal kebutuhan oleh Bradshaw 1972, yang mana dia membedakan antara perasaan, ekspresi, normatif dan kriteria penggunaan dalam pemenuhannya. Hamilton-Smit (1975), Ife (1980) dan Martin (1982) telah mengkritik pentingnya pengembangan semua konsep, dan perluasan pemikiran Bradshaw dalam kontek Australia. Martin membuat suatu manfaat perbedaan antara kebutuhan yang didefinisikan penerima pelayanan dan penyedia pelayanan, dan kami bersedia untuk konsequen bekerja pada perbedaan ini.
Perumusan pernyataan tugas dan spesifikasi tujuan dan obyek
Ini adalah suatu wilayah dimana manager sering mengalami beberapa kesulitan. Pernyataan tugas adalah pernyataan umum akan tujuan organisasi, dan kadang-kadang mengambarkan philosofi organisasi atau program. Ciri pernyataan tugas antara lain:
a. Menyediakan tempat tinggal dan pelyanan perawatan kesehatan untuk orang tua
b. Menyediakan satu pelayanan akomodasi darurat untuk subyek wanita yang megalami kekerasan rumah tangga
Pernyataan tugas, idealnya, harus menjelaskan populasi konsumen atau potensi tugas konsumen sebagai tujuan, kealamiahan pelayanan yang disediakan, tipe yang menyangkut fasilitas, meskipun aspek ini biasanya kurang jelas, termasuk tipe personel yang akan mengimplementasikan program.
Tujuan lebih spesifik dari pernyataan tugas, dan idealnya (dan ada kemungkinan) terdefinisikan dalam istilah yang terukur, dapat tercapai dan komponen yang terlihat. Pernyataan sebaiknya :
a. Menjelaskan aktivitas utama oleh pengunaan kata yang salah yang berorietasi tindakan, contoh dalam memajukan sejumlah pribadi yang terinfeksi HIV untuk mengunakan program perawatan setempat;
b. Identifikasi menurut kondisi kunci yang mana penyelenggaraan diharapkan terjadi, oleh spesifikasi tujuan yang tunggal, contoh pengembangan suatu model kolaborasi perawatan dengan pelayanan perawat rumah;
c. Indikasi tingkatan pelaksanaan yang dipertimbangkan dapat diterima. Ini mungkin juga memuat suatu elemen waktu, contoh semua kasus diketahui dalam wilayah depertemen kesehatan khususnya adalah penerimaan pelayanan, jika diinginkan, selama enam bulan berikutnya.

Denifinisi masalah dan desain program
Wilayah ini penting sebab definisi masalah dan desain program menghadapi nilai dan teori. Nilai menyediakan penyokong program – pembenaran dan keabsyahan definisi masalah serta desain program – juga memberikan bentuk akan tingkatan intervensi dan lokasi definisi masalah dan desain program, ketika menyediakan penyokong teoritis sesuatu yang rasional untuk penggolongan membuat intervensi.
Bentuk yang berbeda dari konflik dapat terjadi, dan, meskipun tidak termuat sebagai elemen nilai yang jelas, boleh jadi hampir sebagai fundamental. Konflik ini muncul melebihi orientasi teori yang diambil dalam peraturan pada program yang rasional.
Beberapa wilayah intervensi terlalu baru dan asli contoh :
- Program pemberantasan AIDS, yang membawa mereka berpengaruh pada sejarah teori dan kerja penelitian untuk kebenaran program.
- Isu kekerasan dalam rumah tangga, program tidak mungkin hanya baru ( tempat perlindungan perempuan) tetapi juga boleh jadi tantangan yang didasarkan pada penjelasan awal pada teori kepribadian tentang tentang hubungan sado-masochistic (orang yang suka menderita).
- Program di wilayah penyiksaan anak, AIDS dan promosi kesehatan akan bekerja dalam lingkungan pada nilai dan perselisihan tingkat tinggi, dengan eksperimen atau pilot program.
Dalam banyak cara program dapat mempertimbangkan aksi penelitian program, dan setiap aspek intervensi menjadi variabel untuk dipelajari. Hendaknya setiap intervensi dicatat sebagai potensi penelitian aksi yang melekat dalam program pelayanan kemanusiaan.
Untuk contoh, perancangan program pendidikan teman sebaya untuk resiko tinggi tertular HIV, hanya ada sedikit yang perencana lakukan dalam perencanaan program. Mereka harus meninjau, karenanya, perlu melihat literatur dan penelitian pada tingkah laku kelompok kecil, teori-teori pembentukan sikap, dan hubungannya dengan perubahan tingkah laku, pengunaan metode kelompok teman sebaya dalam hubungannya dengan pendidikan alkohol dan obat-obatan, persepsi resiko menguasai orang muda, dan akhirnya, studi perbandingan pada pemeliharaan perubahan tingkah laku digunakan metode berbeda dalam intervensinya (kelompok kecil, individual, counseling).
Dengan perkembangan yang cepat di lapangan utamanya datang dari pendidikan kesehatan dengan model yang didasarkan pengembangan program pada sejumlah tahap proses yang khusus, termasuk model, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Ada kesan yang tipis terhadap yang terjadi pada mereka, melewati waktu, terhubung dengan perputaran pengembangan program serupa. Perputaran program itu termasuk tahapan pemandu, diikuti dengan program eksperimen, demontrasi program, dan melembagakan program. Peranan evaluasi dalam kerangka kerja utama berkontribusi jelas untuk perumusan putaran feedback (pengaruh balik). Ini terjadi pada setiap tahapan dalam proses dan pada setiap tahapan perkembangan program.

