Sekilas Tentang Teori Napza

Teori –Teori Penyalahgunaan Napza

Masalah penyalahgunaan NAPZA merupakan masalah kompleks, baik ditinjau dari segi timbulnya permasalahan maupun dampak dari permasalahan tersebut. Mengenai dampak permasalahan penyalahgunaan NAPZA telah banyak dikemukakan pada pembahasan sebelumnya yang berkaitan dengan bahaya akibat penyalahgunaan NAPZA. Berikut ini akan diuraikan mengenai perspektif teoritis dan beberapa hasil penelitian yang membahas tentang timbulnya permasalahan penyalahgunaan NAPZA.
Marlatt dkk (dalam Heaven 1996) mengemukakan bahwa perspektif teoritis yang mendasari penelitian tentang penyalahgunaan NAPZA secara garis besar dapat dibagi dalam dua kategori utama, yaitu ; (1) perspektif predisposisi genetis dan (2) perspektif prediktor psikososial, (3) perspektif psikodinamika (4) perspektif sosiokultural, (5) perspektif belajar (social learning) dan (6) perpspektif kognitif Berikut ini akan diuraikan masing-masing perspektif tersebut.
1. Perspektif predisposisi genetis
Perspektif predisposisi genetis mendasarkan pada argumen bahwa para penyalahguna NAPZA memimiliki predisposisi genetis untuk menjadi penyalahguna NAPZA. Penelitian-penelitian terhadap anak kembar, penelitian dengan melibatkan saudara kandung serta penelitian pada anak-anak yang diadopsi dilakukan untuk memeriksa perbedaan pengaruh genetis pada penyalahguna NAPZA ( Adityanjee dan Murray dalam Heaven, 1996).
Suatu review terhadap hasil-hasil penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960-an sampai dengan tahun 1987 menyimpulkan bahwa indeks untuk alkoholisme pada anak-anak kembar identik (monozigotik) jauh lebih tinggi dari pada anak-anak kembar fratenal (digizotik). Anak-anak kembar identik yang diketahui menjadi penyalahguna NAPZA menunjukkan bahwa saudara kandung kembarnyapun juga penyalahguna NAPZA (Brook, dkk, 1996).
Beberapa penelitian yang mendasarkan pada perspektif predisposisi genetis antara lain dilakukan oleh Blumm, dkk (1996). Penelitian dilakukan pada 40 orang pasien rawat jaga klinik psikiatri untuk mengetahui pengaruh gen terhadap perilaku penyalahgunaan NAPZA. Hasil penelitian membuktikan bahwa peningkatan penyalahgunaan NAPZA berhubungan secara signifikan dengan adanya klasifikasi gen allelic A.1. hal ini menunjukkan bahwa adanya gen alel Taq 1.A1 dari gen reseptor dopamine (DRD2) menyebabkan peningkatan resiko perilaku penyalahgunaan dan ketagihan NAPZA. Penelitian yang dilakukan oleh Chasin, dkk (1996) menyelidiki pengaruh orang tua yang alkoholik terhadap penyalahgunaan NAPZA pada remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan ayah alkoholik lebih cenderung menjadi penyalahguna NAPZA dari pada remaja yang ayahnya bukan alkoholik.
Analisis yang dapat dilakukan berkaitan dengan temuan hasil-hasil penelitian yang telah dikemukakan adalah bahwa menurut Sarason dan Sarason (19993), alkohol dan zat psikoaktif mempengaruhi setiap sistem di dalam tubuh manusia, terutama pada sistem syaraf pusat yang dapat mempengaruhi pikiran, emosi dan perilaku manusia. Pengaruh alkohol dan zat psikoaktif mempengaruhi seluruh proses kimiawi dan elektris pada berjuta-juta sel syaraf secara cepat. Sejumlah sistem ini dapat dipengaruhi secara predisposisi yang diwariskan terhadap alkoholism. Alkohol dapat mempengaruhi sejumlah proses yang terlibat dalam fungsi sel syaraf, dan jika di sana terdapat variasi yang diwariskan dalam proses tersebut, hal tersebut dapat menghasilkan kerentanan baik sebagai kerentanan neurokimiawi maupun resistensi pada alkohol. Individu yang memiliki predisposisi terhadap alkohol memiliki membran sel-sel syaraf yang lebih sensitif terhadap efek perubahan permeabilitas (permaebility-altering) terhadap alkohol, yaitu mempengaruhi gerakan ion-ion sodium dan potasium dan perambatan impuls-impuls syaraf.
