Rasional Emotif Ala AA Gym

EMOTIF RASIONAL ALA AA GYM

Pizaro

Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa

Bimbingan dan Penyuluhan Islam / Bimbingan dan Konseling Islam Se Indonesia

Manusia harus sadar bahwa hidup adalah sebagaimana yang mereka alami, tidak ada yang aneh. Kita akan sering menghadapi hal-hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan kita

Keterampilan untuk realistis menghadapi kenyataan harus kita miliki. Kita sebaiknya selalu berusaha mempersiapkan hati agar mampu menerima kenyataan bahwa: “Ini adalah episode yang sekarang harus saya hadapi.”

Rasa cemas, khawatir takut, tegang dan pikiran kalut seringkali membuat hidup tertekan dan tidak nikmat. Sungguh rugi orang yang tidak mampu menikmati hidup lantaran terbelenggu perasaan-perasaan ini. Jika anda tidak mau menjadi ahli stress dan ingin menikmati hidup. Maka anda harus mencari jalan keluarnya. Insya Allah uraian yang sederhana dalam buku ini akan memebantu anda.

Tiga kalimat di atas saya temukan di sebuah buku kecil dari seri manajemen qolbu. Namun dari sekedar buku kecil itu saya sadar bahwa hati adalah sumber yang sensitif, peka, dan teramat halus jika terkena sinar kecemasan.

Hati yang cemas membuat kita berpikir teramat jauh, melampaui kapasitas diri dan memaksa manusia jatuh dalam riak rimbun pikiran negatif tentang dirinya. Kita tidak mau menikmati hidup, senang sekali menghujat diri kita, hidup dalam kecemasan, dan mempersilahkan hati yang cemas untuk menyenangkan diri sendiri dalam ketakutan. Namun sadarkah bahwa diri kita semakin lama semakin terperosok, kualitas kita semakin terbenam, dan hal itu pada dasarnya semakin membuat diri kita takut dan jauh dari yang diharapkan.

Saya sudah banyak sekali menghabiskan kitab-kitab eksistensialisme yang mengagumkan, warisan psikoanalisis yang kritis, dan Humanistik yang mencoba mengerti manusia, tapi entah kenapa saya tidak merasakan perubahan berarti dalam diri. Saya masih seperti ini, merasakan hidup tak bermakna, merasa diri tak pantas, merasa hati yang cemas. Ternyata saya baru sadar ketika membaca Emotif Rasional ala Aa Gym, bahwa saya membutuhkan Tuhan. Emotif Rasional ala Aa Gym mengajarkan kita bahwa Tuhan (Allah) menjadi tempat curhat, menumpahkan segala kecemasan kita, stress kita, dan ketakutan-ketakutan yang selama ini menjerumuskan kita. Karena ia yang Maha Pengasih.

Sesederhana itu, benar adanya kata Viktor Frankl, pendiri logoterapi, bahwa hidup bermakna ada di hati, hati yang diisi penghayatan terhadap kehidupan. Lantas saya kembali bertanya, kenapa ketika membaca logoterapi, saya tidak sadar? Tapi kenapa Aa Gym dengan bukunya itu, lebih mampu menumbuhkan hatiku, membius pikiranku, merobohkan segala ego kotor ini? Ah saya hanya bisa teramat haru, ketika Aa mengingatkan dengan ayat Allah

Laa yukallifullaaahu nafsan illaaa wus’ahaa

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”

(Qs al-Baqarah: 286)

Aa Gym melanjutkan

Hendaknya kita menghadapinya dengan ridha, tidak panik, tidak didramatisir, tidak dipersulit. Allah yang memilki diri kita sangat Tahu dengan rinci kemampuan hambaNya. Pengetahuan akan hal ini sudah seharusnya membuat kita tenang dalam menghadapi sesuatu.

Saya mengerti sekarang atas pertanyaan yang tadi tidak saya jawab, bahwa emotif rasional Aa Gym menyertakan pendalaman tauhid yang pasti ketimbang Frankl. Itu ternyata membuat saya nyaman secara psikologis. Saya tersentak ketika itu, bagaimana mungkin buku setipis 36 lembar bisa membangunkan saya daripada ribuan lembar buku-buku psikologi yang sudah saya habiskan, mulai dari Frankl, Abraham Maslow, Daniel Goleman, Freud, Rollo May, dan lain-lainnya. Saya sadar diri ini terlalu egois dengan memaksakan logika tanpa hati, menyenangkan psikologis dengan terus menghindar. Kenyataannya, eksistensi akan menenangkan jika dibentangkan dengan pengalaman tauhid.

Emotif rasional ala Aa Gym mengajarkan kita untuk berani menghadapi kenyataan, mau jujur terhadap dunia dan diri sendiri. Benar adanya Kata Allah semakin kita jauh dariNya kita semakin jauh dari kualitas hidup yang kita inginkan. Semakin kita terus bermaksiat, adalah keniscayaan jika qolbu tak akan tenang. Jadi jangan salahkan Tuhan, salah kita sendiri. Mungkin hati saya berkata untuk apa saya terus mencari makna, memaknai diri sendiri, tapi saya melupakan al Quran. Memang benar dengan dekat bersama Allah hati kita menjadi lebih tenang, karena itulah fitrah yang merekah.

Ternyata Aa Gym humanis, ia eksistensialis, ini filosof sekaligus konselor yang saya butuhkan. Ternyata ia ada di Indonseia, bukan Wina, Berlin, dan London. Ternyata bukanlah Mazhab, Behavioristik, Psikodinamik, Humanistik tapi Mahzab yang ia namakan Manajemen Qolbu, saya baru tahu. Ia ajarkan kita “buat apa mengeluh, toh mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah”. Itu saya tangkap ketika mengantar saudara-saudara saya yang masih remaja untuk Diklat di Daruut Tauhid, ada-ada saja syarat nyantrinya: Tidak boleh mengeluh. Mungkin itu tadi yang saya maksud.

Emotif rasional Aa Gym langsung masuk, bahasanya menembus langsung ke hati, tidak mau bersusah payah. Ibarat ada orang tenggelam, ia segera menyeburkan diri dan meraih badan kita. Ia kekalkan ucapan-ucapannya di pikiran dan hati kita. Sekalipun secara kasat, Emotif rasional Aa bermain pada tataran praktis, namun itu memiliki arti berbeda ketimbang yang lainnya. Karena ia mencoba menafsirkan sistem pedoman filosofis psikologi Islami, dan meramunya dengan implementasi sederhana namun vital. Tidak terjebak pada kompromistis penafsiran yang bias, yang akhirnya membuat kita salah tafsir dan salah arah.

Adalah berbeda dari asosiasi bebas Freud, dimana ia suruh kita untuk mengeluh atas setiap pengalaman yang menyakitkan kita, tapi psikoanalisis tidak memberi solusi pada hati yang cemas, yang kalut, yang kotor. Ia malah ajak hati saya untuk jangan terlalu berharap pada Tuhan, karena itu menjerumuskan.

Secara Konseling, emotif rasional Aa Gym menjadikan suatu pemahaman yang berkosentrasi pada Client-Centered namun berkolaborasi ke arah pendekatan direktif. Dalam arti Aa berfokus pada masalah setiap manusia, mencoba memahami dengan bahasa kemanusiaan, tapi tidak mau asyik fokus menjadikan manusia sebagai raja atas hatinya, karena manusia sedang memiliki ketidakberesan hati, dengan begitu butuh orang yang bisa meluruskan secara bijak nan sarat hikmah.

Mungkin anda heran kenapa dari tadi saya melekatkan Emotif rasional kepada Aa Gym. Awalnya begini, ketika saya membaca buku mini Aa Gym, saya teringat Albert Ellis, pengembang terapi rasional emotive (RET). Pendekatan ini mengajarkan bahwa hakikat masalah adalah ketidaklogisan pikiran. Dari situ selalu berkaitan dan bahkan menimbulkan hambatan atau gangguan-gangguan emosional.

Sedikit banyak saya mendapat nuansa RET dalam bait per bait tulisan Aa Gym, emosionalitas ini menggiring saya untuk memperbandingkan keduanya dalam frame ilmiah. Jika Ellis bergerak pada domain pikiran/rasio, Aa Gym lebih menitikberatkan pada ketidakberesan hati sebagai akar masalah. Aa Gym lalu menyeret hati ini sebagai terdakwa yang membius pikiran. Jadi secara istilah saya lebih memilih untuk membaliknya.

Aa Gym mengatakan bahwa masalah jangan dibawa hati letakkan ia sebagai masalah. Letakkan sepatu sebagai sepatu jangan dibawa ke hati, letakkan kedudukkan sebagai kedudukkan, jangan ditaruh di hati. Inilah yang membedakkan keduanya.

Konsep dari Aa Gym ternyata juga memiliki self defense mechanism yang otentik. Kita melihat dengan seksama, bahwa sikap untuk tidak mengeluh adalah pengalihan diri kita agar bersikap tenang dalam menghadapi masalah. Ketenangan adalah usaha yang membawa kita tulus-ikhlash dalam menghadapi cobaan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana ketenangan itu bisa kita raih? Aa Gym menyitir surat Ar-Ra’d ayat 13

Alaa bidzzikrillahi tathmainnul quluub

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Jadi kunci untuk meraih hati yang tenang adalah dengan cara mengingat Allah, menggerakkan hati, pikiran, dan lisan untuk merenungi setiap episode hidup yang membebani. Dengan begitu insya Allah kita terbebas dari belenggu selama ini yang mengikat diri kita.