Daftar Pertanyaan pada Perencanaan Program
Tidak ada yang berharga dalam daftar pertanyaan pada perencanaan program, seperti pada tabel 6.2, yang memuat elemen seperti dijelaskan diawal pada model perencanaan program yang berbeda. Peralatan seperti ini dapat digunakan dalam perencanaan program, khususnya ketika program itu dalam area baru untuk intervensinya.

3. Pemasaran sebagai alat perencanaan program
Chisnall (1979), seorang yang memberikan argumen untuk penerapan teknik pemasaran untuk pengembangan kesehatan dan program kesejahteraan, yang mengatakan:
Swasta sebagai sektor bisnis dan publik sebagai organisasi kesejahteraan memiliki motivasi yang terbaik, tetapi mereka membagi obyek secara bersama: menyediakan keuntungan yang dapat diterima anggota-anggota, apakah mereka digambarkan sebagai konsumen, pasien atau klien. Alokasi yang paling optimal dari sumber-sumber daya ini bukan hanya berhubungan dengan perusahaan-perusahaan komersial tapi juga secara langsung berhubungan dengan orang-orang yang merumuskan kebijakan tentang pelayanan publik.

Tabel 6.2: Daftar Pertanyaan Prencanaan Program
a. Kelompok sasaran tertentu. Siapa yang beresiko ? resiko apa yang ada pada mereka ? apa masalahnya ?
b. Sasaran intervensi. Apa yang kita pahami ? bagaimanakah menghubungkan teori prubahan perilaku dengan program-programnya ? mengapa orang-orang datang pada peksos dan bagaimana mereka mengakses pelayanan ? bagaimanakah para pengguna pelayanan secara tipikal ”mengemas” pelayanan peksos dengan yang tersedia ?
c. Pengalaman. Pelajaran apakah yang kita peroleh dari kegiatan – kegiatan yang sama dimasa lalu yang akan membantu kita dengan kegiatan ini ?
d. Pihak lain. Siapakah yang akan kita tiru dari pekerjaan-pekerjaan pihak lain ? apakah orang lain melakukan hal yang sama dan kita mampu mengkaitkan-nya ?
e. Keahlian. Siapakah orang yang paling baik untuk memberi nasehat pada pekerja sosial tentang jenis kegiatan ini ? umpan balik seperti apa dari konsumen yang akan membantu kita dalam pendisainan (program) ?
f. Latar belakang. Penelitian dan pre-evaluasi. Bagaimana cara kita mendapatkan apa yang paling berpengaruh bagi kelompok sasaran ?
g. Keterlibatan masyarakat. Bagaimana kita mendapatkan kelompok target yang terlibat dalam semua tahapan pada kegiatan ini ?
h. Pengembangan masyarakat. Bagaimana kegiatan ini mampu mengembangkan kepedulian masyarakat terhadap kelompok sasarannya ? mengapa ini penting ?
i. Teknologi. Teknologi apa yang paling efektif untuk memunculkan program ini ?
j. Sumber-sumber. Staf (digaji dan tidak digaji) uang, bangunan. Apa yang diperlukan ? apakah tersedia ? dimana kita dapat mendapatkannya ?
k. Masalah. Masalah-masalah apa yang mungkin kita hadapi ?
l. Evaluasi. Bagaimana kita tahu apakah intervensi ini berhasil ?

Daftar ini mengangap penelitian marketing bukan merupakan suatu konsep yang mencampuradukan dengan pelayanan-pelayanan manusia secara keseluruhan dan akar dari penelitian marketing memanipulasi survei-survei sosial sebelumnya yang dirintis oleh para perencana program sebelumnya seperti Booth dan Rowntree. Telah ada beberapa resistansi terhadap penelitian marketing seperti yang telah digambarkan pada awal paragraf.
Penelitian riset adalah pembatasan kebutuhan dan memandang isu-isu seperti permintaan pelayanan-pelayanan yang semuanya secara resmi diaplikasikan dalam keahlian marketing untukmembantu dalam meyakinkan secara lebih efektif perencanaan program pelayanan masnuia.
Seperti telah dikemukakan, ada banyak instansi dimana penelitian marketing dapat dijadikan nilai tertentu bagi organisasi pelayanan manusia. Sejumlah studi pendidikan kesehatan menampilkan penggunaan penelitian marketing dalam mengevaluasi keefektifan kampanye-kampanye poster terhadap larangan merokok serta menginvestigasi pengetahuan dan perilaku sebagai penyakit kelamin sebelum kampanye tentang pelayanan masyarakat semakin gencar.