Berdasarkan uraian tentang perspektif predisposisi genetis beserta hasil-hasil penelitian yang telah dikemukakan dapat dinayatakan bahwa faktor genetis yang diwariskan dapat mempengaruhi timbulnya penyalahgunaan NAPZA, namun pengaruh faktor genetis ini tidak selalu manifes dalam perilaku penyalahgunaan NAPZA. Menurut Rosenthal (1990) semua perilaku manusia merupakan hasil interaksi antara faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor genetis akan mempengaruhi DNA ( Deoxyribose Nucleic Acid) gen-gen otak dalam mengkode protein yang penting dalam perkembangan, pemeliharaan dan regulasi sirkuit-sirkuit syaraf, sementara faktor lingkungan banyak berperan dalam manifestasi ekspresi gen baik berupa kondisi fisik, psikis dan perilaku individu (behavior).

2. Perspektif prediktor psikososial
Perspektif prediktor psikososial mendasarkan pada argumen bahwa ada sejumlah faktor psikososial yang berpengaruh dalam penyalahgunaan NAPZA; faktor tersebut adalah penyalahgunaan NAPZA oleh teman sebaya dan orang tua, orang tua yang sosiopat, harga diri rendah, stres dan hambatan konformitas sosial ( Gren dalam Heaven, 1996). Berikut ini akan digambarkan beberapa penelitian terhadap penyalahgunaan NAPZA pada remaja.
Penelitian yang dilakukan oleh Oetting dan Beauvais (1987) terhadap 415 remaja dari komunitas midsize western menunjukkan hasil bahwa faktor-faktor sosial yang berpengaruh secara langsung terhadap keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan NAPZA adalah kelompok teman sebaya yang kecil, dan kelompok teman sebaya yang kohesif yang membentuk sejumlah perilaku termasuk dalam penyalahgunaan NAPZA. Sementara faktor-faktor sosialisasi yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap keterlibatan remaja dalam penyalahgunaan NAPZA adalah identifikasi religiusitas, dan penyesuaian diri di sekolah.
Perspektif psikososial tentang penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA secara lebih rinci dijelaskan berdasarkan perspektif yang dikemukakan oleh Nevid, dkk (1997). Selain perspektif biologis sebagaimana dikemukakan oleh Heaven (1996) yang berkaitan dengan faktor-faktor genetis dan biologis, Nevid, dkk (1997) menjelaskan bahwa permasalahan penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA dari perspektif psikodinamika, perspektif sosiokultural, perspektif belajar dan perspektif kognitif. Berikut ini akan diuraikan tentang pandangan-pandangan masing-masing perspektif teoritis berkaitan dengan masalah penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA.
3. Perspektif psikodinamika.
Perspektif psikodinamika, individu yang mengalami masalah penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA, khususnya pada alkohol mencerminkan adanya kepribadian ketergantungan oral. Individu tersebut mengalami fiksasi fase oral dalam perkembangan psikoseksualnya. Individu yang minum alkohol terlalu banyak (alkoholik) pada masa dewasa merupakan simbolisasi usaha untuk mencapai kepuasan oral. Dengan kata lain dinyatakan bahwa alkoholisme merupakan representasi fiksasi oral disebabkan oleh konflik ketidaksadaran pada masa kank-kanak. Namun menurut Nevid, dkk (1997) perspektif psikodinamika ini tidak banyak didukung oleh hasil-hasil penelitian atau bukti-bukti empiris.
Penyalahgunaan NAPZA dalam perspektif psikodinamika sangat dipengaruhi oleh kondisi individu pada awal masa kehidupannya (0 – 5 ), sehingga intervensi pada masa kehidupan remaja menjadi tidak berarti. Selain itu dalam perspektif psikodinamika juga dinyatakan bahwa penyalahgunaan NAPZA merupakan representasi konflik ketidaksadaran pada masa kanak-kanak. Dengan demikian pada masa remaja seolah-olah problema penyalahgunaan NAPZA adalah suatu masalah yang tidak dapat dikendalikan oleh remaja itu sendiri.