Aa Gym dengan Emotif rasionalnya telah menjadi mutiara orang-orang yang sudah lelah berfikir mencari tahu jatidiri dan memecahkan problem kehidupan melalui pemberhalaan rasio. Ternyata Aa Gym ingin memberi tahu kita bahwa jangan pernah melupakan hati, dan ajak ia tenang melalui pintu Allah. Begitulah.

Akhirnya sebagai penutup saya berimajinasi ketika Aa Gym dengan kesederhanaan konsepnya memberi salam kepada Viktor Frankl. Danke A!!

Sekilas Tentang Perencanaan Program

PERENCANAAN PROGRAM

I. PENDAHULUAN
Sebagai suatu wadah, Human Service Organization (HSO) merupakan oragnisasi/lembaga tempat dimana kegiatan pelayanan kemanusiaan atau kesejahteraan sosial dilaksanakan. Kegiatan HSO bukan dominasi atau monopoli bidang sosial saja, melainkan bidang-bidang lainnya yang bergerak dalam kesejahteraan sosial seperti kesehatan, pendidikan, hukum dan lainnya.
HSO tumbuh sebagai jawaban dari kebutuhan pelayanan bagi masyarakat oleh keluarga maupun pasar. Lembaga ini memastikan pelayanan yang dapat diperuntukkan bagi seluruh warga Negara tanpa kecuali. Oleh karena itu visi dari HSO haruslah memberikan pelayanan professional sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.
Untuk meningkatkan profesionalitas seuatu HSO perlu mempunyai perencanaan program yang baik, dan berorientasi kepada pelayanan kliennya. Sebagai usaha peningkatan profesionalitas para pelaksana dan lembaganya, perencanaan program selanjutnya akan dibahas dibawah ini.
Perencanaan merupakan salah satu fungsi managerial yang mendasar yang terdiri dari sejumlah tugas, antara lain :
1. Menetapkan kebijakan, tujuan, standar dan pedoman
2. Pengembangan anturan-aturan prosedur
3. Pengembangan perencanaan
4. Memperhatikan lingkungan yang teliti.
Bentuk perencanaan diterjemaahkan melaui program-program yang dapat diinterpretasikan sebagai :
1. Proses apa yang sedang dikerjakan
2. Target pelayanan
3. Hasil yang akan dicapai
4. Intervensi termasuk juga kebijakan

Setidaknya secara spesifik perencanaan harus mengandung unsur :
1. Apa ?
2. Siapa ?
3. Kapan ?
4. Bagaimana ?
5. Dimana ?
Pentingnya perencanaan program hingga keberhasilan suatu kegiatan tergantung kepada perencanaan yang digunakan. Apa bila perencanaan tersebut baik maka kemungkinan akan menghasilkan kegiatan yang baik pula, demikian pula sebaliknya.

II. PEMBAHASAN
1. Model-model perencanaan program
Terdapat sejumlah faktor penting yang terdapat dalam perencanaan pelayanan kemanusiaan, yang di singkat AVICTORY, antara lain :
a. Ability atau kemampuan
b. Value atau nilai-nilai
c. Information atau informasi
d. Circumstances atau perihal
e. Training
f. Obligation
g. Resintance
h. Yield
Pentingnya perencanaan program hingga keberhasilan suatu kegiatan tergantung kepada perencanaan yang digunakan. Apa bila perencanaan tersebut baik maka kemungkinan akan menghasilkan kegiatan yang baik pula, demikian pula sebaliknya.
Perencanaan program dilakukan agar pelaksanaan manajemen lebih efektif sehingga dapat menghasilkan atau mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebagaimana mestinya. Seperti terlihat dalam gambar dibwah ini.
Gambar 6.1 Tujuan Manejemen Efektif

Sumber: Christian, WP.and Hannah, G.T. (1983) Manajemen efektif pada
pelayanan manusia, Prentice Hall, Englewood Cliffs, N.J.,p.15.

Elemen itu dapat digunakan untuk bekerja melalui sistematis tahapan-tahapan, garis besarnya dalam Gambar 6.1, yakni analisis, implementasi dan pengukuran. Suatu perencanaan program dapat disusun dengan menggunakan model logis yang memuat tentang :
a. Alokasi sumber untuk program
b. Maksud aktivitas program
c. Harapan hasil program
d. Asumsi hubungan penyebab

2. Isu-isu yang muncul pada tahap analisis perencanaan
Beberapa kompleksitas yang muncul dari implementasi program telah tercatat seperti dalam pembuatan keputusan dan komunikasi, konflik dan perubahan manajemen. Beberapa isu yang sering muncul dalam analisis perencanaan sebagai berikut :
a. Penggabungan masalah dengan konsep dan pengukuran kebutuhan;
b. Perumusan pernyataan misi, tujuan dan spesifikasi obyek;
c. Mendefinisikan suatu masalah Nilai dan posisi teoritis yang disediakan, untuk analisis, mata rantai hubungan penyebab, pendefinisian masalah atau kondisi yang dialamatkan dan perancangan komponen program untuk memperoleh pengaruh yang kuat pada kondisi itu. Contoh, kekerasan terhadap anak disebabkan oleh sumber-sumber yang tidak tercukupi dan faktor struktural, suatu kecenderungan untuk menolak program pertolongan.
d. Angket atau questioner yang digunakan

Kebutuhan pengukuran
Ini adalah konsep yang telah menimbulkan sejumlah perhatian pada kebijakan sosial dan manajemen pelayanan manusia. Definisi kebutuhan sangatlah kompleks dapat diukur dengan siapa butuh, dan oleh standar apa; perbedaan antara kebutuhan, keinginan dan permintaan, dan keabsyahan kebutuhan. Kompleksitas permasalahan membutuhkan definisi, dan perkembangan suatu jawaban yang mencukupi, melalui menerima sejumlah perhatian dalam kebijakan sosial. Satu perumusan awal kebutuhan oleh Bradshaw 1972, yang mana dia membedakan antara perasaan, ekspresi, normatif dan kriteria penggunaan dalam pemenuhannya. Hamilton-Smit (1975), Ife (1980) dan Martin (1982) telah mengkritik pentingnya pengembangan semua konsep, dan perluasan pemikiran Bradshaw dalam kontek Australia. Martin membuat suatu manfaat perbedaan antara kebutuhan yang didefinisikan penerima pelayanan dan penyedia pelayanan, dan kami bersedia untuk konsequen bekerja pada perbedaan ini.
Perumusan pernyataan tugas dan spesifikasi tujuan dan obyek
Ini adalah suatu wilayah dimana manager sering mengalami beberapa kesulitan. Pernyataan tugas adalah pernyataan umum akan tujuan organisasi, dan kadang-kadang mengambarkan philosofi organisasi atau program. Ciri pernyataan tugas antara lain:
a. Menyediakan tempat tinggal dan pelyanan perawatan kesehatan untuk orang tua
b. Menyediakan satu pelayanan akomodasi darurat untuk subyek wanita yang megalami kekerasan rumah tangga
Pernyataan tugas, idealnya, harus menjelaskan populasi konsumen atau potensi tugas konsumen sebagai tujuan, kealamiahan pelayanan yang disediakan, tipe yang menyangkut fasilitas, meskipun aspek ini biasanya kurang jelas, termasuk tipe personel yang akan mengimplementasikan program.
Tujuan lebih spesifik dari pernyataan tugas, dan idealnya (dan ada kemungkinan) terdefinisikan dalam istilah yang terukur, dapat tercapai dan komponen yang terlihat. Pernyataan sebaiknya :
a. Menjelaskan aktivitas utama oleh pengunaan kata yang salah yang berorietasi tindakan, contoh dalam memajukan sejumlah pribadi yang terinfeksi HIV untuk mengunakan program perawatan setempat;
b. Identifikasi menurut kondisi kunci yang mana penyelenggaraan diharapkan terjadi, oleh spesifikasi tujuan yang tunggal, contoh pengembangan suatu model kolaborasi perawatan dengan pelayanan perawat rumah;
c. Indikasi tingkatan pelaksanaan yang dipertimbangkan dapat diterima. Ini mungkin juga memuat suatu elemen waktu, contoh semua kasus diketahui dalam wilayah depertemen kesehatan khususnya adalah penerimaan pelayanan, jika diinginkan, selama enam bulan berikutnya.