Marketing dan pekerjaan sosial
Dalam pengembangan pendekatan ini, Holmes Reicken (1980) telah menggambarkan tentang analisis-analisis sebelumnya tentang dua hal utama yaitu ketentuan-ketentuan tentang organisasi non profit dimana klien dan donatur berada dalam suatu organisasi yang menerima sumber-sumber daya. Mereka juga mempunyai identitas keberdaan dalam HSO, mencakup klien , sumber pendanaan, anggota staf, susunan kepemimpinan, sukarelawan, agen-agen rujukan, akreditasi atau perijinan lembaga, klien yang mempunyai prospek memadukan pelayanan masyarakat dengan organisasi lain.
Penggunaan konsep pendekatan marketing dalam organisasi harus dilaksanakan dengan hal-hal sebagai berikut :
a. Menarik sumber-sumber daya.
b. Mengubah sumber-sumber daya dalam suatu penawaran pasar/produk ke dalam bentuk-bentuk program.
c. Menyalurkan penawaran-penawaran ke dalam berbagai market organisasi.
Marketing pertukaran antara barang-barang yang bernilai dengan barang-barang yang bernilai lain. Gaji ditukar dengan pelayanan mekanis dimana di setiap bagian ditawarkan suatu intensip untuk bekerja sama dengan organisasi tersebut.

Strategi pemasaran
Pelaksanaan pertukaran adalah memberikan kepuasan bagi semua bagian yang membutuhkan strategi marketing. Dua keputusan dasar yang dilibatkan dalam penentuan startegi ini adalah pasar. Perpaduan pemasaran dapat dijelaskan dalam empat P : product, price, place and promotion.
Tabel 6.3: Memadukan Pasar dan Pemasaran dalam Organisasi
Pelayanan Kemanusiaan

Harga Tempat Promosi Produk
1 2 3 4 5
Klien Biaya pelayanan
Kebutuhan komitmen
Biaya fisik permohonan bantuan Aksesbilitas lembaga (tempat parkir, rute bis)
Jangkauan luar dan kunjungan rumah
Jam kerja lembaga
Kebijakan yg diambil
Suasana kerja
Kegiatan luar
Surat kabar
Tindak lanjut
Iklan Keuntungan
Peringanan masalah
Perubahan sosial
Staf Biaya kerja
Biaya tenaga
Komitmen dengan waktu yg disesuaikan
Menerima tujuan dan filosofi lembaga
Suasana kerja
Aksesbilitas
Jam kerja
Efesiensi
Pribadi Penerimaan staf
Permohonan dana Permanfaatan profesional melalui pemberian pelayanan
Pengembangan profesional dan pribadi
Gaji
Moral
Pimpinan / Direktur Komitmen waktu
Biaya kerja
Biaya tenaga
Menerima filosofi dan tujuan lembaga
Aksesbilitas
Hiasan
Pemeliharaan biaya dan penurunan harga
Efesiensi Penerimaan dewan anggota dan dewan pengurus
Permohonan dana
Tujuan organisasi kedepan
Kekuatan/kebanggaan
Status/pengenalan
Kepuasan pribadi
Mempertemukan nilai pribadi
Sumber pendanaan Biaya pelayanan
Biaya pengeluaran tambahan
Menyetujui kebutuhan monitoring
Pengaruh reputasi Aksesbilitas
Biaya pengeluaran tambahan
Efisiensi Evaluasi penelitian/
kemampuan melakukan pelayanan
Reputasi lembaga
Penghargaan
Bebas pajak
Penyelenggaraan pelayanan sebagai kontrak
Perubahan sosial vs status quo
Kualitas profesional

Sumber : Holmes, J dan Reiken G (1980) ”Using Business Marketing
Conceps to View the Private, Non Profit, Social Service Agency” Administrasi Social Work 4 (3), pp 48-49

Konsep Permintaan
Orientasi pemasaran adalah keberanian menemukan cara-cara baru berfikir tentang memodifikasi dan menggolongkannya, tetapi kesulitan akan muncul dalam oreintasi tersebut misalnya kecenderungan dan fokus pada permintaan dari pada kebutuhan. Hal ini untuk mengkonseptualisasikan bentuk-bentuk permintaan termasuk negatif, non eksisten, laten, kebimbangan , iregular dan keseluruhan bentuk-bentuk permintaan lainnya (Kotler : 1975). Pekerja sosial harus memikirkan desain programnya dalam bentuk pertemuan normatif, demonstrasi atau memunculkan kebutuhan-kebutuhan dan permintaan-permintaan yang tidak direspon, atau ’keinginanan’ yang tidak dilegitimasi oleh teori-teori normatif.

Perminataan negatif
Genkins (1985) menawarkan sebuah kerangka yang diintegrasikan oleh dua konsep dari kebutuhan dan permintaan, serta difokuskan pada empat bentuk-bentuk permintaan yang lebih negatif. Permintaan negatif atau situasi dimana banyak semen-segmen penting dari pada suatu yang potensial tidak menyukai produk, sehingga membutuhkan pemikiran tentang program-program pekerjaan sosial. Ini bukanlah situasi hitam putih, hal yang terlihat sebagai fase-fase dan perubahan-perubahan yang ditekankan. Beberapa tahun lalu di Victoria menekankan perubahan pada keadilan sosial, nilai-nilai dan ideologi-ideologi.

