Sekilas Tentang Gangguan Anxietas Menyeluruh

GANGGUAN KECEMASAN MENYELURUH
GENERALIZED ANXIETY DISORDER ( GAD)

Kecemasan adalah gangguan alam perasaan (affectife) yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality testing Ability/ RTA) kepribadian masih tetap utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/splitting of personality), perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal.
Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan antara lain sebagai berikut :
1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung.
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang .
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
5. Mengganggu konsentrasi dan daya ingat.
6. Keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran mendenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, sakit kepala dan sebagainya.
Gangguan Kecemasan Menyeluruh telah digunakan dalam penyakit kejiwaan dan samara-samar digunakan untuk menggambarkan kegelisahan yang berlebihan yang dialami dalam jangka waktu yang panjang tanpa ditandai dengan ketakutan.
Individu yang menderita gangguan anxietas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder {GAD}) memiliki ciri-ciri :
terus menerus merasa cemas sering kali tentang hal-hal kecil.
memiliki kekhawatiran kronis.
menghabiskan sangat banyak waktu untuk mengkhawatirkan banyak hal
dan menganggap kekhawatiran mereka sebagai sesuatu yang tidak dapat dikontrol (Ruscio,Borkovek, & Rucio 2001).
kesulitan berkonsentrasi
sangat mudah lelah
ketidaksabaran
mudah tersinggung dan ketegangan otot yang amat sangat.
Kekhawatiran yang paling sering dirasakan oleh para pasien GAD adalah kesehatan mereka
masalah sehari-hari,seperti terlambat menghadiri pertemuan atau terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan .
Diagnosa GAD tidak ditegakan jika kekhawatiran berkaitan dengan masalah-masalah yang dipicu oleh gangguan Aksis I lain, contohnya kekhawatiran terhadap kontaminasi yang dialami oleh penderita gannguan obsesif-komplusif. Kekhawatiran yang bersifat tidak dapat dikendalikan pada GAD dikonfirmasi oleh self-report dan data laboraturium ( Becker dkk, 1998:Craske dkk,1989).
Walaupun para pasien yang menderita gangguan anxietas menyeluruh umumnya tidak mengupayakan penanganan psikologis, prevalensi sepanjang hidup gangguan ini cukup tinggi,gangguan ini terjadi pada sekitar 5 persen dari populasi umum ( Wittchen 7 Hoyer,2001).
GAD umumnya mulai dialami pada pertengahan masa remaja, walaupun banyak orang yang menderita gannguan anxietas menyeluruh menuturkan bahwa mereka mengalami masalah tersebut sepanjang hidupnya (Barlow dkk,1986).
Berbagai peristiwa penuh stress dalam hidup tampaknya cukup berperan terhadap terjadinya gangguan ini (Blazer, Hughes, & George,1987).
Gangguan ini terjadi dua kali lebih banyak pada perempuan dibanding pada laki-laki,dan memiliki tingkat komorbiditas tinggi dengan gangguan anxietas lain dan dengan gangguan mood (Brown dkk,2001).
Sulit untuk berhasil menangani gangguan anxietas menyeluruh. Dalam suatu studi tindak lanjut selama lima tahun ,hanya 18 persen pasien yang tidak lagi mengalami simtom-simtom gangguan tersebut (Woodman dkk,1999) walaupun angka tersebut memiliki kemungkinan meningkat seiring dengan lebih banyak penggunaan terapi kognitif-behavioral yang dibahas di bawah ini oleh para ahli klinis.
Secara klinis selain gejala cemas yang biasa, disertai dengan kecemasan yang menyeluruh dan menetap ( paling sedikit berlangsung serlama1 bulan ) dengan manifestasi 3 dari 4 kategori gejala berikut ini :
1. Ketegangan motorik/alat gerak :
a. gemetar
b. tegang
c. nyeri otot
d. letih
e. tidak dapat santai
f. kelopak mata bergetar
g.kening mengkerut
h.muka tegang
i. gelisah
j. tidak dapat diam
k. mudah kaget
2. Hiperaktivitas saraf autonom (simpatis/parasimpatis);
a. berkeringat berlebihan
b. jantung berdebar-debar
c. rasa dingin
d. telapak tangan/kaki basah
e. mulut kering
f. pusing
g. kepala terasa ringan
h. kesemutan
i. rasa mual
j. rasa aliran panas atau dingain
k. sering buang air seni
l. diare
m. rasa tidak enak di ulu hati
n. kerongkongan tersumbat
o. muka merah atau pucat
p. denyut nadi dan nafas yang cepat waktu istirahat
3. Rasa khawatir berlebihan tentang hal-hal yang akan datang ( apprehensive expectation):
a. cemas, khawatir. Takut
b. berpikir berulang (rumination)
c. membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya atau orang lain
4. Kewaspadaan berlebihan:
a.Mengamati lingkungan secara berlebihansehingga mengakibatkan perhatian mudah
teralih
b. sukar konsentrasi
c. sukar tidur
d. merasa ngeri
e. mudah tersinggung
f. tidak sabar