Denifinisi masalah dan desain program
Wilayah ini penting sebab definisi masalah dan desain program menghadapi nilai dan teori. Nilai menyediakan penyokong program – pembenaran dan keabsyahan definisi masalah serta desain program – juga memberikan bentuk akan tingkatan intervensi dan lokasi definisi masalah dan desain program, ketika menyediakan penyokong teoritis sesuatu yang rasional untuk penggolongan membuat intervensi.
Bentuk yang berbeda dari konflik dapat terjadi, dan, meskipun tidak termuat sebagai elemen nilai yang jelas, boleh jadi hampir sebagai fundamental. Konflik ini muncul melebihi orientasi teori yang diambil dalam peraturan pada program yang rasional.
Beberapa wilayah intervensi terlalu baru dan asli contoh :
– Program pemberantasan AIDS, yang membawa mereka berpengaruh pada sejarah teori dan kerja penelitian untuk kebenaran program.
– Isu kekerasan dalam rumah tangga, program tidak mungkin hanya baru ( tempat perlindungan perempuan) tetapi juga boleh jadi tantangan yang didasarkan pada penjelasan awal pada teori kepribadian tentang tentang hubungan sado-masochistic (orang yang suka menderita).
– Program di wilayah penyiksaan anak, AIDS dan promosi kesehatan akan bekerja dalam lingkungan pada nilai dan perselisihan tingkat tinggi, dengan eksperimen atau pilot program.
Dalam banyak cara program dapat mempertimbangkan aksi penelitian program, dan setiap aspek intervensi menjadi variabel untuk dipelajari. Hendaknya setiap intervensi dicatat sebagai potensi penelitian aksi yang melekat dalam program pelayanan kemanusiaan.
Untuk contoh, perancangan program pendidikan teman sebaya untuk resiko tinggi tertular HIV, hanya ada sedikit yang perencana lakukan dalam perencanaan program. Mereka harus meninjau, karenanya, perlu melihat literatur dan penelitian pada tingkah laku kelompok kecil, teori-teori pembentukan sikap, dan hubungannya dengan perubahan tingkah laku, pengunaan metode kelompok teman sebaya dalam hubungannya dengan pendidikan alkohol dan obat-obatan, persepsi resiko menguasai orang muda, dan akhirnya, studi perbandingan pada pemeliharaan perubahan tingkah laku digunakan metode berbeda dalam intervensinya (kelompok kecil, individual, counseling).
Dengan perkembangan yang cepat di lapangan utamanya datang dari pendidikan kesehatan dengan model yang didasarkan pengembangan program pada sejumlah tahap proses yang khusus, termasuk model, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Ada kesan yang tipis terhadap yang terjadi pada mereka, melewati waktu, terhubung dengan perputaran pengembangan program serupa. Perputaran program itu termasuk tahapan pemandu, diikuti dengan program eksperimen, demontrasi program, dan melembagakan program. Peranan evaluasi dalam kerangka kerja utama berkontribusi jelas untuk perumusan putaran feedback (pengaruh balik). Ini terjadi pada setiap tahapan dalam proses dan pada setiap tahapan perkembangan program.

Daftar Pertanyaan pada Perencanaan Program
Tidak ada yang berharga dalam daftar pertanyaan pada perencanaan program, seperti pada tabel 6.2, yang memuat elemen seperti dijelaskan diawal pada model perencanaan program yang berbeda. Peralatan seperti ini dapat digunakan dalam perencanaan program, khususnya ketika program itu dalam area baru untuk intervensinya.

3. Pemasaran sebagai alat perencanaan program
Chisnall (1979), seorang yang memberikan argumen untuk penerapan teknik pemasaran untuk pengembangan kesehatan dan program kesejahteraan, yang mengatakan:
Swasta sebagai sektor bisnis dan publik sebagai organisasi kesejahteraan memiliki motivasi yang terbaik, tetapi mereka membagi obyek secara bersama: menyediakan keuntungan yang dapat diterima anggota-anggota, apakah mereka digambarkan sebagai konsumen, pasien atau klien. Alokasi yang paling optimal dari sumber-sumber daya ini bukan hanya berhubungan dengan perusahaan-perusahaan komersial tapi juga secara langsung berhubungan dengan orang-orang yang merumuskan kebijakan tentang pelayanan publik.

Tabel 6.2: Daftar Pertanyaan Prencanaan Program
a. Kelompok sasaran tertentu. Siapa yang beresiko ? resiko apa yang ada pada mereka ? apa masalahnya ?
b. Sasaran intervensi. Apa yang kita pahami ? bagaimanakah menghubungkan teori prubahan perilaku dengan program-programnya ? mengapa orang-orang datang pada peksos dan bagaimana mereka mengakses pelayanan ? bagaimanakah para pengguna pelayanan secara tipikal ”mengemas” pelayanan peksos dengan yang tersedia ?
c. Pengalaman. Pelajaran apakah yang kita peroleh dari kegiatan – kegiatan yang sama dimasa lalu yang akan membantu kita dengan kegiatan ini ?
d. Pihak lain. Siapakah yang akan kita tiru dari pekerjaan-pekerjaan pihak lain ? apakah orang lain melakukan hal yang sama dan kita mampu mengkaitkan-nya ?
e. Keahlian. Siapakah orang yang paling baik untuk memberi nasehat pada pekerja sosial tentang jenis kegiatan ini ? umpan balik seperti apa dari konsumen yang akan membantu kita dalam pendisainan (program) ?
f. Latar belakang. Penelitian dan pre-evaluasi. Bagaimana cara kita mendapatkan apa yang paling berpengaruh bagi kelompok sasaran ?
g. Keterlibatan masyarakat. Bagaimana kita mendapatkan kelompok target yang terlibat dalam semua tahapan pada kegiatan ini ?
h. Pengembangan masyarakat. Bagaimana kegiatan ini mampu mengembangkan kepedulian masyarakat terhadap kelompok sasarannya ? mengapa ini penting ?
i. Teknologi. Teknologi apa yang paling efektif untuk memunculkan program ini ?
j. Sumber-sumber. Staf (digaji dan tidak digaji) uang, bangunan. Apa yang diperlukan ? apakah tersedia ? dimana kita dapat mendapatkannya ?
k. Masalah. Masalah-masalah apa yang mungkin kita hadapi ?
l. Evaluasi. Bagaimana kita tahu apakah intervensi ini berhasil ?

Daftar ini mengangap penelitian marketing bukan merupakan suatu konsep yang mencampuradukan dengan pelayanan-pelayanan manusia secara keseluruhan dan akar dari penelitian marketing memanipulasi survei-survei sosial sebelumnya yang dirintis oleh para perencana program sebelumnya seperti Booth dan Rowntree. Telah ada beberapa resistansi terhadap penelitian marketing seperti yang telah digambarkan pada awal paragraf.
Penelitian riset adalah pembatasan kebutuhan dan memandang isu-isu seperti permintaan pelayanan-pelayanan yang semuanya secara resmi diaplikasikan dalam keahlian marketing untukmembantu dalam meyakinkan secara lebih efektif perencanaan program pelayanan masnuia.
Seperti telah dikemukakan, ada banyak instansi dimana penelitian marketing dapat dijadikan nilai tertentu bagi organisasi pelayanan manusia. Sejumlah studi pendidikan kesehatan menampilkan penggunaan penelitian marketing dalam mengevaluasi keefektifan kampanye-kampanye poster terhadap larangan merokok serta menginvestigasi pengetahuan dan perilaku sebagai penyakit kelamin sebelum kampanye tentang pelayanan masyarakat semakin gencar.

Marketing dan pekerjaan sosial
Dalam pengembangan pendekatan ini, Holmes Reicken (1980) telah menggambarkan tentang analisis-analisis sebelumnya tentang dua hal utama yaitu ketentuan-ketentuan tentang organisasi non profit dimana klien dan donatur berada dalam suatu organisasi yang menerima sumber-sumber daya. Mereka juga mempunyai identitas keberdaan dalam HSO, mencakup klien , sumber pendanaan, anggota staf, susunan kepemimpinan, sukarelawan, agen-agen rujukan, akreditasi atau perijinan lembaga, klien yang mempunyai prospek memadukan pelayanan masyarakat dengan organisasi lain.
Penggunaan konsep pendekatan marketing dalam organisasi harus dilaksanakan dengan hal-hal sebagai berikut :
a. Menarik sumber-sumber daya.
b. Mengubah sumber-sumber daya dalam suatu penawaran pasar/produk ke dalam bentuk-bentuk program.
c. Menyalurkan penawaran-penawaran ke dalam berbagai market organisasi.
Marketing pertukaran antara barang-barang yang bernilai dengan barang-barang yang bernilai lain. Gaji ditukar dengan pelayanan mekanis dimana di setiap bagian ditawarkan suatu intensip untuk bekerja sama dengan organisasi tersebut.

Strategi pemasaran
Pelaksanaan pertukaran adalah memberikan kepuasan bagi semua bagian yang membutuhkan strategi marketing. Dua keputusan dasar yang dilibatkan dalam penentuan startegi ini adalah pasar. Perpaduan pemasaran dapat dijelaskan dalam empat P : product, price, place and promotion.
Tabel 6.3: Memadukan Pasar dan Pemasaran dalam Organisasi
Pelayanan Kemanusiaan

Harga Tempat Promosi Produk
1 2 3 4 5
Klien Biaya pelayanan
Kebutuhan komitmen
Biaya fisik permohonan bantuan Aksesbilitas lembaga (tempat parkir, rute bis)
Jangkauan luar dan kunjungan rumah
Jam kerja lembaga
Kebijakan yg diambil
Suasana kerja
Kegiatan luar
Surat kabar
Tindak lanjut
Iklan Keuntungan
Peringanan masalah
Perubahan sosial
Staf Biaya kerja
Biaya tenaga
Komitmen dengan waktu yg disesuaikan
Menerima tujuan dan filosofi lembaga
Suasana kerja
Aksesbilitas
Jam kerja
Efesiensi
Pribadi Penerimaan staf
Permohonan dana Permanfaatan profesional melalui pemberian pelayanan
Pengembangan profesional dan pribadi
Gaji
Moral
Pimpinan / Direktur Komitmen waktu
Biaya kerja
Biaya tenaga
Menerima filosofi dan tujuan lembaga
Aksesbilitas
Hiasan
Pemeliharaan biaya dan penurunan harga
Efesiensi Penerimaan dewan anggota dan dewan pengurus
Permohonan dana
Tujuan organisasi kedepan
Kekuatan/kebanggaan
Status/pengenalan
Kepuasan pribadi
Mempertemukan nilai pribadi
Sumber pendanaan Biaya pelayanan
Biaya pengeluaran tambahan
Menyetujui kebutuhan monitoring
Pengaruh reputasi Aksesbilitas
Biaya pengeluaran tambahan
Efisiensi Evaluasi penelitian/
kemampuan melakukan pelayanan
Reputasi lembaga
Penghargaan
Bebas pajak
Penyelenggaraan pelayanan sebagai kontrak
Perubahan sosial vs status quo
Kualitas profesional

Sumber : Holmes, J dan Reiken G (1980) ”Using Business Marketing
Conceps to View the Private, Non Profit, Social Service Agency” Administrasi Social Work 4 (3), pp 48-49

Konsep Permintaan
Orientasi pemasaran adalah keberanian menemukan cara-cara baru berfikir tentang memodifikasi dan menggolongkannya, tetapi kesulitan akan muncul dalam oreintasi tersebut misalnya kecenderungan dan fokus pada permintaan dari pada kebutuhan. Hal ini untuk mengkonseptualisasikan bentuk-bentuk permintaan termasuk negatif, non eksisten, laten, kebimbangan , iregular dan keseluruhan bentuk-bentuk permintaan lainnya (Kotler : 1975). Pekerja sosial harus memikirkan desain programnya dalam bentuk pertemuan normatif, demonstrasi atau memunculkan kebutuhan-kebutuhan dan permintaan-permintaan yang tidak direspon, atau ’keinginanan’ yang tidak dilegitimasi oleh teori-teori normatif.