Tabel 6.4: Konseptualisasi dan Menetapkan persaingan sesuai Tuntutan
Pasar dalam Perencanaan Program

a. Menetapkan, kemungkinan kekhususan, berbagai target pasar dari organisasi. Siapa penerima layanan dari organisasi?. Apa yang diidentifikasikan pasar oleh organisasi? Ada keyakinan termasuk staf, dewan direktur, lembaga pendanaan yang signifikan dan pasar merupakan sesuatu yang penting bagi keberfungsian organisasi. Contoh, lembaga mungkin mempercayakan secara berat pada sukarelawan, meskipun yang lain sangat tergantung pada sumber rujukan.
b. Secara garis besar pemasaran memadukan pasar dengan menggunakan empat pendekatan (lihat juga ulasan di awal pada kosep harga dalam kontek ini). Letakkan hasil masuk ke matrik seperti dalam gambar 6.3 dengan bekerja melewati matrik untuk tiap-tiap target. Bagaimana pasar akan mempertimbangkan tiap-tiap produk yang diterima. Apakah harga pasar sesuai dengan produk? Dari mana pasar menerima produk? Bagaimana pasar menerima informasi tentang organisasi ?
c. Memimpin untuk masing-masing pasar dengan audit pemasaran, menguji persepsi berbagai pasar akan produk lembaga, harga, promosi dan tempat aktivitas. Apakah pandangan pasar serupa dengan perpaduan pemasaran sebagai pandangan lembaga? Apakah ada salah persepsi? Bagaimana mereka dapat mengeliminasi? Apakah pelayanan sering mempertemukan kebutuhan dengan pasar? Apakah harga permintaan cocok dengan pasar masing-masing? Apakah produk sepadan dengan tuntutan harga untuk masing-masing pasar?
d. Lihat interaksi dari empat pendekatan untuk seluruh target dengan melihat kemerosotan matrik untuk masing-masing pendekatan. Apakah ada titik konflik? Apakah ada sejumlah konflik yang berlanjut? Dimana konflik serupa muncuk kedepannya? Contoh, lingkungan kerja lembaga sangat efesien dan nyaman bagi staf tetapi dingin dan kurang dalam kontak kemanusiaan dengan klien. Ini tercermin oleh penjagaan resepsionis ini yang mengelincirkan dalam banyak kantor yang menunjukkan konflik di tempat itu.
e. Lihat organisasi. Apakah objektif? Apa programnya? Apakah kekuatan dan kelemahan organisasi didasarkan pada audit pemasaran dan evaluasi pada interaksi pasar.
f. Kumpulan prioritas kepuasan dari kebutuhan pasar untuk masing-masing isu yang utama, berdasarkan analisis perpaduan pasar, titik-titik konflik dan audit organisasi. Menentukan kebutuhan pasar-pasar yang mana menerima prioritas dan eleman-elemen yang mana untuk perpaduan pasar yang banyak krusial untuk mensuplai kebutuhan kepuasan, apakah lembaga dapat merubah elemen penyediaan kepuasan.
g. Untuk memperhatikan isu, lihat pada pengaruh perubahan dalam perpaduan pasar. Jika pelayanan secara alamiah dirubah, contohnya, apakah dibutuhkan perubagan harga, lokasi dan lain-lain?
h. Melihat pengaruh-pengaruh dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam menyelaraskan dengan pasar lain. Bagaimana sebuah perubahan dalam menyeimbangkan pengaruh pasar yang satu dengan pasar lainnya ? Bagaimana perubahan klien dalam pelayanan mempengaruhi staf ? Apakah perubahan membutuhkan perubahan kebijakan yang dipertimbangkan dewan direktur, untuk meningkatkan ”harga” pelayanan ?
i. Melaksanakan suatu analisis cost-benefit yang berdasarkan susunan prioritas pada langkah no. F. Pelaksanaan perubahan-perubahan akan semakin menghasilkan suatu kepuasan yang merupakan pangsa pasar yang paling krusial pada saat mengurangi gangguan-gangguan terhadap pasar lain.
j. Karena organisasi, pasar dan lingkungan bersifat dinamis, maka proses tidak pernah komplit tetapi berlanjut.

Ini sudah bisa diberitahukan dalam program perawatan masyarakat dan perumahan. Sejumlah cara untuk menggunakan marketing konvensional termasuk program-program komunikasi, himbauan-himbauan tentang dasar-dasar nilai positif, modifikasi tentang perasaan-perasaan negatif melalui pendidikan dan menahan biaya-biaya tinggi yang tidak mampu dijangkau. Sehingga klien membutuhkan kelompok pendanaan untuk mendapatkan pelayanan-pelayanan yang tidak dapat dijangkau
Tidak ada permintaan
Tidak ada permintaan menggambarkan suatu keadaan tentang berkurangnya sesuatu yang negatif dibandingkan dengan permintaan negatif, dan menerapkan obyek-obyek yang familier tapi diterima sebagai sesuatu yang tidak ternilai. Sedang obyek-obyek yang bernilai tidak terdapat dalam pasar-pasar tertentu. Dalam bidang pelayanan manusia, para pekerja sosial sering bekerja dalam keadaan tidak ada permintaan. Seperti pencegahan kehamilan di kalangan remaja dan program penyalahgunaan NAPZA. Pemasaran secara stimulasi bertujuan mencegah permasalahan-permasalahan ini dengan melibatkan pemikiran dan ide-ide tentang kesadaran dan kepentingan masyarakat.

