Sekilas Tentang Harga Diri

Sekilas Tentang Harga Diri
1. Pengertian Harga Diri
Pengertian Harga Diri menurut Coopersmith (1967) dan Walgito (1991) merupakan suatu proses penilaian yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri. Karena berkaitan dengan dirnya sendiri, penilaian tersebut biasanya mencerminkan penerimaan atau penolakan terhadap dirinya, menunjukkan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil serta berharga.
Menurut Branden (1987) harga diri merupakan aspek kepribadian yang paling penting dalam proses berpikir, tingkat emosi, keputusan yang diambil, nilai-nilai yang dianut serta penentuan tujuan hidup. Harga diri mencakup dua komponen yaitu perasaan akan kompetensi pribadi dan perasaan akan penghargaan diri pribadi. Seseorang akan menyadari dan menghargai dirinya jika ia mampu menerima diri pribadinya. Brehm dan Kassin (1990) menyatakan bahwa individu yang menilai dirinya baik umumnya bahagia, sehat, sukses, adaptif dalam situasi yang membuat stres.
Harga diri adalah hasil evaluasi individu terhadap dirinya sendiri yang merupakan sikap penerimaan atau penolakan serta menunjukan seberapa besar individu percaya pada dirinya, merasa mampu, berarti, berhasil dan berharga. Harga diri ini akan diungkap dengan skala Harga Diri modifikasi dari Coopersmith, dimana harga diri yang tinggi akan ditunjukan dengan skor yang tinggi pada skala tersebut dan sebaliknya harga diri yang rendah akan ditunjukan dengan skor yang rendah pula.
Sheaford & Horejski (2003 : 393) menyatakan bahwa harga diri berhubungan dengan kepercayaan seseorang tentang yang bernilai dalam dirinya. Seseorang yang tidak menghargai atau menghormati dirinya sendiri akan merasa kurang percaya diri dan banyak berjuang dengan segala keterbatasan dirinya, sehingga sering mereka terlibat dalam tingkah laku yang salah atau rentan untuk dieksploitasi dan disalahgunakan oleh orang lain.
Selanjutnya Sheaford menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki perasaan menghargai diri yang rendah timbul karena persepsi yang subjektif dan tidak selalu akurat dengan pandangan orang lain. Rasa menghargai diri yang rendah seringkali berasal dari perbandingan yang tidak menyenangkan tentang dirinya sendiri dan orang lain. Pendapat senada dinyatakan Rosenberg (1979) bahwa individu yang memiliki harga diri tinggi ia akan menghormati dirinya dan menganggap dirinya sebagai individu yang berguna. Sedangkan individu yang memiliki harga diri yang rendah ia tidak dapat menerima dirinya dan menganggap dirinya tidak berguna dan serba kekurangan. Sedangkan Coopersmith (1967) mengatakan bahwa harga diri (self esteem) adalah evaluasi diri yang dibuat seseorang, biasanya untuk dipertahankan, dan sebagian berasal dari interaksi seseorang dengan lingkungannya dan dari sejumlah penghargaan, penerimaan dan perhatian orang lain yang diterimanya .
Sedangkan menurut Ubaydillah (http://e-psikologi.com) harga diri secara bahasa pengertiannya adalah kehormatan-diri. Jadi, orang yang harga-dirinya bagus itu adalah orang yang mengalami proses hubungan yang positif dengan dirinya, punya perasaan positif terhadap dirinya, punya penilaian yang bagus terhadap dirinya (self-concept). Pengalaman dan proses hubungan yang positif inilah yang kemudian melahirkan sikap dan tindakan yang positif (terpuji atau terhormat).
Pengertian tersebut menjelaskan bahwa harga-diri itu adalah proses intrinsik di mana orang merasa perlu (sadar) untuk menjaga atau menghormati dirinya dengan cara-cara yang terhormat. Cara ini bisa dalam bentuk melakukan sesuatu yang positif atau dengan menghindari sesuatu yang negatif. Dengan cara ini maka secara alamiahnya akan mendatangkan feed-back atau balasan yang bernama penghormatan itu.
