Sekilas Tentang Advokasi Pekerjaan Sosial

ADVOKASI PEKERJAAN SOSIAL

Advokasi pada hakekatnya merupakan salah satu peranan dalam pekerjaan sosial. Mickelson dalam Sheafor dan Horejsi (2003) mendefinisikan advokasi pekerjaan sosial sebagai the act of directly representing, defending, intervening, supporting, or recommending a course of action on behalf of one or more individuals, groups, or communities with the goal of securing and retaining social justice. Berdasarkan definisi tersebut, advokasi pekerjaan sosial merupakan tindakan yang secara langsung mewakili, mempertahankan, mencampuri, mendukung, atau merekomendasikan tindakan tertentu untuk kepentingan satu atau lebih individu, kelompok, atau masyarakat dengan tujuan untuk menjamin atau menopang keadilan sosial. Definisi lain dikemukakan oleh Schneider dan Lester (2001), Social work advocacy is the exclusive and mutual representation of a client(s) or a cause in a forum, attempting to systematically influence decision making in an unjust or unresponsive system(s). Schneider dan Lester mendefinisikan advokasi pekerjaan sosial sebagai perwakilan eksklusif dan timbal balik untuk seorang atau beberapa klien atau untuk sebuah perkara dalam sebuah forum, upaya sistematik untuk mempengaruhi pengambilan keputusan dalam sistem yang tidak adil atau tidak responsif.
Selanjutnya, menurut Sheafor dan Horejsi, tindakan advokasi bertujuan untuk membantu klien dalam menegakkan hak-hak mereka untuk menerima sumber-sumber dan pelayanan-pelayanan atau untuk memberikan dukungan aktif terhadap perubahan-perubahan kebijakan dan program-program yang memiliki efek negatif pada klien baik secara individual maupun kelompok. Kedua penulis juga membagi fungsi advokasi sebagai berikut:

1. Advokasi kasus atau klien (client or case advocacy). Tujuan umum tipe advokasi ini adalah untuk menjamin bahwa pelayanan-pelayanan atau sumber-sumber yang ditujukan bagi klien diterima sesuai dengan faktanya. Upaya advokasi seperti ini diarahkan pada agensi sendiri atau pada yang lainnya dalam jaringan pelayanan kemanusiaan. Langkah-langkahnya yang penting meliputi pengumpulan informasi dan penentuan apakah klien secara faktual terdaftar dalam pelayanan yang diinginkan. Jika terdaftar, negosiasi, mediasi, dan jika perlu taktik yang lebih melengking dan konfrontatif digunakan untuk menjamin pelayanan. Klien dibantu untuk menggunakan prosedur yang tersedia dan dalam beberapa kasus mengambil tindakan legal (hukum) untuk melawan lembaga atau pemberi pelayanan.

2. Advokasi kelas/kelompok (class advocacy). Pekerja sosial harus sering memberikan pelayanan advokasi bagi kelompok-kelompok klien atau untuk segmen penduduk yang memiliki masalah yang sama. Secara khusus, advokasi kelompok terdiri dari tindakan-tindakan yang ditujukan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang membatasi sekelompok atau kategori orang-orang tertentu dalam merealisasikan hak-hak sipil atau dalam penerimaan manfaat yang ditujukan bagi mereka. Hal ini biasanya memerlukan upaya yang bertujuan untuk mengubah peraturan-peraturan lembaga, kebijakan sosial atau hukum dan perundang-undangan. Akibatnya, advokasi kelompok memerlukan kegiatan dalam arena politik dan legislasi serta dalam membangun koalisi dengan organisasi-organisasi yang berkepentingan dengan isu yang sama.

Bagaimana cara melakukan advokasi? Panduan umum berikut ini dapat digunakan sebagai referensi untuk melakukan advokasi.