Pandangan psikoanalisis.
sumber kecemasanmenyeluruh adalah konflik yang tidak disadari antara ego dan impuls-impluls id.
Impuls-impuls tersebut yang biasanya bersifat seksual atau agresif, berusaha untuk mengekspresikan diri,namun ego tidak membiarkannya karena tanpa disadari ia merasa takut terhadap hukuman yang akan diterima.
Dengan kata lain,tidak ada cara untuk menghindari kecemasan, jika seseorang meninggal id ia tidak lagi hidup. Orang yang menderita gangguan anxietas menyeluruh tidak mengembangkan tipe pertahanan tersebut sehingga selalu merasa cemas.

Pandangan Kognitif-Behavioral.
Pemikiran utama teori kognitif-behavoiral tentang GAD adalah gangguan tersebut disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang .
Orang-orang yang menderita GAD sering kali salah mempersepsi kejadian-kejadian biasa,seperti menyebrang jalan,sebagai hal mengancam,dan kognisi mereka terfokus pada antisipasi sebagai bencana pada masa mendatang (Beck dkk,1987, Ingram & Kendall,1987;Kendall & Ingram 1989).
Terlebih lagi pasien GAD lebih terpicu untuk menginterprestasi stimuli yang tidak jelas sebagai sesuatu yang mengancam dan untuk menilai berbagai kejadian yang mengancam lebih mungkin terjadi pada mereka (Butler & Mathews,1983).
Sensitifitas pasien GAD yang sangat tinggi terhadap stimuli yang mengancam juga muncul walaupun bila stimuli tersebut tidak dapat diterima secara sadar (Bradley dkk ,1995).
Borkovec dan para kolegannya (a.I.,Borkovec & Newman, 1998; Borkovec.Roemer & Kinyon ,1995). Simptom utama GAD yaitu kekhawatiran. Berdasarkan perspektif hukuman seseorang mungkin bertanya-tanya mengapa ada orang yang sering merasa khawatir karena kekhawatiran di anggap sebagai kondisi negative yang seharusnya tidak mendorong pengulangannya .
kekhawatiran sebenarnya merupakan penguatan negative;ia mengalihkan pasien dari berbagai emosi negative sehingga diperkuat oleh hasil yang positif bagi individu terkait.
Kunci untuk memahami posisi ini adalah menyadari bahwa kekhawatiran tidak menciptakan banyak ketegangan emosional.

Prespektif Biologis.
Beberapa studi mengindikasikan bahwa GAD dapat memiliki komponen genetic.
GAD sering ditemukan pada orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengan penderita gangguan ini dan terdapat kesesuaian yang lebih tinggi diantara kembar MZ dibamnding kembar DZ. Namun tingkat komponen genetic ini tampak rendah (Hettema.M. Neale, & Kendler,2000)
Model neurobiologist yang paling umum untuk gangguan anxietas menyeluruh dilandasi oleh pengetahuan mengenai kerja benzodiazepine, suatu kelompok obat-obatan yang sering kali efektif untuk menangani kecemasan. Para peneliti menemukan suatu reseptor dalam otak untuk benzoiazepane yang berhubungan dengan neurotransmitter penghambat yaitu asam gamma-aminobutyric (GABA).

Terapi Gangguan Anxietas menyeluruh
Seperti telah disebutkan, GAD sulit di tangani dengan berhasil. Terapi mencakup pendekatan psikoanalisis,behavioral,kognitif dan biologis.

Pendekatan Psikoanalisis.
Satu studi tanpa control menggunakan intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada konflok interpersonal dalam kehidupan masa yang lalu dan masa kini pasien dan mendorong cara yang lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang lain pada saat ini ,sama dengan para terapis kognitif behavioral mendorong menyelesaikan masalah sosial . Hasil-hasil intervensi ini cukup menggembirakan dan pantas untuk diteliti lebih dalam dengan kontrol eksperimental yang lebih baik, seperti kelompok control tanpa penanganan dan kelompok pembanding (Crist-Christoph dkk,1996)