Permintaan tersembunyi
Permintaan tersembunyi muncul ketika sejumlah substansi tentang orang-orang yang berusaha membagun keinginan yang kuat terhadap sesuatu yang tidak ada dalam produk-produk aktual. Dan ini bisa dikatakan kebutuhan tersembunyi karena kebutuhan tersebut bisa dirasakan tetapi tidak bisa diterjemahkan sebagai suatu permintaan, baik karena orang-orang tidak sadar bahwa ada suatu proses untuk melakukannya atau karena mereka tidak percaya bahwa kebutuhan tersebut dapat terpenuhi. Oleh karena itu jangan mengambil langkah tambahan dalam menterjemahkan kebutuhan-kebutuhan sebagai suatu permintaan.

Permintaan yang membingungkan
Permintaan yang membingungkan adalah suatu keadaan dalam permintaan terhadap suatu produk tidak sebanyak daripada tingkat sebelumnya dan dimana permintaan selanjutnya tidak diharapkan adanya usaha-usaha perbaikan untuk target pasar, produk, atau usaha-usaha marketing. Banyak organisasi pekerjaan masyarakat yang dibentuk sebagai respon terhadap artikulasi dari permintaan-permintaan tertentu, yang mungkin sekarang sedang berjalan dalam suatu permintaan yang membingungkan dimana merka harus menunjukan relevansi secara terus menerus dari produk yang sedang mereka tawarkan.

Kekadaluwarsaan program
Dalam suatu observasi penting bagi para perencana program, Clifford (1971) mencatat bahwa kekadaluarsaan program terjadi karena beberapa alasan. Yang dapat disimpulkan sangat sukar bagi organisasi pelayanan manusia untuk memikirkan bahwa mereka sedang bersaing dalam pendanaan, bukan hanya dengan non HSO tapi juga dengan sektor-sektor pelayanan lain. Tetapi satu sama lain berada dalam aturan-aturan tentang pelayanan ini, sebagai contoh dalam bidang kesehatan dimana orang-orang memberikan advokasi pendekatan-pendekatan kesehatan masyarakat yang secara langsung berkompetisi dengan orang-orang yang melakukan advokasi pada tingkat lebih tinggi terhadap pelayanan-pelayanan yang berbasis institusional atau pelayanan-pelayanan yang lebih terpusat.
Program merupakan suatu produk yang perlu dikhususkan, fleksibel, dapat dicapai dan mempunyai manfaat kompetitif.
Karakteristik-karakteristik dari produk di bidang program pelayanan manusia secara eksplisit dikendalikan oleh strategi keadilan sosial dalam pemerintah negara bagian Viktoria.

Tabel 6.5 : Alasan – alasan Kekadaluwarsaan Program (yg mewajibkan program diganti)
a. Kebutuhan dan atau permintaan mungkin sudah tidak tampak.
b. Ada produk yang lebih baik, murah dan lebih menyenangkan yang mungkin dikembangkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang sama.
c. Suatu program yang kompetitif yang mungkin melalui marketing superior yang secara cepat bisa mendapatkan suatu manfaat yang sangat meyakinkan.
d. Program menjadi modern karena adanya berbagai alasan ideologi atau personal (kepala badan harus menemukan ide-ide baru).
e. Permintaan atau kebutuhan mungkin tidak nampak dalam realitas kehidupan.
f. Faktor-faktor adanya pola baru untuk kepentingan sendiri. Waktu bisa diartikan sebagai suatu faktor yang signifikan, sebagai contoh : karena sudah ada pemikiran yang lebih baru, suatu lembaga mungkin menganggap lembaganya sendiri lebih baik daripada organisasi-organisasi tradisional yang berhubungan dengan isu-isu tersebut.

Para pekerja memiliki peranan yang sangat penting dalam meninterprestasikan kebijakan lembaga dan mempraktekannya kepada klien. Supaya hal tersebut berjalan secara efektif maka mereka harus meyakini terhadap produk pelayanannya kepada klien. Lauffer (1986:31) menyatakan bahwa pendekatan pemasaran :
”……. adalah suatu yang sangat cocok dengan nilai-nilai kemasyarakatan yang ditujukan dalam pernyataan para pegawai dari HSO. Dengan menempatkan perhatian pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang terlibat, mungkin meningkatkan program pelayanan yang responsif. Sebuah program yang kaku untuk bertahan terhadap goncangan dan kondisi lingkungan yang tak menentu. Dalam kasus ini, etika yang baik menghasilkan perasaan yang baik”.