Lebih lanjut Ubaydillah menjelaskan bahwa harga diri ini terkait dengan berbagai hal yang berperan vital dalam kehidupan, antara lain harga-diri terkait dengan :
a). Kualitas emosi.
Menurut Gary Zukav dalam bukunya The Heart of The Soul (2002), sumber berbagai malapetaka emosi, seperti misalnya stres, distress atau depresi itu adalah self-worth.
b). Aktualisasi-diri. Aktualisasi di sini pengertiannya adalah proses yang kita lakukan dalam merealisasikan potensi yang kita miliki
c). Kepercayaan diri (self-confidence)
Pendapat tersebut menjelaskan bahwa harga-diri ini menjadi penting terutama bagi penyalahguna napza, dimana saat mereka memiliki perasaan positif hanya ketika mengkonsumsi narkoba atau zat kimia lain saja. Ini menjadi bukti adanya harga-diri yang rendah pada penyalahguna napza karena tidak bisa menciptakan kebahagian dari dalam dirinya tetapi dengan mencari di luar melalui penggunaan napza. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan sendiri oleh Triantoro safari yang membuktikan bahwa harga diri yang rendah memiliki kecenderungan seseorang untuk menggunakan dan menyalahgunakan napza . Selain itu harga diri sangat berkaitan dengan arti hidup seseorang artinya walaupun dalam keadaan apapun seseorang harus tetap merasakan dirinya berarti dalam hidupnya. Begitupula para penyalahguna napza yang rentan terhadap gangguan emosi harus tetap menjalani kehidupannya dengan penuh rasa berarti agar dapat hidup secara normal dan wajar serta terhindar dari penggunaan dan penyalahgunaan napza .
Hal-hal yang dapat meningkatkan Harga diri seseorang menurut pendapat Coopersmith (1967: 38) diantaranya adalah keberhasilan yang diperoleh selama dirinya berinteraksi dengan lingkungan. Keberhasilan itu sendiri antara lain: a. Power, kemampuan untuk mempengaruhi atau menguasai orang lain; b. Virtue, kesesuaian diri dan kecemasan dalam mengemukakan tentang dirinya; c. Significance, penerimaan perhatian dari keluarga; d. Competence, kesuksesan dan perasaan katidakpuasan.
Sedangkan Soepri Tjahyono menjelaskan beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan harga diri diantaranya adalah :
a). Mengenali diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan dengan cara bercermin baik dengan kaca maupun melalui tulisan dikertas dan menuliskan mana potensi-potensi yang bisa kita kembangkan atau tunjukan ke orang lain, dan mana yang harus kita tinggalkan.
b). Menerima diri seperti apa adanya. Orang yang dapat menerima diri sendiri apa adanya tidak akan menyesali segala yang terjadi dalam menghadapi kenyataan. Artinya, apa yang ada pada diri kita harus diterima dan dikembangkan.
c). Manfaatkan kelebihan dengan cara mengenali kelebihan yang kita miliki, selanjutnya digunakan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Misalnya kita yang pandai berbicara, mengapa tidak mencoba jadi pembawa acara?
d). Meningkatkan keahlian yang dimiliki. Kemampuan, keahlian, dan keterampilan yang kita miliki memberikan sumbangan untuk meningkatkan harga diri kita. Semakin banyak dan beragam keahlian yang kita miliki, akan semakin besar kita menghargai diri kita.
e). Memperbaiki kekurangan. Kita harus mengenali kekurangan yang ada pada diri kita. Kalau kita tidak mengenalinya, maka keinginan untuk memotivasi dan mengembangkan diri kita ke arah yang lebih baik juga tidak ada. Kalau kita mengenali kekurangan kita, maka sebenarnya kekurangan itu dapat juga kita manfaatkan untuk sesuatu yang berguna.
f). Mengembangkan pemikiran bahwa kita sama dan sederajat dengan orang lain. Setiap orang berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan itu bisa dari sudut ekonomi ataupun status sosial. Tetapi semuanya itu akan sama haknya dalam setiap kesempatan. Pemikiran itulah yang harus selalu dikembangkan bahwa setiap orang punya hak dan derajat yang sama.