Perminataan negatif
Genkins (1985) menawarkan sebuah kerangka yang diintegrasikan oleh dua konsep dari kebutuhan dan permintaan, serta difokuskan pada empat bentuk-bentuk permintaan yang lebih negatif. Permintaan negatif atau situasi dimana banyak semen-segmen penting dari pada suatu yang potensial tidak menyukai produk, sehingga membutuhkan pemikiran tentang program-program pekerjaan sosial. Ini bukanlah situasi hitam putih, hal yang terlihat sebagai fase-fase dan perubahan-perubahan yang ditekankan. Beberapa tahun lalu di Victoria menekankan perubahan pada keadilan sosial, nilai-nilai dan ideologi-ideologi.

Tabel 6.4: Konseptualisasi dan Menetapkan persaingan sesuai Tuntutan
Pasar dalam Perencanaan Program

a. Menetapkan, kemungkinan kekhususan, berbagai target pasar dari organisasi. Siapa penerima layanan dari organisasi?. Apa yang diidentifikasikan pasar oleh organisasi? Ada keyakinan termasuk staf, dewan direktur, lembaga pendanaan yang signifikan dan pasar merupakan sesuatu yang penting bagi keberfungsian organisasi. Contoh, lembaga mungkin mempercayakan secara berat pada sukarelawan, meskipun yang lain sangat tergantung pada sumber rujukan.
b. Secara garis besar pemasaran memadukan pasar dengan menggunakan empat pendekatan (lihat juga ulasan di awal pada kosep harga dalam kontek ini). Letakkan hasil masuk ke matrik seperti dalam gambar 6.3 dengan bekerja melewati matrik untuk tiap-tiap target. Bagaimana pasar akan mempertimbangkan tiap-tiap produk yang diterima. Apakah harga pasar sesuai dengan produk? Dari mana pasar menerima produk? Bagaimana pasar menerima informasi tentang organisasi ?
c. Memimpin untuk masing-masing pasar dengan audit pemasaran, menguji persepsi berbagai pasar akan produk lembaga, harga, promosi dan tempat aktivitas. Apakah pandangan pasar serupa dengan perpaduan pemasaran sebagai pandangan lembaga? Apakah ada salah persepsi? Bagaimana mereka dapat mengeliminasi? Apakah pelayanan sering mempertemukan kebutuhan dengan pasar? Apakah harga permintaan cocok dengan pasar masing-masing? Apakah produk sepadan dengan tuntutan harga untuk masing-masing pasar?
d. Lihat interaksi dari empat pendekatan untuk seluruh target dengan melihat kemerosotan matrik untuk masing-masing pendekatan. Apakah ada titik konflik? Apakah ada sejumlah konflik yang berlanjut? Dimana konflik serupa muncuk kedepannya? Contoh, lingkungan kerja lembaga sangat efesien dan nyaman bagi staf tetapi dingin dan kurang dalam kontak kemanusiaan dengan klien. Ini tercermin oleh penjagaan resepsionis ini yang mengelincirkan dalam banyak kantor yang menunjukkan konflik di tempat itu.
e. Lihat organisasi. Apakah objektif? Apa programnya? Apakah kekuatan dan kelemahan organisasi didasarkan pada audit pemasaran dan evaluasi pada interaksi pasar.
f. Kumpulan prioritas kepuasan dari kebutuhan pasar untuk masing-masing isu yang utama, berdasarkan analisis perpaduan pasar, titik-titik konflik dan audit organisasi. Menentukan kebutuhan pasar-pasar yang mana menerima prioritas dan eleman-elemen yang mana untuk perpaduan pasar yang banyak krusial untuk mensuplai kebutuhan kepuasan, apakah lembaga dapat merubah elemen penyediaan kepuasan.
g. Untuk memperhatikan isu, lihat pada pengaruh perubahan dalam perpaduan pasar. Jika pelayanan secara alamiah dirubah, contohnya, apakah dibutuhkan perubagan harga, lokasi dan lain-lain?
h. Melihat pengaruh-pengaruh dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam menyelaraskan dengan pasar lain. Bagaimana sebuah perubahan dalam menyeimbangkan pengaruh pasar yang satu dengan pasar lainnya ? Bagaimana perubahan klien dalam pelayanan mempengaruhi staf ? Apakah perubahan membutuhkan perubahan kebijakan yang dipertimbangkan dewan direktur, untuk meningkatkan ”harga” pelayanan ?
i. Melaksanakan suatu analisis cost-benefit yang berdasarkan susunan prioritas pada langkah no. F. Pelaksanaan perubahan-perubahan akan semakin menghasilkan suatu kepuasan yang merupakan pangsa pasar yang paling krusial pada saat mengurangi gangguan-gangguan terhadap pasar lain.
j. Karena organisasi, pasar dan lingkungan bersifat dinamis, maka proses tidak pernah komplit tetapi berlanjut.

Ini sudah bisa diberitahukan dalam program perawatan masyarakat dan perumahan. Sejumlah cara untuk menggunakan marketing konvensional termasuk program-program komunikasi, himbauan-himbauan tentang dasar-dasar nilai positif, modifikasi tentang perasaan-perasaan negatif melalui pendidikan dan menahan biaya-biaya tinggi yang tidak mampu dijangkau. Sehingga klien membutuhkan kelompok pendanaan untuk mendapatkan pelayanan-pelayanan yang tidak dapat dijangkau
Tidak ada permintaan
Tidak ada permintaan menggambarkan suatu keadaan tentang berkurangnya sesuatu yang negatif dibandingkan dengan permintaan negatif, dan menerapkan obyek-obyek yang familier tapi diterima sebagai sesuatu yang tidak ternilai. Sedang obyek-obyek yang bernilai tidak terdapat dalam pasar-pasar tertentu. Dalam bidang pelayanan manusia, para pekerja sosial sering bekerja dalam keadaan tidak ada permintaan. Seperti pencegahan kehamilan di kalangan remaja dan program penyalahgunaan NAPZA. Pemasaran secara stimulasi bertujuan mencegah permasalahan-permasalahan ini dengan melibatkan pemikiran dan ide-ide tentang kesadaran dan kepentingan masyarakat.

Permintaan tersembunyi
Permintaan tersembunyi muncul ketika sejumlah substansi tentang orang-orang yang berusaha membagun keinginan yang kuat terhadap sesuatu yang tidak ada dalam produk-produk aktual. Dan ini bisa dikatakan kebutuhan tersembunyi karena kebutuhan tersebut bisa dirasakan tetapi tidak bisa diterjemahkan sebagai suatu permintaan, baik karena orang-orang tidak sadar bahwa ada suatu proses untuk melakukannya atau karena mereka tidak percaya bahwa kebutuhan tersebut dapat terpenuhi. Oleh karena itu jangan mengambil langkah tambahan dalam menterjemahkan kebutuhan-kebutuhan sebagai suatu permintaan.

Permintaan yang membingungkan
Permintaan yang membingungkan adalah suatu keadaan dalam permintaan terhadap suatu produk tidak sebanyak daripada tingkat sebelumnya dan dimana permintaan selanjutnya tidak diharapkan adanya usaha-usaha perbaikan untuk target pasar, produk, atau usaha-usaha marketing. Banyak organisasi pekerjaan masyarakat yang dibentuk sebagai respon terhadap artikulasi dari permintaan-permintaan tertentu, yang mungkin sekarang sedang berjalan dalam suatu permintaan yang membingungkan dimana merka harus menunjukan relevansi secara terus menerus dari produk yang sedang mereka tawarkan.

Kekadaluwarsaan program
Dalam suatu observasi penting bagi para perencana program, Clifford (1971) mencatat bahwa kekadaluarsaan program terjadi karena beberapa alasan. Yang dapat disimpulkan sangat sukar bagi organisasi pelayanan manusia untuk memikirkan bahwa mereka sedang bersaing dalam pendanaan, bukan hanya dengan non HSO tapi juga dengan sektor-sektor pelayanan lain. Tetapi satu sama lain berada dalam aturan-aturan tentang pelayanan ini, sebagai contoh dalam bidang kesehatan dimana orang-orang memberikan advokasi pendekatan-pendekatan kesehatan masyarakat yang secara langsung berkompetisi dengan orang-orang yang melakukan advokasi pada tingkat lebih tinggi terhadap pelayanan-pelayanan yang berbasis institusional atau pelayanan-pelayanan yang lebih terpusat.
Program merupakan suatu produk yang perlu dikhususkan, fleksibel, dapat dicapai dan mempunyai manfaat kompetitif.
Karakteristik-karakteristik dari produk di bidang program pelayanan manusia secara eksplisit dikendalikan oleh strategi keadilan sosial dalam pemerintah negara bagian Viktoria.