Perencanaan dan pemasaran sosial
Strategi pemasaran adalah sebuah pendekatan dengan maksud untuk mengatur aliran sumber-sumber dan produk di antara organisasi dan lingkungannya, dan pemasaran menjadi strategis ketika menerangkan kebutuhan dan kepentingan masyarakat dengan berbagai kunci dalam mengembangkan dan menyampaikan program serta pelayanan-pelayanan lembaga. Orientasi pemasaran memperlihatkan kepuasan konsumen, kapasitas penyedia pelayanan dan kepentingan para suplier sebagai kunci untuk mendefinisikan dan mencapai tujuan organisasi.
Pemasaran sosial terdiri dari sejumlah tahap dan ciri-ciri tersendiri, yang mana cocok untuk perencanaan sosial, adiministrasi dan prinsip dan praktek pengorganisasian masyarakat. Hubungan masyarakat terfokus pada pencapaian publisitas dan visibilitas untuk sebuah produk, yang merupakan elemen penting dalam praktek advokasi dan pengembangan sumber. Untuk lebih jelas tentang perencanaan sosial dan perencanaan pemasaran, lihat tabel di bawah ini.

Tabel 6.6 Perbandingan Perencanaan sosial dan perencanaan
pemasaran
Perencanaan Sosial Perencanaan Pemasaran
1. Identifikasi masalah
2. Identifikasi tujuan dan sasaran
3. Identifikasi strategi alternatif
4. Rekomendasi dan menyeleksi strategi
5. Pelaksanaan strategi
6. Evaluasi 1. Analisis situasional
2. Penilaian tujuan
3. Menggali strategi
4. Rekomendasi strategi
5. Mengembangkan kreatifitas/media
6. penilaian

Keterbatasan pendekatan pemasaran untuk perencanaan program
Meskipun pendekatan pemasaran ditawarkan sebagai sebuah alat dalam perencanaan program, dalam waktu yang sama terdapat beberapa kesulitan dalam menyusun sebuah model pemasaran sosial untuk pelayanan manusia sebagai tandingan terhadap model pemasaran konvesional.

Tabel 6.7: Keterbatasan dan Masalah dalam Pemasaran Sosial
a. Permasalahan yang berhubungan dengan analisis pasar.
Kesulitan untuk memeproleh konsumen dan menganalisis data.
b. Permasalahan pembagian pasar
Kekurangan data yang reliabel sering kali menyulitkan untuk membagi pasar secara akurat.
c. Permasalahan strategi produk
Cenderung kurang fleksibel dalam menawarkan produk
d. Permasalahan strategi harga
Seringkali sulit untuk mengukur biaya sosial dan kurangnya kontrol terhadap biaya-biaya sosial tersebut.
e. Permasalahan strategi komunikasi
Pemasaran sosial harus mengkomunikasikan informasi-informasi dalam penyampaian pesannya
f. Desain organisasi dan masalah perencanaan
Para pemasar sosial biasanya beroperasi dalam situasi dimana masalah pemasaran sangat kurang dimengerti. Pemasar sosial harus beroperasi di dalam lingkungan yang sesuai dengan perencanaan dan dinyatakan dalam bentuk pengarsipan.
g. Permasalahan evaluasi
Para pemasar sosial seringkali mendapat kesulitan dalam mengidentifikasikan suatu pengukuran yang efektif, sulit untuk mengestimasi kontribusi program pemasarannya agar dapat meraih keuntungan dari tujuan-tujuan tertentu.

4. Perencanaan Program dalam Konteks Interorganisasi
Seorang manager pelayanan manusia harus mampu menjalankan program perencanaan dalam konteks inter organisasi. Ini berarti segala sesuatu yang menyangkut pembentukan jaringan merupakan bagian dari kesadaran organisasi yang lebih formal, mengkolaborasi hubungan dengan program-program lembaga lain serta mengembangkan program yang terintegrasi.
Perlunya pelayanan yang terintegrasi terutama pada basis regional yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Misalnya pelayanan terhadap orang-orang jompo yang disertai dengan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan.
Tetapi sistem koordionasi antar lembaga sudah barang tentu akan banyak menghadapi konflik, karena :
a. Perbedaan pandangan tiap oragnisasi dalam skema intervensi terutama jika pelayanan diberikan secara long therm.
b. Perbedaan nilai tiap organisasi.
c. Perbedaan opini atas desain dan perluasan pelayanan.
d. Perbedaan ukuran pelayanan yang efektif.
Dalam program integrasi antar pelayanan kesehatan dan kesejahteraan ada perbedaan yang cukup besar yaitu pelayanan medis dan non medis dan di antara pelayanan medis tradisional dan non tradisional.
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh para perencana program adalah dalam mendesain provisi pelayanan dengan komplemen-komplemen yang diminimalis yang menimbulkan konflik antar lembaga.
Terdapat keuntungannya untuk tidak mengeliminasi konflik secara keseluruhan karena dapat merupakan kekuatan tiap-tiap komponen sistem antar lembaga, dan untuk melihat desain pelayanan selanjutnya serta isu-isunya.