Pendekatan Behavioral.
Jika terapis menganggap kecemasan sebagai serangkaian respon terhadap berbagai situasi yang dapat diidentifikasi, apa yang tampak sebagai kecemasan yang bebas mengalir dapat diformulasi ulang pada satu fobia atau lebih atau kecemasan berisyarat .
Desensitisasi sistematis menjadi kemungkinan terapi.
Training relaksasi intensif yaitu belajar untuk rileks ketika mulai merasa tegang seiring mereka menjalani hidup akan mencegah kecemasan berkembang tanpa kendali
Para pasien diajarkan untuk melemaskan ketegangan tingkat rendah. Merespons kecemasan yang baru muncul dengan rileksasi daripada dengan kepanikan

Pendekatan Kognitif.
Jika suatu perasaan tidak berdaya tampaknya mendasari kecemasan pervasif, terapis berorientasi kognitif akan membantu klien menguasai keterampilan apapun yang dapat menumbuhkan perasaan kompeten.
Keterampilan tersebut termasuk asertivitas, dapat diajarkan melalui instruksi verbal, m0deling,atau pembentukan operant dan sangat mungkin kombinasi secara hati-hati dari ketiganya ( Goldfried & Davison, 1994).
.Pendekatan Borkovec (a.I. Borkovec & Castello, 1993)mengombinasikan berbagai elemen Wolpe dan Beck, yaitu mendorong pemaparan bertingkat terhadap berbagai situasi yang menyebabkan kekhawatiran seiring pasien mencoba menerapkan keterampilan relaksasi dan analisis logis terhadap berbegai hal ( a.I. , sebagaian besar kemungkinan terjadi sesuatu yang benar-benar mengerikan?)
Secara kontras, Barlow dan rekan-rekannya lebih menyukai pemaparan dalam waktu lama dan berlebihan terhadap sumber masalah kecemasan berlebihan seseorang ( Brown, O’Leary & Borwn,2001).. Diasumsikan bahwa dua proses yang berlangsung dibawah ini mengurangi kekhawatiran pasien .
1. Karena pasien tetap berada dalan situasi yang menakutkan, kecemasan diyakini akan terhapus.
2. Dengan mempertimbangkan kemungkinan ketakutan terburuk yang dapat terbayangkan pasien mengubah reaksi kognitifnya terhadap keterlambatan pasangannya.
Dengan kata lain, pasien belajar untuk memikirkan berbagai sebab yang kurang menakutkan dari suatu kejadian tertentu. Strategi Barlow ini mengingatkan pada teknik melebih-lebihkan yang dikembangkan bertahun-tahun oleh Arnold Lazarus (1991).

Peranan Pekerja Sosial
Kontribusi Pekerja Sosial untuk meneliti dan praktek pada area kesehatan mental sangat dibutuhkan . Arus pendekatan untuk treatmen GAD adalah individualistik, menggunakan dasar terapi kognitif behavioral dan medis. Integrasi pengetahuan pekerja sosial tentang system keluarga, kelompok rentan dan intervensi lingkungan sangat mendukung.

Metode Asesmen
Interview Klinis Terstruktur
Beberapa klinik menggunakan secara penuh instrument asesmen yang ada khusus untuk penyakit kecemasan yaitu Interview Terstruktur yang disebut Anxiety Disorders Interview Schedule – IV ( ADIS IV ).
ADIS telah mengalami beberpa kali perubahan, dengan pertanyaan yang dibetulkan untuk menggambarkan criteria diagnosa untuk berbagai penyakit kegelisahan dalam DSM.
Dalam ADIS IV ada seksi yang terpisah yang membolehkan asesmen pada masalah-masalah yang menyertai seperti penyakit depresi utama, penyakit dysthimik, mania, hypochordisis, penyakit sulit tidur, campuran kecemasan dan depresi, penyalahgunaan alkohol, ketergantungan alkohol, penyalahgunaan zat. Memberikan komorbiditi yang tinggi antara GAD dan AXIS I yang lain yaitu perasaan dan dan penyakit kecemasan.

Kuesioner
Skala Hamilton Anxiety and Depression adalah sangat potensial digunakan sepreti Beck Anxiety Inventori. Tidak khusus untuk GAD tetapi sering digunakan dalam hasil studi dan beberapa ukuran yang umum pada kecemasan dan depresi. Salah satu yang speisifik untuk GAD adalah Penn State Woory Questionnaire ( PSWQ). PSWQ sangat sukses membedakan GAD dari penyakit kecemasan lainnya.

Self Monitoring
Self Monitoring adalah bermanfaat dan metode asesmen yang tepat untuk GAD, sebab tekniknya dapat menyediakan Tailor made Asesmen pada setiap wilayah yang dimiliki klien pada perhatian atau sangat sulit.
Self Monitoring adalah khas digunakan selama periode baseline dan pada keseluruhan periode treatmen.