Raymond Tambunan (http:/e-psikologi.com) menjelaskan bahwa perkembangan harga diri pada seseorang akan menentukan keberhasilan maupun kegagalannya dimasa mendatang. Sedangkan arti harga diri itu sendiri menurutnya adalah hasil penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap-sikap yang dapat bersifat positif dan negatif. Bagaimana seseorang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya sehari-hari. Harga diri yang positif akan membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan kemampuan diri, rasa berguna serta rasa bahwa kehadirannya diperlukan di dunia ini.
Pendapat diatas menunjukan peningkatan harga diri seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor , yaitu faktor internal pada diri individu dan faktor eksternal. Faktor internal pada individu meliputi penghargaan, penerimaan, pengertian dan perlakuan orang lain terhadap dirinya. Sedangkan faktor eksternal adalah prestasi yang dicapai, hubungan dimasyarakat, keluarga dan peer groupnya.
Harga diri bukan merupakan faktor bawaan tetapi dapat dibangun / ditingkatkan melalui proses belajar melalui interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya dalam bentuk umpan balik yang diterima dari orang-orang yang berarti bagi individu. Kemauan untuk mengevaluasi kembali kepercayaan seseorang tentang diri sendiri merupakan langkah awal terhadap pertumbuhan dalam menghargai dirinya.
Menurut Ubaydillah (2001) menaikkan harga-diri harus dimulai dari diri sendiri terlebih dulu. Jika ini sudah kita lakukan, orang lain akan menghargai kita meski prosesnya ada yang tidak langsung-seketika. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi :
a). Secara mental, temukan sesuatu yang menurut anda berharga di dalam diri anda. Ini bisa sifat, watak, skill, pengetahuan, kelebihan, pedoman hidup yang anda yakini, kebaikan anda, sikap, atribut akademik, modal sosial yang anda miliki, dan lain-lain. Ini adalah jalan untuk menciptakan perasaan positif tadi. Untuk bisa menemukan ini memang harus sering-sering melakukan dialog dengan diri sendiri dan cepat sadar atas munculnya unek-unek negatif yang bisa menimbulkan perasaan negatif.
b). Secara aktual, lakukan sesuatu yang menurut anda itu bernilai atau berharga buat diri anda, entah itu untuk hari ini atau hari esok. Ini pokok. Tidak ada orang yang punya perasaan positif kalau tidak melakukan hal-hal positif. Menurut pengalaman hidup Michael Angier, jika seseorang punya perasaan positif terhadap dirinya, orang itu akan merasa lebih ringan untuk melakukan hal-hal positif. Semakin banyak tindakan positif yang dilakukan, semakin besar pula perasaan positif yang muncul. Jadi ada semacam timbal-balik yang saling terkait.
c). Melatih diri untuk memiliki jiwa yang lebih besar, pikiran yang lebih besar atau pertimbangan yang lebih bijak. Tapi ini perlu kita dasari atas pengetahuan tentang adanya manfaat yang lebih besar (kekuatan). Ini misalnya saja kita memaafkan atau memahami orang lain karena itu hasilnya akan lebih baik, bukan karena tidak mampu melawan secara terang-teranga lalu ngomong di belakang (kelemahan).
d). Latihlah menghadapi persoalan dengan keputusan.
e). Jauhi hal – hal yang berpotensi menegatifkan perasaan dan pikiran.