Tabel 6.5 : Alasan – alasan Kekadaluwarsaan Program (yg mewajibkan program diganti)
a. Kebutuhan dan atau permintaan mungkin sudah tidak tampak.
b. Ada produk yang lebih baik, murah dan lebih menyenangkan yang mungkin dikembangkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang sama.
c. Suatu program yang kompetitif yang mungkin melalui marketing superior yang secara cepat bisa mendapatkan suatu manfaat yang sangat meyakinkan.
d. Program menjadi modern karena adanya berbagai alasan ideologi atau personal (kepala badan harus menemukan ide-ide baru).
e. Permintaan atau kebutuhan mungkin tidak nampak dalam realitas kehidupan.
f. Faktor-faktor adanya pola baru untuk kepentingan sendiri. Waktu bisa diartikan sebagai suatu faktor yang signifikan, sebagai contoh : karena sudah ada pemikiran yang lebih baru, suatu lembaga mungkin menganggap lembaganya sendiri lebih baik daripada organisasi-organisasi tradisional yang berhubungan dengan isu-isu tersebut.

Para pekerja memiliki peranan yang sangat penting dalam meninterprestasikan kebijakan lembaga dan mempraktekannya kepada klien. Supaya hal tersebut berjalan secara efektif maka mereka harus meyakini terhadap produk pelayanannya kepada klien. Lauffer (1986:31) menyatakan bahwa pendekatan pemasaran :
”……. adalah suatu yang sangat cocok dengan nilai-nilai kemasyarakatan yang ditujukan dalam pernyataan para pegawai dari HSO. Dengan menempatkan perhatian pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang terlibat, mungkin meningkatkan program pelayanan yang responsif. Sebuah program yang kaku untuk bertahan terhadap goncangan dan kondisi lingkungan yang tak menentu. Dalam kasus ini, etika yang baik menghasilkan perasaan yang baik”.

Perencanaan dan pemasaran sosial
Strategi pemasaran adalah sebuah pendekatan dengan maksud untuk mengatur aliran sumber-sumber dan produk di antara organisasi dan lingkungannya, dan pemasaran menjadi strategis ketika menerangkan kebutuhan dan kepentingan masyarakat dengan berbagai kunci dalam mengembangkan dan menyampaikan program serta pelayanan-pelayanan lembaga. Orientasi pemasaran memperlihatkan kepuasan konsumen, kapasitas penyedia pelayanan dan kepentingan para suplier sebagai kunci untuk mendefinisikan dan mencapai tujuan organisasi.
Pemasaran sosial terdiri dari sejumlah tahap dan ciri-ciri tersendiri, yang mana cocok untuk perencanaan sosial, adiministrasi dan prinsip dan praktek pengorganisasian masyarakat. Hubungan masyarakat terfokus pada pencapaian publisitas dan visibilitas untuk sebuah produk, yang merupakan elemen penting dalam praktek advokasi dan pengembangan sumber. Untuk lebih jelas tentang perencanaan sosial dan perencanaan pemasaran, lihat tabel di bawah ini.

Tabel 6.6 Perbandingan Perencanaan sosial dan perencanaan
pemasaran
Perencanaan Sosial Perencanaan Pemasaran
1. Identifikasi masalah
2. Identifikasi tujuan dan sasaran
3. Identifikasi strategi alternatif
4. Rekomendasi dan menyeleksi strategi
5. Pelaksanaan strategi
6. Evaluasi 1. Analisis situasional
2. Penilaian tujuan
3. Menggali strategi
4. Rekomendasi strategi
5. Mengembangkan kreatifitas/media
6. penilaian

Keterbatasan pendekatan pemasaran untuk perencanaan program
Meskipun pendekatan pemasaran ditawarkan sebagai sebuah alat dalam perencanaan program, dalam waktu yang sama terdapat beberapa kesulitan dalam menyusun sebuah model pemasaran sosial untuk pelayanan manusia sebagai tandingan terhadap model pemasaran konvesional.

Tabel 6.7: Keterbatasan dan Masalah dalam Pemasaran Sosial
a. Permasalahan yang berhubungan dengan analisis pasar.
Kesulitan untuk memeproleh konsumen dan menganalisis data.
b. Permasalahan pembagian pasar
Kekurangan data yang reliabel sering kali menyulitkan untuk membagi pasar secara akurat.
c. Permasalahan strategi produk
Cenderung kurang fleksibel dalam menawarkan produk
d. Permasalahan strategi harga
Seringkali sulit untuk mengukur biaya sosial dan kurangnya kontrol terhadap biaya-biaya sosial tersebut.
e. Permasalahan strategi komunikasi
Pemasaran sosial harus mengkomunikasikan informasi-informasi dalam penyampaian pesannya
f. Desain organisasi dan masalah perencanaan
Para pemasar sosial biasanya beroperasi dalam situasi dimana masalah pemasaran sangat kurang dimengerti. Pemasar sosial harus beroperasi di dalam lingkungan yang sesuai dengan perencanaan dan dinyatakan dalam bentuk pengarsipan.
g. Permasalahan evaluasi
Para pemasar sosial seringkali mendapat kesulitan dalam mengidentifikasikan suatu pengukuran yang efektif, sulit untuk mengestimasi kontribusi program pemasarannya agar dapat meraih keuntungan dari tujuan-tujuan tertentu.

4. Perencanaan Program dalam Konteks Interorganisasi
Seorang manager pelayanan manusia harus mampu menjalankan program perencanaan dalam konteks inter organisasi. Ini berarti segala sesuatu yang menyangkut pembentukan jaringan merupakan bagian dari kesadaran organisasi yang lebih formal, mengkolaborasi hubungan dengan program-program lembaga lain serta mengembangkan program yang terintegrasi.
Perlunya pelayanan yang terintegrasi terutama pada basis regional yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Misalnya pelayanan terhadap orang-orang jompo yang disertai dengan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan.
Tetapi sistem koordionasi antar lembaga sudah barang tentu akan banyak menghadapi konflik, karena :
a. Perbedaan pandangan tiap oragnisasi dalam skema intervensi terutama jika pelayanan diberikan secara long therm.
b. Perbedaan nilai tiap organisasi.
c. Perbedaan opini atas desain dan perluasan pelayanan.
d. Perbedaan ukuran pelayanan yang efektif.
Dalam program integrasi antar pelayanan kesehatan dan kesejahteraan ada perbedaan yang cukup besar yaitu pelayanan medis dan non medis dan di antara pelayanan medis tradisional dan non tradisional.
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh para perencana program adalah dalam mendesain provisi pelayanan dengan komplemen-komplemen yang diminimalis yang menimbulkan konflik antar lembaga.
Terdapat keuntungannya untuk tidak mengeliminasi konflik secara keseluruhan karena dapat merupakan kekuatan tiap-tiap komponen sistem antar lembaga, dan untuk melihat desain pelayanan selanjutnya serta isu-isunya.

Tabel 6.8: Keuntungan Perencanaan Program yang Terintegrasi
1. Memperbaiki keefektifan staf. Koordinasi antar lembaga dapat meningkatkan sumber-sumber yang memadai bagi administrasi inovasi dalam sistem tersebut. Hal ini dapat mengantarkan kepada program staf baru, keterampilan baru dan ilmu pengetahuan baru sehingga integrasi ini dapat menghasilkan suatu program baru dengan cara-cara pelayanan terpadu yang lebih efektif.
2. Memperbaiki image publik. Persepsi para pengguna pelayanan akan lebih baik dan lebih kreatif melalui pengekpresian yang efektif.
3. Memperbaiki aksessibilitas klien. Pengguna pelayanan dapat memilih sistem pelayanan sesuai dengan pilihannya dengan penawaran desain pelayanan yang luas. Karena letak geografis, seseorang sering melakukan dan memilih sistem pelayanan sendiri, hal ini karena jangkauan pelayanan sangat menyulitkan , juga karena kekurangannya pemahaman mereka terhadap sistem sumber pelayanan.
4. Mengurangi pelayanan pragmentasi. Pelayanan diasumsikan bahwa orang yang banyak membutuhkan pelayanan harus dilayani secara holistik dan tidak boleh terputus-putus, dalam program yang terpisah.
5. Aspek ini memiliki dua dimensi yang memungkinkan, apakah non fragmentasi maupun proses perubahan sepanjang waktu sampai mengalami kemajuan logis sebagai respon penyembuhan.
6. Efesiensi yang besar. Koordinasi antara lembaga dapat menyebabkan pelayanan lebih spesifik dengan harga yang sama, bahkan jika pelayanan diberikan oleh suatu organisasi dengan lebih baik dan lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan.

Pendekatan Program Pelayanan
Austin, 1983 telah membedakan pelayanan melalui tiga tipe program pelayanan atau pendekatan, yaitu :
a. Model pasar
b. Model jaringan
c. Model administrasi publik
Model-model ini dapat dipergunakan sebagai suatu cara berfikir tentang desain pelayanan sistem penyebaran yang dapat diaplikasikan pada tingkat regional maupun sub regional.
Model pasar menitik beratkan pada peranan klien sebagai koordinator primer terhadap pelayanan dan berusaha meningkatkan kebebasan memilih dengan provisi finansial dan bantuan terhadap klien yang lain. Telah diusahakan beberapa bentuk pengujian pasar sebagai suatu pendekatan untuk model ini dan diperoleh hasil yang menunjukan pelayanan yang relevan.