A. Advokasi Klien (Client Advocacy).

1. Yakinkan bahwa klien anda menginginkan anda menjadi advokatnya. Jangan terlibat dalam advokasi, jika anda tidak memiliki persetujuan secara eksplisit (tertulis) dengan klien anda dan klien anda memahami baik potensi manfaatnya maupun resikonya. Sedapat mungkin, libatkan klien dalam semua keputusan yang berkenaan dengan tindakan-tindakan yang akan anda ambil.
2. Sadarilah bahwa advokasi anda dapat merusak hubungan anda atau hubungan lembaga anda dengan lembaga atau profesional lainnya, dan rusaknya hubungan ini dapat menimbulkan masalah pada masa mendatang ketika anda membutuhkan kerja sama mereka untuk melayani klien lainnya. Jangan menggunakan advokasi jika anda belum mencoba pendekatan dengan resiko yang lebih kecil atau kurang kemungkinannya untuk mempolarisasikan pihak-pihak yang terpengaruh.
3. Keputusan anda untuk memainkan peran sebagai advokat klien harus muncul sebagai keinginan tulus untuk memberikan pelayanan kepada klien anda dan bukan dari keinginan untuk menghukum atau memalukan lembaga atau keinginan untuk memperbesar diri.
4. Sebelum anda memilih taktik konfrontasi ini, yakinkan anda memahami fakta yag terjadi. Jangan keputusan anda didasarkan pada deskripsi sepihak tentang apa dan mengapa sesuatu terjadi. Sadarilah bahwa klien kadang-kadang dapat saja memiliki pemahaman atau interpretasi yang salah terhadap penjelasan yang diberikan oleh profesional dan perwakilan lembaga. Jangan mendasarkan rencana advokasi anda pada asumsi bahwa anda memahami kebijakan, prosedur, atau kriteria elijibilitas yang lain. Dapatkan faktanya sebelum anda memutuskan bagaimana untuk memulai atau meneruskan.
5. Bila anda memutuskan bahwa sebuah taktik advokasi diperlukan, aturlah sebuah pertemuan dengan lembaga atau perwakilan program yang tepat. Pertemuan wawan muka hampir selalu lebih efektif daripada telepon dan surat. Akan tetapi, sebuah surat yang menggambarkan situasi klien anda dan kepedulian anda mungkin diperlukan sebelum pertemuan wawan muka. Hormatilah rantai komando (misal, jangan meminta berbicara dengan supervisor sebelum anda berbicara dengan pekerja sosial lapangan yang sudah kontak dengan klien anda; jangan meminta berbicara dengan administrator sebelum anda berbicara dengan supervisor untuk pekerja sosial lapangan).
6. Sebelum anda berbicara dengan wakil lembaga, tulislah (catat) dengan pasti apa yang akan anda katakan dan pertanyaan-pertanyaan yang akan anda tanyakan. Mulailah percakapan anda dengan meminta penjelasan secara santun, mengapa klien anda ditolak untuk mendapatkan pelayanan atau penyembuhan dengan cara seperti itu. Komunikasikan kepedulian atau kepentingan anda secara faktual dan jangan kasar, tetapi berbicaralah dengan nada yang menunjukkan perasaan yang kuat pada masalah tersebut. Buatlah rekaman tertulis tentang kepada siapa anda berbicara, posisi mereka dan respons mereka, serta waktu, tanggal dan tempat berkomunikasi.
7. Jika informasi yang anda kumpulkan menunjukkan bahwa lembaga berkeinginan untuk memberikan pelayanan yang diminta oleh klien anda, tetapi tidak bisa karena persoalan teknis atau prosedural yang tidak masuk akal atau karena persyaratan kebijakan, mintalah informasi bagaimana keputusan tersebut dapat dipertimbangkan kembali dan kepada siapa anda dan klien anda harus berbicara. Tanyakanlah apakah administrator, anggota dewan pengurus, atau komisi legislatif mengetahui kesulitan yang dihadapi oleh klien anda atau mungkin konsultasikan bagaimana masalah ini dapat dipecahkan.
8. Jika informasi yang anda kumpulkan menunjukkan bahwa lembaga atau program pada faktanya mengancam klien anda dengan cara yang tidak adil dan tidak tepat, jelaskanlah bahwa jika masalah tersebut tidak dapat dipecahkan dan diperbaiki, anda akan membawa kepentingan anda tersebut pada mereka yang berada di rantai komando yang lebih tinggi atau membuat komplein formal. Pertimbangkanlah untuk menggunakan ekspresi marah yang terukur untuk mendemonstrasikan pemecahan anda.
9. Jika tindakan lanjutan diperlukan, anda akan memerlukan nasihat hukum sebelum melanjutkan. Sebagai persiapan untuk naik banding atau komplain formal, anda akan memerlukan dokumentasi secara rinci tentang apa yang terjadi dan apa yang sudah dicoba, tahap demi tahap, untuk memecahkan masalah tersebut. Anda akan memerlukan nama, tanggal dan isi semua komunikasi dan salinan semua surat yang dikirimkan dan yang diterima.