Tabel 6.8: Keuntungan Perencanaan Program yang Terintegrasi
1. Memperbaiki keefektifan staf. Koordinasi antar lembaga dapat meningkatkan sumber-sumber yang memadai bagi administrasi inovasi dalam sistem tersebut. Hal ini dapat mengantarkan kepada program staf baru, keterampilan baru dan ilmu pengetahuan baru sehingga integrasi ini dapat menghasilkan suatu program baru dengan cara-cara pelayanan terpadu yang lebih efektif.
2. Memperbaiki image publik. Persepsi para pengguna pelayanan akan lebih baik dan lebih kreatif melalui pengekpresian yang efektif.
3. Memperbaiki aksessibilitas klien. Pengguna pelayanan dapat memilih sistem pelayanan sesuai dengan pilihannya dengan penawaran desain pelayanan yang luas. Karena letak geografis, seseorang sering melakukan dan memilih sistem pelayanan sendiri, hal ini karena jangkauan pelayanan sangat menyulitkan , juga karena kekurangannya pemahaman mereka terhadap sistem sumber pelayanan.
4. Mengurangi pelayanan pragmentasi. Pelayanan diasumsikan bahwa orang yang banyak membutuhkan pelayanan harus dilayani secara holistik dan tidak boleh terputus-putus, dalam program yang terpisah.
5. Aspek ini memiliki dua dimensi yang memungkinkan, apakah non fragmentasi maupun proses perubahan sepanjang waktu sampai mengalami kemajuan logis sebagai respon penyembuhan.
6. Efesiensi yang besar. Koordinasi antara lembaga dapat menyebabkan pelayanan lebih spesifik dengan harga yang sama, bahkan jika pelayanan diberikan oleh suatu organisasi dengan lebih baik dan lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan.

Pendekatan Program Pelayanan
Austin, 1983 telah membedakan pelayanan melalui tiga tipe program pelayanan atau pendekatan, yaitu :
a. Model pasar
b. Model jaringan
c. Model administrasi publik
Model-model ini dapat dipergunakan sebagai suatu cara berfikir tentang desain pelayanan sistem penyebaran yang dapat diaplikasikan pada tingkat regional maupun sub regional.
Model pasar menitik beratkan pada peranan klien sebagai koordinator primer terhadap pelayanan dan berusaha meningkatkan kebebasan memilih dengan provisi finansial dan bantuan terhadap klien yang lain. Telah diusahakan beberapa bentuk pengujian pasar sebagai suatu pendekatan untuk model ini dan diperoleh hasil yang menunjukan pelayanan yang relevan.

Pengembangan Hubungan Antar Instansi/kemitraan
Mengintegrasikan hubungan-hubungan antar dua atau lebih organisasi. Faktor-faktor yang penting untuk efektifitas hubungan kerja meliputi:
- Kemampuan staf menjelaskan pandangan masing-masing lembaga atau pelayanan yang diberikan
- Persepsi ketersediaan sumber-sumber lembaga
- Menjelaskan aktivitas masing-masing lembaga
- Komunikasi oleh masing-masing lembaga
Keuntungan integrasi dua kali lipat. Pada individu klien, integrasi menyediakan pelayaan lebih di beberapa tempat. Pada level kebijakan dan perencanaan program, integrasi artinya organisasi dapat bekerja untuk saling melengkapi daripada kompetisi.

Tabel 6.9: Hubungan Integrasi

Hubungan administratif
1. Fiskal
• Anggaran bersama : sebuah proses dimana integrator duduk bersama seluruh penyedia pelayanan atau secara individu untuk mengembangkan anggaran.
• Dana bersama : Sebuah proses diamana dua atau lebih penyedia pelayanan memberikan dana untuk mendukung pelayanan-pelayanan.
• Transfer dana : Dalam hal ini dana awal yang digunakan untuk satu pelayanan akan dipindahkan sehingga dapat digunakan oleh pelayanan-pelayanan yang lain.
• Pembelian pelayanan : Kesepakatan formal tentang yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan termasuk kontrak tertulis antara ingrator dan penyedia pelayanan untuk memperoleh pelayanan.

2. Praktek-praktek personalia
• Administrasi gabungan personalia : Ketetapan utama dari beberapa atau seluruhnya antara lain menggaji, memecat, mempromosikan, menempatkan, mengelompokan, melatih, dan lain-lain.
• Menggunakan staf bersama : Dalam kasus dimana dua agensi yang berbeda memberikan pelayanan dengan menggunakan staf yang sama.
• Tranfer staf : Dalam kasus dimana seorang pekerja digaji oleh sebuah agensi tetapi ia berada di bawah pengawasan administratif agensi lain.
• Staff Outstationing : Penempatan dari penyedia pelayanan dalam fasilitas penyedia pelayanan yang lain.
• Colocation : Penempatan staf oleh penyedia pelayanan dalam fasilitas yang biasa.

3. Perencanaan dan Pemograman
• Perencanaan bersama : Keketapan bersama dari total sistem kebutuhan pelayanan dan prioritas selama proses perencanaan.
• Pengembangan mengoperasikan bersama kebijakan-kebijakan : proses terstruktur dimana kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, aturan-aturan dan administrasi pemerintah ditetapkan secara bersama.
• Program bersama : Pengembangan bersama dari solusi-solusi yang terprogram untuk mengidentifikasikan masalah-masalah dalam relasi keberdaan sumber daya.
• Berbagai informasi : Menukar informasi tentang sumber-sumber daya, prosedur dan penerimaan legal (bukan klien individu) antara proyek integrator dan berbagai penyedia pelayanan.