Pengembangan Hubungan Antar Instansi/kemitraan
Mengintegrasikan hubungan-hubungan antar dua atau lebih organisasi. Faktor-faktor yang penting untuk efektifitas hubungan kerja meliputi:
– Kemampuan staf menjelaskan pandangan masing-masing lembaga atau pelayanan yang diberikan
– Persepsi ketersediaan sumber-sumber lembaga
– Menjelaskan aktivitas masing-masing lembaga
– Komunikasi oleh masing-masing lembaga
Keuntungan integrasi dua kali lipat. Pada individu klien, integrasi menyediakan pelayaan lebih di beberapa tempat. Pada level kebijakan dan perencanaan program, integrasi artinya organisasi dapat bekerja untuk saling melengkapi daripada kompetisi.

Tabel 6.9: Hubungan Integrasi

Hubungan administratif
1. Fiskal
• Anggaran bersama : sebuah proses dimana integrator duduk bersama seluruh penyedia pelayanan atau secara individu untuk mengembangkan anggaran.
• Dana bersama : Sebuah proses diamana dua atau lebih penyedia pelayanan memberikan dana untuk mendukung pelayanan-pelayanan.
• Transfer dana : Dalam hal ini dana awal yang digunakan untuk satu pelayanan akan dipindahkan sehingga dapat digunakan oleh pelayanan-pelayanan yang lain.
• Pembelian pelayanan : Kesepakatan formal tentang yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan termasuk kontrak tertulis antara ingrator dan penyedia pelayanan untuk memperoleh pelayanan.

2. Praktek-praktek personalia
• Administrasi gabungan personalia : Ketetapan utama dari beberapa atau seluruhnya antara lain menggaji, memecat, mempromosikan, menempatkan, mengelompokan, melatih, dan lain-lain.
• Menggunakan staf bersama : Dalam kasus dimana dua agensi yang berbeda memberikan pelayanan dengan menggunakan staf yang sama.
• Tranfer staf : Dalam kasus dimana seorang pekerja digaji oleh sebuah agensi tetapi ia berada di bawah pengawasan administratif agensi lain.
• Staff Outstationing : Penempatan dari penyedia pelayanan dalam fasilitas penyedia pelayanan yang lain.
• Colocation : Penempatan staf oleh penyedia pelayanan dalam fasilitas yang biasa.

3. Perencanaan dan Pemograman
• Perencanaan bersama : Keketapan bersama dari total sistem kebutuhan pelayanan dan prioritas selama proses perencanaan.
• Pengembangan mengoperasikan bersama kebijakan-kebijakan : proses terstruktur dimana kebijakan-kebijakan, prosedur-prosedur, aturan-aturan dan administrasi pemerintah ditetapkan secara bersama.
• Program bersama : Pengembangan bersama dari solusi-solusi yang terprogram untuk mengidentifikasikan masalah-masalah dalam relasi keberdaan sumber daya.
• Berbagai informasi : Menukar informasi tentang sumber-sumber daya, prosedur dan penerimaan legal (bukan klien individu) antara proyek integrator dan berbagai penyedia pelayanan.

4. Pendukung administrasi pelayanan
• Membuat catatan : Mengumpulkan, menceritakan dan menyebarkan inforasi-informasi tentang klien, termasuk standarisasi dan atau sentralisasi informasi-informasi kasus, serta prosedur-prosedur untuk menjalankan informasi.
• Manajemen bantuan : Melayani bantuan-bantuan dalam bentuk uang.
• Pelayanan pendukung utama : Tergabung atau tersentralisasikannya ketentuan pelayanan-pelayanan misalnya memerikasa, membeli, merubah material dan perlengkapan, serta pelayanan-pelayanan konsultasi.
• Hubungan-hubungan pelayanan langsung

Hubungan pelayanan langsung
1. Pelayanan inti
• Pencapaian : Perekrutan klien secara sistematik
• Intake : Proses (termasuk ketetapan-ketetapan yang layak) menghasilkan izin dari klien untuk mendapatkan pelaynan langsung.
• Diagnosa : Pengungkapan kebutuhan-kebutuhan pelayanan bagi klien.
• Rujukan : Proses dimana klien dihubungkan pada penyedia pelkayanan yang lain.
• Bimbingan lanjut : Proses yang digunakan untuk menetapkan bahwa klien meneroma pelayanan-pelayanan pada lembaga tempat mereka dirujuk, secara umum membantu mereka untuk menegosiasikan sistem pemberi pelayanan.

2. Bentuk-bentuk koordinasi kasus
• Konferensi kasus : Pertemuan antara integrator-integrator dan staf lembaga yang menyediakan pelayanan untuk membantu keluarga dalam mendiskusikan tujuan baik secara umum maupun spesifik, yang mungkin dapat menentukan tindakan dan memberikan tanggungjawab pada agensi untuk mengimplementasikan solusi-solusi.
• Koordinasi kasus : Anggota staf bertangungjawab untuk menjamin ketentuan-ketentuan pelayanan dengan penyedia yang cukup banyak untuk memberikannya kepada klien.
• Team kasus : Merencanakan / menyusun jumlah anggota staf dan juga menunjukan perbedaan disiplin atau kerja dengan anggota-anggota yang berbeda dalam lingkungan keluarga, bekerja bersama untuk menghubungkan wilayah-wilayah pelayanan dari penyedia pelayanan bagi klien (yang membedakan antara konferensi kasus team kasus adalah bentuk ketetapan termasuk sistematika inateraksi antara anggota-anggota dengan team

Sumber: Gans,S. And Horton, G.(1975) Integration of Human Services,
Praeger, New York.

Salah satu masalah yang dialami oleh Gans dan Horton’s (1975) dalam menghubungkan kerangka-kerangka tersebut adalah kebutuhan agar terlihat sebagai tipe yang ideal. Administratif dan pelayanan langsung harus dapat diletakan pada satu program. Dimana sasaran dapat dilayani oleh kedua agensi yang berbeda, masalah-masalah diintegrasikan sebagai hal yang penting. Salah satu contoh adalah ”dual – track” sistem perlindungan anak / kekerasan terhadap anak di Victoria. Dua buah agensi bergabung untuk memberikan pelayanan pada sasaran yang sama dan sering kali saling bertukar cacatan yang berkaitan dengan masalah individu. Saat victorian Children’s Protectioon Society mengasesmen dan memperkuat peranan-peranan klien, maka saat diterminasi pelayanan selanjutnya akan dilakukan oleh Community Services Victoria (CSV).

III. KESIMPULAN
Perencanaan sebagai salah satu fungsi dari managemen memegang peranan penting dalam keberlangsungan organisasi. Human Service Organization (HSO) sebagai suatu organisasi banyak ditentukan efektiftas dan produktivitas dalam pelayanannya oleh perencanaan program.
Terdapat tiga faktor penting dalam penyusunan perencanaan program, antara lain :
1. Isu-isu yang muncul pada tahap analisis perencanaan yang berkaitan dengan pengukuran, tujuan, desain program, definisi masalah, dan questioner perencanaan program.
2. Pemasaran sebagai alat perencanaan program, yang berisikan tentang pekerjaan social dan pemasaran, strategi pemasaran, konsep permintaan, permintan negatif, tidak ada permintaan, permintaan tersembunyi, permintaan membingungkan, kadaluwarsa program, serta pemasaran dan perancanaan sosial.
3. Perencanaan program dalam konteks interorganisasi, yang berisikan tentang pendekatan pelayanan program, dan pembangunan hubungan antar instansi
Namur perencanaan program bukan saja seperti pembahasan di atas, terdapat satu aspek penting yaitu peranan ahli dalam perencanaan program sangat berpengaruh akan terciptanya suatu perencanaan yang baik.

ISI :
1. PENGANTAR
2. ISU-ISU
3. PERENCAAN PROGRAM (MARKETING, PERIMTAAN, KADALUARSA PROGRAM)
4. PERENCANAAN PROGRAM DALAM KEMITRAAN

DAFTAR PUSTAKA

Donovan Frances, Jackson Alunc, Managing Human Service Organisations, Frentice Hall, Newyork, London, Toronto, Sydney, Tokyo, Singapore, 1991

Sekilas Tentang Rasionalitas Versus Irrasionalitas

Rasionalitas vs. Irasionalitas

Berbagai kalangan memahami rasionalitas dari sudut pandang atau pemahaman yang berbeda-beda. Rasionalitas tidak jarang dipertentangkan dengan kepercayaan kepada Allah – seakan-akan orang yang tergolong rasional serta merta dianggap jauh dari hal-hal rohani atau religiusitas. Rasionalitas tidak jarang dikaitkan dengan ‘kesombongan’ manusia, bukti dari ‘ketidak-tahudiri-an’ manusia akan kodratnya. Sebaliknya, istilah irasionalitas semakin ditafsirkan sebagai sesuatu yang dekat dengan spiritualitas atau religiositas.

Memang agama “kental” dengan unsur-unsur yang mengatasi rasionalitas manusia. Allah misalnya tak dapat diterangkan dan tidak akan pernah dapat diserap oleh pengertian rasional manusia. Demikian juga berbagai mukjizat yang terjadi dalam berbagai agama mungkin tidak akan pernah dapat diterangkan dengan rasio manusia. Tetapi ada satu hal yang perlu diingat – ialah: bahwa agama juga sangat menghargai unsur akal budi dan kesadaran manusia, yang terkait erat dengan rasionalitas. Pertimbangan buruk baiknya sesuatu hal juga selalu didasarkan pada (dan mendapat penilaian) akal budi manusia yang bekerja secara sehat.

Dengan demikian, sebenarnya tiada pertentangan antara rasionalitas dengan agama dan spiritualitas. Artinya, rasionalitas manusia memang menyadari keterbatasan manusia itu. Akal budi yang sehat itu memutuskan tanpa ragu-ragu bahwa daerah kerjanya terbatas, ia tak dapat menjangkau dan menerangkan segala hal, ada banyak hal yang luput dari daerah ‘frekuensi pemahamannya’. Jadi, akal budi yang sehat itu mengakui adanya ‘hal yang di luar jangkauan rasionalitas manusia’. Hal yang di luar jangkauan rasionalitas itu mengatasi hal-hal ‘rasional’ tetapi tidak bertentangan dengannya. Contohnya adalah mukjizat atau kekuatan sebuah doa.