Alat Ukur Kecemasan
Untuk mengetahui sejauhmana derajat kecemasan seseorang, dapat digunakan alat ukur yang disebut Hamilton Rating Scale for Anxiety ( HRS-A), yang terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik.
Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka ( score ) antara 0 – 4, yang artinya adalah :
Nilai 0 = tidak ada gejala (keluhan)
1 = gejala ringan
2 = gejala sedang
3 = gejala berat
4 = gejala berat sekali.

Masing-masing nilai angka dari ke 14 kelompok tersebut dijumlahkan dan dapat diketahui derajat kecemasan seseorang sebagai berikut :
Total Nilai : kurang dari 14 = tidak ada kecemasan
14 – 20 = kecemasan ringan
21 – 27 = kecemasan sedang
28 – 41 = kecemasan berat
42 – 56 = kecemasan berat sekali

HAL – HAL YANG DINILAI DALAM HRS-A sebagai berikut :

Gejala Kecemasan Nilai Angka ( Score )
01. Perasaan Cemas (ansietas) 0 1 2 3 4
 Cemas
 Firasat buruk
 Takut akan fikiran sendiri
 Mudah tersinggung
02. Ketegangan 0 1 2 3 4
 Merasa tegang
 Lesu
 Tidak bisa istirahat tenang
 Mudah terkejut
 Mudah menangis
 Gemetar
 Gelisah
03. Ketakutan 0 1 2 3 4
 Pada gelap
 Pada orang asing
 Ditinggal sendiri
 Pada binatang besar
 Pada keramaian lalulintas
 Pada kerumunan orang banyak
04. Gangguan tidur 0 1 2 3 4
 Sukar masuk tidur
 Terbangun malam hari
 Tidur tidak nyenyak
 Bangun dengan lesu
 Banyak mimpi-mimpi
 Mimpi buruk
 Mimpi menakutkan

05. Gangguan kecerdasan 0 1 2 3 4
 Sukar konsentrasi
 Daya ingat menurun
 Daya ingat buruk
06. Perasaan depresi (murung) 0 1 2 3 4
 Hilangnya minat
 Berkurangnya kesenangan pada hobi
 Sedih
 Bangun dini hari
 Perasaan berubah-ubah sepanjang hari
07. Gejala somatic/fisik (otot) 0 1 2 3 4
 Sakit dan nyeri otot-otot
 Kaku
 Kedutan otot
 Gigi gemerutuk
 Suara tidak stabil
08. Gejala somatic/fisik (sensorik) 0 1 2 3 4
 Tinnitus (telinga berdenging)
 Penglihatan kabur
 Muka merah atau pucat
 Merasa lemas
 Perasaan ditusuk-tusuk
09. Gejala kardiovaskuler ( jantung dan 0 1 2 3 4
Pembuluh darah )
 Takikardia ( denyut jantung cepat)
 Berdebar-debar
 Nyeri di dada
 Denyut nadi mengeras
 Rasa lesu/lemas seperti mau pingsan
 Detak jantung menghilang
( berhenti sekejap )

10. Gejala respiratori ( pernafasan) 0 1 2 3 4
 Rasa tertekan atau sempit di dada
 Rasa tercekik
 Sering menarik nafas
 Napas pendek/sesak
11. Gejala gastrointestinal (pencernaan ) 0 1 2 3 4
 Sulit menelan
 Perut melilit
 Gangguan pencernaan
 Nyeri sebelum dan sesudah makan
 Perasaan terbakar diperut
 Rasa penuh atau kembung
 Mual
 Muntah
 Buang air besar lembek
 Sukar buang air besar (konstipasi)
 Kehilangan berat badan
12. Gejala urogenital ( perkemihan dan kelamin) 0 1 2 3 4
 Sering buang air kecil
 Tidak dapat menahan air seni
 Tidak datang bulan (tidak ada haid)
 Darah haid berlebihan
 Darah haid amat sedikit
 Masa hadi berkepanjangan
 Masa haid amat pendek
 Haid beberapa kali dalam sebulan
 Menjadi dingin (frigid)
 Ejakulasi dini
 Ereksi ilmiah
 Ereksi hilang
 Impotensi
13. Gejala autonom 0 1 2 3 4
 Mulut kering
 Muka merah
 Mudah berkeringat
 Kepala pusing
 Kepala terasa berat
 Kepala terasa sakit
 Bulu-bulu berdiri
14. Tingkah laku (sikap) pada wawancara 0 1 2 3 4
 Gelisah
 Tidak tenang
 Jari gemetar
 Kerut kening
 Muka tegang
 Otot tegang / mengeras
 Nafas pendek dan cepat
 Muka merah
Jumlah Nilai Angka ( Total Score ) =

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s