B. Advokasi Kelompok (Class Advocacy).

Seperti telah dikemukakan advokasi kelompok bertujuan untuk memajukan perkara sebuah kelompok dalam rangka memantapkan sebuah hak atau hak untuk mendapatkan sumberdaya atau kesempatan. Bagi mereka yang memilih untuk terlibat dalam advokasi kelompok ini disarankan untuk mengikuti panduan umum berikut ini.

1. Sadarilah bahwa advokasi dapat membantu dalam menciptakan perubahan-perubahan yang diperlukan dalam hukum dan perundang-undangan, kebijakan dan program. Membuat perubahan adalah sulit, tetapi tidak mustahil.
2. Ingatlah bahwa anda tidak dapat melakukannya sendiri. Pekerja-pekerja sosial individual akan membutuhkan bekerja sama dengan yang lain. Sebuah kelompok memiliki lebih banyak kekuatan daripada individual, dan beberapa organisasi yang bekerja sama memiliki lebih banyak kekuatan daripada satu organisasi yang bekerja sendiri. Bekerja dengan organisasi yang lain akan berarti bahwa organisasi anda sendiri harus membagi beberapa sumberdaya, membuat beberapa kompromi, dan mungkin melakukan sesuatu secara berbeda. Akan tetapi dalam jangka waktu panjang, organisasi anda akan mengerjakan lebih banyak sebagai bagian dari koalisi daripada bekerja sendiri.
3. Perbaikan-perbaikan banyak diperlukan dalam sistem pelayanan kemanusiaan kita. Jika anda tidak dapat mengerjakan segala sesuatu yang diperlukan, anda harus memutuskan yang mana yang harus diprioritaskan. Pilihlah perkara anda secara hati-hati. Jika anda atau organisasi anda mengambil beberapa perkara pada satu waktu, anda mungkin akan membaginya menjadi terlalu kecil. Lebih baik membuat perolehan yang nyata hanya dalam satu area daripada memperoleh secara minimal atau beberapa hal mengalami kegagalan sama sekali.
4. Juga penting untuk memilih sebuah perkara dimana kemungkinan untuk berhasilnya besar. Realistislah! Jangan buang-buang waktu dan enerji organisasi anda untuk perkara yang hilang. Pengalaman keberhasilan menimbulkan harapan dan perasaan kemungkinan adanya keberhasilan yang lain. Jika anggota-anggota sebuah organisasi dapat melihat bahkan keberhasilan sekecil apapun, mereka akan lebih menginginkan untuk menginvestasikan dirinya dalam upaya advokasi di masa mendatang.
5. Advokasi yang berhasil dibangun di atas fondasi analisis dan perencanaan yang hati-hati. Adalah penting untuk mendefinisikan apa yang anda lihat sebagai suatu masalah dan kajian masalah secara cermat, sebelum anda memutuskan apa yang dilakukan untuk hal tersebut. Jangan memulai suatu usaha mengubah sesuatu sebelum anda mengetahui dengan pasti apa yang harus dirubah, mengapa harus dirubah, dan apa yang akan menyertai perubahan tersebut.
6. Sebelum anda bertindak, lakukan penilaian yang cermat tentang apa yang akan diperlukan berkenaan dengan waktu, enerji, uang, dan sumberdaya lainnya untuk mencapai tujuan anda. Apakah anda memiliki sumberdaya? Jika tidak, alangkah baiknya untuk menurunkan skala tujuan anda atau menunggu sampai anda terorganisasi secara lebih baik dan lebih mampu untuk mencapai tujuan anda.
7. Cobalah untuk memahami siapa yang menjadi oposan bagi anda. Akan selalu terdapat penolakan terhadap perubahan, dan analisis terhadap situasi akan mencakup pemahaman tentang mengapa ada penolakan. Advokat perlu kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam sepatu oponen (misalnya memiliki empati). Orang selalu memiliki alasan untuk menentang perubahan. Anda mungkin tidak setuju dengan alasannya, tetapi anda harus membuat mereka memahami bahwa anda sedang menggambarkan suatu cara untuk menanggulangi penolakan dengan berhasil.