Ada juga hal lain yang berada di luar “jangkauan rasionalitas” manusia dan “bertentangan dengan akal budi” manusia yang sehat. Kasus orang yang secara tiba-tiba kaya mendadak melalui minyak penglaris dari dukun termasuk dalam kategori ini. Mengapa bertentangan dengan akal ? Simak saja contoh ilustratif berikut.

Seseorang membuka sebuah toko kecil di tengah-tengah deretan toko-toko lain yang telah memiliki langganan pembeli yang tetap. Dengan bermodalkan kenekatan belaka tanpa pengalaman bisnis yang berarti dan perhitungan ekonomi yang matang, dapat diduga dalam waktu yang tidak terlalu lama toko baru itu akan tutup. Akan tet api tunggu dulu. Ternyata ada “modal” lain yang digunakan oleh si pemilik toko untuk menglariskan tokonya: minyak penglaris. Setelah membaca iklan di sebuah majalah “supranatrural” ia memutuskan untuk mendatangi sang paranormal untuk mendapatkan “minyak gaib” itu.

Dan benar saja, setelah memiliki sebotol kecil minyak ajaib itu, dan menempatkannya dalam kotak tertentu sebagaimana diamanatkan sang dukun kepadanya (biasanya disertai dengan sejumlah pantangan), tiba-tiba saja pembeli menjadi ramai. Singkat kata, dalam waktu singkat sebagian besar langganan toko-toko lain di sekitar beralih menjadi langganannya. Dan peralihan itu disertai dengan “tanda-tanda yang luar biasa”. Begitu melewati jarak tertentu dari toko itu para calon pembeli seakan “terisap” untuk mendekati toko itu dan begitu sampai di sana selalu muncul keinginan untuk membeli, entah barang itu dibutuhkan atau tidak, entah barang itu telah dimiliki atau tidak, walau barang itu lebih mahal dari toko lain di sebelah. Maka tidak heran bahwa dalam waktu singkat, keuntungan luar biasa diraih oleh si pemilik toko.

Sayangnya “keajaiban” semacam ini tidak berlangsung lama – setelah pantangan tertentu dilanggar atau setelah minyak penglaris itu habis menguap, maka toko itu akan sepi kembali, bahkan biasanya lebih sepi dari semula. Sisi irasionalitas dari kasus ilustratif* ini adalah – bahwa meningkatnya secara tajam omzet penjualan toko itu bukan merupakan akibat dari penguasaan manajemen penjualan yang baik, melainkan disebabkan oleh ditawannya kesadaran para pengunjung toko itu oleh daya irasional yang berada di balik minyak penglaris itu. (Ini dibuktikan dari: keinginan berbelanja yang berlebihan dan tanpa pertimbangan soal harga dan mutu barang).

Kasus ilustratif berikut juga sering kita dengar terjadi.** Seorang gadis yang mengendarai sepeda motor melewati sebuah kompleks perumahan. Di depan sebuah rumah berkumpul sejumlah pemuda, salah seorang dari mereka memanggil-manggil nama gadis yang lewat itu. Merasa dipermainkan, sang gadis memandang ke arah pemuda itu dan meludah ke arahnya. Sang pemuda merasa dihina. Sakit hati yang luar biasa “mengilhami”-nya untuk mendatangi sang dukun untuk memelet sang gadis. Beberapa hari kemudian, sang gadis betemu dengan sang pemuda dalam suasana yang “sangat bersahabat” – sang gadis jatuh hati pada pemuda yang sempat diludahinya. Sisi irasionalitas kasus ini jelas – “cinta” yang tumbuh bukanlah cinta alamiah yang biasanya membutuhkan proses yang panjang dan berliku, melainkan “cinta pelet” yang biasanya muncul seketika, membara sesaat dan berakibat buruk jangka panjang. Gara-gara “cinta pelet” ada yang pindah agama, berseteru dengan orang tua, meninggalkan sang kekasih sejati, meninggalkan kuliah atau pekerjaan dan sebagainya.

Dan tentu saja kita sering menyaksikan melejitnya karir politik seseorang secara tiba-tiba, di luar perhitungan akal sehat. Hanya berbekalkan “petuah-petuah” dan “doa-doa” tertentu sang dukun disertai dengan kunjungan ke tempat-tempat “keramat” tertentu, tiba-tiba saja sang pejabat berada dalam lingkungan suasana politik yang sangat “kondusif” dan serba mendukung. Lawan-lawan politik yang sebenarnya lebih layak tampil, tanpa penjelasan rasional tiba-tiba saja tertinggal dalam kompetisi yang penuh dengan kepungan daya-daya irasional itu. Untunglah, seiring dengan makin kritisnya masyarakat, keampuhan daya-daya irasional yang suka mengatrol para langganan setianya itu tidak berlangsung lama. Kepungan kritis dan rasionalitas masyarakat pada akhirnya akan “menurunkan” sang pejabat.

Irasionalitas
Mangapa manusia seringkali tidak mampu atau tidak mau menggunakan nalar (baca: bersikap dan bertindak irasional) merupakan misteri besar. Seandainya kehidupan umat manusia bebas total dari irasionalitas barangkali kita tidak pernah mengalami atau mengenal apa yang dinamakan perang, dendam, kebencian, egoisme, ingin menang sendiri, sikap tak mau menerima kekalahan atau mengakui kelemahan, kehancuran, keputusasaan, terorisme, pemaksaan kehendak, dan sebagainya.

Mengapa hal-hal yang baru saja disebutkan dianggap sebagai buah-buah irasionalitas ? Alasannya singkat dan tegas: karena semua hal di atas (perang, dendam, kebencian, dsb) hanya bisa muncul ketika manusia “lupa” menggunakan akal sehat. Perang misalnya hanya mungkin terjadi karena pihak-pihak yang bertindak tidak menemukan jalan lain untuk meyakinkan bahwa pihaknyalah yang benar dalam hal yang dipertikaikan. Irasionalitasnya menjadi jelas: kalau masing-masing pihak merasa benar tetapi pada saat yang sama pihak lain salah, maka hal itu merupakan sebuah kontradiksi. Itulah sebabnya perang baru berhenti ketika kesadaran muncul kembali setelah berbagai akibat perang demikian mengusik akal sehat yang selama ini dikepung oleh irasionalitas.

Akan tetapi kita tidak perlu menyerah kepada misteri yang disebutkan di depan apabila kita menerima pembagian dunia manusia dalam artikel Tiga Dunia Manusia. Di sana dikatakan bahwa sumber irasionalitas adalah Dunia III, Dunia Anatural atau Dunia Irasional. Mengetahui sumber dari irasionalitas sangat penting dalam membantu kita bergumul dengan irasionalitas.

Setelah mengetahui sumbernya, kita masih dihadapkan pada satu masalah serius lain: bagaimana mencirikan Dunia III itu ? Dengan kata lain bagaimana kita membedakan antara Dunia III dan Dunia I. Di depan telah dikatakan bahwa gejala-gejala Dunia III sering menyamar sebagai gejala-gejala Dunia I sehingga tidak jarang manusia terperangkap ke dalamnya tanpa menyadarinya.

Sebagian jawaban atas pertanyaan itu dapat dibaca dalam artikel berjudul: Ciri-ciri Pemilik Daya Irasional.

“Roh-roh” atau “daya-daya” dari luar itu dapat menjelma dalam cara dan sikap, tindakan dan gaya para pemimpin, penguasa, tokoh masyarakat, pejabat yang memanfaatkan kekuasaannya untuk membuat orang-orang di bawahnya menjadi ‘tidak utuh’ sebagai manusia. Rasa diresapi oleh daya-daya luar itu di sini termanifetasi dalam bentuk: takut bertatap muka dengan pemimpin (bahkan untuk membuka pintu kamar seorang pemimpin pun, seseorang harus mengarahkan segala keberaniannya), tidak berani mengkritik pemimpin atau tokoh idola meskipun mengetahui ada sesuatu yang tak beres di dalam diri sang idola. Dan dalam bentuk ekstrim, munculnya kultus individu, di mana tokoh panutan dianggap tak dapat berbuat salah, dan kalau terjadi sesuatu, hal itu selalu ditimpakan kepada bawahan. Dalam situasi seperi itu, kelompok besar di bawah pengaruh ‘daya luar’ itu mudah terpukau, menjadi fanatis sehingga berakhir dengan pelemahan rasionalitas secara substansial.

Rasionalitas
Lawan dari irasionalitas adalah rasionalitas, yaitu kemampuan dan kemauan bersikap dan bertindak dengan menggunakan akal sehat. Mengapa kita harus memelihara dan mengembangkan rasionalitas dan menjauhi irasionalitas ? Rasionalitas dan akal budi yang sehat akan membimbing pertimbangan, sikap dan tindakan seseorang, terutama dalam menghadapi pilihan-pilihan sulit. Dengan demikian, rasionalitas bak mercu suar yang menjadi pedoman ke mana kapal harus mengarah di saat badai dahsyat menyerang di kegelapan malam.

Doping dan Daya-daya Irasional
Dalam olah raga dikenal isitilah “doping”, yaitu pemacuan atau peningkatan prestasi melalui penggunaan obat perangsang prestasi. Dalam dunia olah raga, doping adalah musuh sportivitas. Selain bisa menguras energi yang pemakainya dan berefek negatif dalam jangka panjang, “doping” juga mengkhianati olah raga karena ia melahirkan sikap “cari jalan pintas”, “menghalalkan segala cara”.