Selanjutnya Sumarni (2007) menjelaskan bahwa terdapat tiga hal yang dapat dilakukan agar harga diri atau kehormatan diri seseorang dapat terpelihara dengan baik diantaranya :
a). Mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri , artinya menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.
b). Menerima diri apa adanya , artinya menyadari dan menerima apa adanya dengan mensyukuri keadaan yang ada pada diri sendiri walau dalam keadaan apapun juga dengan menyadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna.
c). Memanfaatkan kelebihan, artinya menyadari bahwa semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangan yang beragam bentuknya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki harga diri akan dapat menerima dirinya sendiri dan juga orang lain. Harga diri juga penting bagi manusia dalam mempertahankan dirinya sebagai mahluk sosial begitupula dengan penyalahguna napza. Hal ini berarti tingkat harga-diri yang tinggi sangat menentukan dan memiliki andil dalam kecenderungan terlibatnya seseorang dalam penyalahgunaan napza.
2. Aspek-Aspek Tentang Harga Diri
Faktor kepribadian mempunyai peranan penting di samping faktor fisiologik pada penyalahgunaan Napza (shield, 1976;jessor dan jessor, 1977; wienfield, dkk, 1989;Brook dan Brook, 1990; Hawari, 1991). Faktor kepribadian ini dapat dibedakan menjadi aspek intrapersonal, interpersonal dan aspek kognitif(Olson, dkk, dalam Brown&Lent,1992).
Aspek intrapersonal yang diidentifikasi berperan penting dalam penyalahgunaan Napza pada remaja adalah rendahnya Harga Diri remaja (Gorsuch dan Butter, 1976: Sield, 1976). Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa remaja dengan harga diri rendah merasa dirinya terasing, tertekan dan kurang memiliki keberanian untuk berbuat sesuatu. Mereka cenderung lebih cemas, mudah depresi, pesimis akan masa depannya dan mudah gagal. Selanjutnya remaja dengan cirri-ciri tersebut mudah mendapat pengaruh dari lingkungannya untuk mengkonsumsi Napza.
Remaja yang memiliki Harga Diri rendah memilih menggunakan Napza sebagai sarana untuk mengembalikan kestabilan emosinya, sehingga menimbulkan rasa aman pada diri mereka. Hal ini terbukti pada penelitian test (dalam Skager dan Kerst, 1989) melaporkan bahwa remaja yang menggunakan mariyuana mengalami perubahan positif pada harga dirinya. Demikian juga pada pemakai kokain merasa meningkat dalam keyakinan diri dan hubungan sosialnya ketika dalam keadaan memakai. Pada individu yang memiliki Harga Diri tinggi, mereka umumnya merasa lebih bahagia, bebas dari simptom psikosomatis, sukses dan adaptif dalam situasi yang dapat menimbulkan stres (Brehm dan Kassin, 1990).
Menurut Sigal dan Gould (dalam Brehm dan Kassin, 1990) individu yang memiliki Harga Diri yang tinggi selalu akan termotivasi untuk berperilaku baik, termasuk tidak melibatkan diri dalam penyalahgunaan Napza karena menreka mengerti bahwa efek negatif zat tersebut akan merusak kehidupan mereka. Selain Harga Diri sebagai aspek intrapersonal, aspek interpersonal juga berperan penting dalam penyalahgunaan Napza.
Aspek interpersonal atau kemampuan melakukan hubungan sosial dengan orang lain yang diidentifikasi berperan penting dalam penyalahgunaan Napza pada remaja adalah rendahnya asertivitas remaja (Horan dan Harrison, 1981; Schaps, dkk,1981; Afiatin, 2001a). Hasil hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan kemampuan asertivitas rendah tidak mampu untuk menghadapi tekanan kelompok, termasuk menolak bujukan menggunakan Napza.
Remaja yang kurang asertif memiliki ciri-ciri tidak dapat menguasai diri pada situasi yang seharusnya ia dapat bersikap bebas dan menyenangkan, mengalami kesulitan dalam merespon hal-hal yang sangat disukai, mengalami kesulitan dalam menyatakan perasaan cinta dan kasih sayang pada orang lain atau pada orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Ketidak asertivan remaja membuat mereka measa terombang-ambing dalam situasi yang tidak menentu. Remaja yang kurang asertif sering tidak efektif dan adaptif dalam menghadapi stress dan konflik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s