8. Advokasi yang berhasil memerlukan kedisiplinan diri. Salah satu dari banyak kesalahan yang paling serius dilakukan seseorang dalam advokasi adalah bertindak impulsif. Jika itu terjadi, organisasi yang lain dalam koalisi kemungkinan akan menarik diri atau menjadi enggan untuk bekerja sama sebab mereka takut kesembronoan anda akan menyebabkan kerusakan atau mengganggu organisasi mereka atau terhadap koalisi. Demikian juga, jika anda bertindak impulsif, mereka yang menentang anda dapat lebih mudah mendiskreditkan organisasi anda.
9. Advokasi merupakan penggunaan kekuatan (power). Anda mungkin tidak memiliki kekuatan sebanyak yang anda inginkan, tetapi jangan mengabaikan/meremehkan kekuatan yang anda miliki. Pada hakekatnya, kekuatan (power) merupakan kemampuan untuk membuat orang lain berperilaku dengan cara yang seperti anda inginkan. Berpikirlah bahwa kekuatan merupakan sumberdaya yang dapat digunakan atau dihabiskan untuk tujuan tertentu. Terdapat beberapa jenis kekuatan yang berbeda. Merupakan suatu hal yang penting untuk mempelajari organisasi anda sendiri dan anggota-anggotanya untuk mengungkap jenis kekuatan yang dimiliki.
Di kalangan pekerja sosial, terdapat tipe kekuatan yang berasal dari pengetahuan dan keahlian. Misalnya, jika anda melakukan advokasi untuk kepentingan anak-anak, anda memiliki informasi yang rinci tentang anak-anak dan keluarga yang sulit, dan anda mengetahui bagaimana sistem yang bekerja atau yang tidak bekerja untuk keuntungan anak-anak dan keluarganya. Informasi jika disusun dan disajikan dengan cermat, dapat memiliki dampak yang sangat kuat (powerful) terhadap legislator, administrator lembaga dan terhadap publik.
Tidak diragukan bahwa beberapa anggota organisasi anda mendapat penghargaan yang tinggi dalam masyarakat. Mereka memiliki harga diri yang tinggi di masyarakat karena pencapaiannya di masa lalu. Mereka memiliki kredibilitas yang memberi satu jenis kekuatan. Individu-ndividu yang mendapat penghargaan dapat memiliki pengaruh yang signifikan atas legislator dan administrator. Anda perlu mendorong dan membantu mereka yang mendapat penghargaan secara individual untuk melakukan advokasi secara aktif untuk isu tersebut.
Jangan lupa bahwa komitmen pribadi, waktu, dan enerji juga merupaka jenis kekuatan. Solidaritas organisasional juga juga merupakan jenis kekuatan. Jika legislator dan pembuat keputusan dapat melihat bahwa anggota-anggotanya solid di belakang organisasinya, mereka akan memberikan perhatian pada apa yang disampaikan oleh pemimpin organisasi.
Dalam organisasi anda terdapat juga anggota yang secara alamiah adalah pemimpin. Beberapa diantaranya kemungkinan memiliki kharismatik dan artikulasi. Mereka dapat mempengaruhi orang-orang untuk secara bersama mengerjakan suatu perkara. Kharisma merupakan kualitas yang jarang, tetapi merupakan jenis kekuatan. Identifikasilah individu-individu dalam organisasi anda dan biarkan mereka membicarakan perkara anda.
10. Ada saat-saat dimana advokasi kelompok harus mengambil bentuk perkara hukum. Banyak perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan yang tidak pernah terjadi tanpa keputusan-keputusan hukum dan pengadilan.
11. Sebagian besar orang tergantung pada televisi dan surat kabar untuk informasi. Jika seseorang menginginkan publik memahami dan mendukung sebuah perkara, maka penting juga untuk bekerja dengan media.

Daftar Bacaan

DuBois, Brenda & Miley, Karla Krogsrud. 1992. Social Work: An Empowering Profession. Boston: Allyn and Bacon.

Hepworth, Dean H. & Larsen, Jo Ann. 1993. Direct Social Work Practice: Theory and Skills. California: Brooks/Cole Publishing Company.

Kilpatrick, Allie C. & Holland, Thomas P. 2003. Working with Families: An Integrative Model By Level of need. Boston: Allyn and Bacon.

Schneider, Robert L. & Lester, Lori. 2001. Social Work Advocacy: A New Framework for Action. United States: Brooks/Cole Publishing Company.

Sheafor, Bradford W. & Horejsi, Charles R. 2003. Techniques and Guidelines for Social Work Practice. Sydney: Allyn and Bacon.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s