4. Pendukung administrasi pelayanan
• Membuat catatan : Mengumpulkan, menceritakan dan menyebarkan inforasi-informasi tentang klien, termasuk standarisasi dan atau sentralisasi informasi-informasi kasus, serta prosedur-prosedur untuk menjalankan informasi.
• Manajemen bantuan : Melayani bantuan-bantuan dalam bentuk uang.
• Pelayanan pendukung utama : Tergabung atau tersentralisasikannya ketentuan pelayanan-pelayanan misalnya memerikasa, membeli, merubah material dan perlengkapan, serta pelayanan-pelayanan konsultasi.
• Hubungan-hubungan pelayanan langsung

Hubungan pelayanan langsung
1. Pelayanan inti
• Pencapaian : Perekrutan klien secara sistematik
• Intake : Proses (termasuk ketetapan-ketetapan yang layak) menghasilkan izin dari klien untuk mendapatkan pelaynan langsung.
• Diagnosa : Pengungkapan kebutuhan-kebutuhan pelayanan bagi klien.
• Rujukan : Proses dimana klien dihubungkan pada penyedia pelkayanan yang lain.
• Bimbingan lanjut : Proses yang digunakan untuk menetapkan bahwa klien meneroma pelayanan-pelayanan pada lembaga tempat mereka dirujuk, secara umum membantu mereka untuk menegosiasikan sistem pemberi pelayanan.

2. Bentuk-bentuk koordinasi kasus
• Konferensi kasus : Pertemuan antara integrator-integrator dan staf lembaga yang menyediakan pelayanan untuk membantu keluarga dalam mendiskusikan tujuan baik secara umum maupun spesifik, yang mungkin dapat menentukan tindakan dan memberikan tanggungjawab pada agensi untuk mengimplementasikan solusi-solusi.
• Koordinasi kasus : Anggota staf bertangungjawab untuk menjamin ketentuan-ketentuan pelayanan dengan penyedia yang cukup banyak untuk memberikannya kepada klien.
• Team kasus : Merencanakan / menyusun jumlah anggota staf dan juga menunjukan perbedaan disiplin atau kerja dengan anggota-anggota yang berbeda dalam lingkungan keluarga, bekerja bersama untuk menghubungkan wilayah-wilayah pelayanan dari penyedia pelayanan bagi klien (yang membedakan antara konferensi kasus team kasus adalah bentuk ketetapan termasuk sistematika inateraksi antara anggota-anggota dengan team

Sumber: Gans,S. And Horton, G.(1975) Integration of Human Services,
Praeger, New York.

Salah satu masalah yang dialami oleh Gans dan Horton’s (1975) dalam menghubungkan kerangka-kerangka tersebut adalah kebutuhan agar terlihat sebagai tipe yang ideal. Administratif dan pelayanan langsung harus dapat diletakan pada satu program. Dimana sasaran dapat dilayani oleh kedua agensi yang berbeda, masalah-masalah diintegrasikan sebagai hal yang penting. Salah satu contoh adalah ”dual – track” sistem perlindungan anak / kekerasan terhadap anak di Victoria. Dua buah agensi bergabung untuk memberikan pelayanan pada sasaran yang sama dan sering kali saling bertukar cacatan yang berkaitan dengan masalah individu. Saat victorian Children’s Protectioon Society mengasesmen dan memperkuat peranan-peranan klien, maka saat diterminasi pelayanan selanjutnya akan dilakukan oleh Community Services Victoria (CSV).

III. KESIMPULAN
Perencanaan sebagai salah satu fungsi dari managemen memegang peranan penting dalam keberlangsungan organisasi. Human Service Organization (HSO) sebagai suatu organisasi banyak ditentukan efektiftas dan produktivitas dalam pelayanannya oleh perencanaan program.
Terdapat tiga faktor penting dalam penyusunan perencanaan program, antara lain :
1. Isu-isu yang muncul pada tahap analisis perencanaan yang berkaitan dengan pengukuran, tujuan, desain program, definisi masalah, dan questioner perencanaan program.
2. Pemasaran sebagai alat perencanaan program, yang berisikan tentang pekerjaan social dan pemasaran, strategi pemasaran, konsep permintaan, permintan negatif, tidak ada permintaan, permintaan tersembunyi, permintaan membingungkan, kadaluwarsa program, serta pemasaran dan perancanaan sosial.
3. Perencanaan program dalam konteks interorganisasi, yang berisikan tentang pendekatan pelayanan program, dan pembangunan hubungan antar instansi
Namur perencanaan program bukan saja seperti pembahasan di atas, terdapat satu aspek penting yaitu peranan ahli dalam perencanaan program sangat berpengaruh akan terciptanya suatu perencanaan yang baik.

ISI :
1. PENGANTAR
2. ISU-ISU
3. PERENCAAN PROGRAM (MARKETING, PERIMTAAN, KADALUARSA PROGRAM)
4. PERENCANAAN PROGRAM DALAM KEMITRAAN

DAFTAR PUSTAKA

Donovan Frances, Jackson Alunc, Managing Human Service Organisations, Frentice Hall, Newyork, London, Toronto, Sydney, Tokyo, Singapore, 1991

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s