4. Perspektif sosiokultural.
Perspektif sosiokultural masalah penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA dihubungkan dengan faktor-faktor budaya dan agama. Nevid, dkk (1997) menjelaskan bahwa menurut pandangan sosiokultural, tingkat penyalahgunaan NAPZA sangat erat kaitannya dengan norma-norma sosial dan budaya yang mengatur perilaku individu. Kebiasaan minum alkohol ditentukan oleh dimana dan dengan siapa individu tinggal. Individu yang tinggal di lingkungan budaya yang permisif terhadap penggunaan alkohol maka kecenderungan individu untuk menggunakan alkohol juga tinggi.
Tingkat penyalahgunaan NAPZA sangat beragam pada berbagai budaya. Sebagai contoh berdasarkan hasil survei diketahui bahwa penggunaan alkohol lebih banyak pada masyarakat Jerman daripada Amerika (Nevid, dkk, 1997). Hal ini nampaknya dipengaruhi oleh tradisi budaya di Jerman yang secara normatif dapat menerima konsumsi alkohol khususnya jenis bir.
5. Perspektif belajar.
Perspektif teori bejalar dinyatakan bahwa perilaku yang berhubungan dengan penyalahgunaan NAPZA adalah perilaku yang dipelajari. Problem penyalahgunaan NAPZA tidak dipandang sebagai simptom dari penyakit, tetapi lebih dilihat sebagai masalah kebiasaan (Nevid, dkk, 1997). Teori ini lebih menekankan peran belajar dan pemeliharaan perilaku bermasalah yaitu penyalahgunaan NAPZA.
Teori kondisioning operan menjelaskan bahwa pemakaian NAPZA menjadi kebiasaan disebabkan karena kenikmatan atau penguatan positif yang dihasilkan oleh NAPZA. Individu dapat berkenalan dengan pengunaan NAPZA karena pengaruh sosial atau melalui observasi sosial. Individu belajar melalui pengamatan sosial bahwa NAPZA dapat menimbulkan euphoria (rasa senang), mengurangi kecemasan dan ketegangan serta menghilangkan hambatan perilaku. Individu dapat menjadi tergantung secara fisiologis pada NAPZA dan memelihara kebiasaan tersebut karena beranggapan jika ia menghentikan penggunaan NAPZA maka akan muncul kondisi yang tidak mengenakan.
Teori belajar sosial menekankan pentingnya peran model (role model). Individu yang tinggal dalam keluarga alkoholik mengalami peningkatan resiko alkoholisme karena ia belajar secara terus menerus dengan mengamati perilaku orang tuanya atau saudaranya yang juga alkoholik. Demikian pula individu yang tinggal bersama kelompok sosial dengan pemimpin yang alkoholik maka tingkat resiko menjadi alkoholikpun menjadi bertambah karena ia belajar dari pemimpinannya dan cenderung mengikuti pemimpinnya untuk juga menggunakan alkohol (nevid, dkk, 1997).
6. Perspektif kognitif.
Perspektif kognitif, penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA dikaitkan dengan peran sejumlah faktor yang melibatkan faktor-faktor kognitif seperti harapan dan keyakinannya tentang NAPZA, proses pengambilan keputusan dan kesadaran diri (Nevid, dkk, 1997). Harapan dan keyakinan tentang NAPZA sangat dipengaruhi oleh pengetahuan individu tentang masalah NAPZA, misalnya dapat menimbulkan kerusakan syaraf, prestasi belajar buruk bahkan kematian maka ia cenderung memiliki harapan dan keyakinan negatif. Sebaliknya individu yang banyak mendapatkan pengetahuan tentang efek positif NAPZA, misalnya NAPZA dapat mengurangi kecemasan dan ketegangan, menimbulkan rasa percaya diri maka ia cenderung memiliki harapan dan keyakinan yang positif. Harapan dan keyakinan tentang efek NAPZA sangat mempengaruhi keputusan individu untuk menggunakan NAPZA atau tidak. Individu yang memiliki haraapan dan keyakinan positif terhadap efek NAPZA, maka kecenderungan untuk menggunakan NAPZA lebih besar. Sebaliknya individu yang memiliki harapan dan keyakinan negatif terhadap efek NAPZA maka kecenderungan untuk menggunakan NAPZA menjadi lebih kecil.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s