Daya-daya irasional, seperti halnya doping, adalah juga musuh sportivitas. Ia bekerja tanpa proses, memberi hasil “spektakulaer” melalui pengerahan “energi yang luar biasa” sehingga pada akhirnya dalam jangka panjang terjadi pengurasan energi orang yang terpapar. Karena daya-daya itu bekerja tanpa melalui proses alamiah, ia tidak mendidik, ia menyuburkan mentalitas “instan”, ia melumpuhkan daya juang dalam diri manusia, dan karenanya ia memperlemah rasionalitas. Pelemahan terhadap rasionalitas tidak boleh dianggap sepele. Lemahnya rasionalitas berarti lumpuhnya atau hilangnya kemampuan manusia untuk berpikir secara sehat, jernih, kritis, dan logis, dan juga berakibat pada lemahnya kesadaran. Manusia yang kehilangan segala atribut itu tak ada bedanya dengan robot. Selain itu ia menciptakan ketergantungan atau kecanduan yang sangat merusak pribadi orang yang terpapar.

Sekilas Tentang Gangguan Anxietas Menyeluruh

GANGGUAN KECEMASAN MENYELURUH
GENERALIZED ANXIETY DISORDER ( GAD)

Kecemasan adalah gangguan alam perasaan (affectife) yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality testing Ability/ RTA) kepribadian masih tetap utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/splitting of personality), perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal.
Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan antara lain sebagai berikut :
1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung.
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang .
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
5. Mengganggu konsentrasi dan daya ingat.
6. Keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran mendenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, sakit kepala dan sebagainya.
Gangguan Kecemasan Menyeluruh telah digunakan dalam penyakit kejiwaan dan samara-samar digunakan untuk menggambarkan kegelisahan yang berlebihan yang dialami dalam jangka waktu yang panjang tanpa ditandai dengan ketakutan.
Individu yang menderita gangguan anxietas menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder {GAD}) memiliki ciri-ciri :
terus menerus merasa cemas sering kali tentang hal-hal kecil.
memiliki kekhawatiran kronis.
menghabiskan sangat banyak waktu untuk mengkhawatirkan banyak hal
dan menganggap kekhawatiran mereka sebagai sesuatu yang tidak dapat dikontrol (Ruscio,Borkovek, & Rucio 2001).
kesulitan berkonsentrasi
sangat mudah lelah
ketidaksabaran
mudah tersinggung dan ketegangan otot yang amat sangat.
Kekhawatiran yang paling sering dirasakan oleh para pasien GAD adalah kesehatan mereka
masalah sehari-hari,seperti terlambat menghadiri pertemuan atau terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan .
Diagnosa GAD tidak ditegakan jika kekhawatiran berkaitan dengan masalah-masalah yang dipicu oleh gangguan Aksis I lain, contohnya kekhawatiran terhadap kontaminasi yang dialami oleh penderita gannguan obsesif-komplusif. Kekhawatiran yang bersifat tidak dapat dikendalikan pada GAD dikonfirmasi oleh self-report dan data laboraturium ( Becker dkk, 1998:Craske dkk,1989).
Walaupun para pasien yang menderita gangguan anxietas menyeluruh umumnya tidak mengupayakan penanganan psikologis, prevalensi sepanjang hidup gangguan ini cukup tinggi,gangguan ini terjadi pada sekitar 5 persen dari populasi umum ( Wittchen 7 Hoyer,2001).
GAD umumnya mulai dialami pada pertengahan masa remaja, walaupun banyak orang yang menderita gannguan anxietas menyeluruh menuturkan bahwa mereka mengalami masalah tersebut sepanjang hidupnya (Barlow dkk,1986).
Berbagai peristiwa penuh stress dalam hidup tampaknya cukup berperan terhadap terjadinya gangguan ini (Blazer, Hughes, & George,1987).
Gangguan ini terjadi dua kali lebih banyak pada perempuan dibanding pada laki-laki,dan memiliki tingkat komorbiditas tinggi dengan gangguan anxietas lain dan dengan gangguan mood (Brown dkk,2001).
Sulit untuk berhasil menangani gangguan anxietas menyeluruh. Dalam suatu studi tindak lanjut selama lima tahun ,hanya 18 persen pasien yang tidak lagi mengalami simtom-simtom gangguan tersebut (Woodman dkk,1999) walaupun angka tersebut memiliki kemungkinan meningkat seiring dengan lebih banyak penggunaan terapi kognitif-behavioral yang dibahas di bawah ini oleh para ahli klinis.
Secara klinis selain gejala cemas yang biasa, disertai dengan kecemasan yang menyeluruh dan menetap ( paling sedikit berlangsung serlama1 bulan ) dengan manifestasi 3 dari 4 kategori gejala berikut ini :
1. Ketegangan motorik/alat gerak :
a. gemetar
b. tegang
c. nyeri otot
d. letih
e. tidak dapat santai
f. kelopak mata bergetar
g.kening mengkerut
h.muka tegang
i. gelisah
j. tidak dapat diam
k. mudah kaget
2. Hiperaktivitas saraf autonom (simpatis/parasimpatis);
a. berkeringat berlebihan
b. jantung berdebar-debar
c. rasa dingin
d. telapak tangan/kaki basah
e. mulut kering
f. pusing
g. kepala terasa ringan
h. kesemutan
i. rasa mual
j. rasa aliran panas atau dingain
k. sering buang air seni
l. diare
m. rasa tidak enak di ulu hati
n. kerongkongan tersumbat
o. muka merah atau pucat
p. denyut nadi dan nafas yang cepat waktu istirahat
3. Rasa khawatir berlebihan tentang hal-hal yang akan datang ( apprehensive expectation):
a. cemas, khawatir. Takut
b. berpikir berulang (rumination)
c. membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya atau orang lain
4. Kewaspadaan berlebihan:
a.Mengamati lingkungan secara berlebihansehingga mengakibatkan perhatian mudah
teralih
b. sukar konsentrasi
c. sukar tidur
d. merasa ngeri
e. mudah tersinggung
f. tidak sabar

Pandangan psikoanalisis.
sumber kecemasanmenyeluruh adalah konflik yang tidak disadari antara ego dan impuls-impluls id.
Impuls-impuls tersebut yang biasanya bersifat seksual atau agresif, berusaha untuk mengekspresikan diri,namun ego tidak membiarkannya karena tanpa disadari ia merasa takut terhadap hukuman yang akan diterima.
Dengan kata lain,tidak ada cara untuk menghindari kecemasan, jika seseorang meninggal id ia tidak lagi hidup. Orang yang menderita gangguan anxietas menyeluruh tidak mengembangkan tipe pertahanan tersebut sehingga selalu merasa cemas.

Pandangan Kognitif-Behavioral.
Pemikiran utama teori kognitif-behavoiral tentang GAD adalah gangguan tersebut disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang .
Orang-orang yang menderita GAD sering kali salah mempersepsi kejadian-kejadian biasa,seperti menyebrang jalan,sebagai hal mengancam,dan kognisi mereka terfokus pada antisipasi sebagai bencana pada masa mendatang (Beck dkk,1987, Ingram & Kendall,1987;Kendall & Ingram 1989).
Terlebih lagi pasien GAD lebih terpicu untuk menginterprestasi stimuli yang tidak jelas sebagai sesuatu yang mengancam dan untuk menilai berbagai kejadian yang mengancam lebih mungkin terjadi pada mereka (Butler & Mathews,1983).
Sensitifitas pasien GAD yang sangat tinggi terhadap stimuli yang mengancam juga muncul walaupun bila stimuli tersebut tidak dapat diterima secara sadar (Bradley dkk ,1995).
Borkovec dan para kolegannya (a.I.,Borkovec & Newman, 1998; Borkovec.Roemer & Kinyon ,1995). Simptom utama GAD yaitu kekhawatiran. Berdasarkan perspektif hukuman seseorang mungkin bertanya-tanya mengapa ada orang yang sering merasa khawatir karena kekhawatiran di anggap sebagai kondisi negative yang seharusnya tidak mendorong pengulangannya .
kekhawatiran sebenarnya merupakan penguatan negative;ia mengalihkan pasien dari berbagai emosi negative sehingga diperkuat oleh hasil yang positif bagi individu terkait.
Kunci untuk memahami posisi ini adalah menyadari bahwa kekhawatiran tidak menciptakan banyak ketegangan emosional.

Prespektif Biologis.
Beberapa studi mengindikasikan bahwa GAD dapat memiliki komponen genetic.
GAD sering ditemukan pada orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengan penderita gangguan ini dan terdapat kesesuaian yang lebih tinggi diantara kembar MZ dibamnding kembar DZ. Namun tingkat komponen genetic ini tampak rendah (Hettema.M. Neale, & Kendler,2000)
Model neurobiologist yang paling umum untuk gangguan anxietas menyeluruh dilandasi oleh pengetahuan mengenai kerja benzodiazepine, suatu kelompok obat-obatan yang sering kali efektif untuk menangani kecemasan. Para peneliti menemukan suatu reseptor dalam otak untuk benzoiazepane yang berhubungan dengan neurotransmitter penghambat yaitu asam gamma-aminobutyric (GABA).

Terapi Gangguan Anxietas menyeluruh
Seperti telah disebutkan, GAD sulit di tangani dengan berhasil. Terapi mencakup pendekatan psikoanalisis,behavioral,kognitif dan biologis.

Pendekatan Psikoanalisis.
Satu studi tanpa control menggunakan intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada konflok interpersonal dalam kehidupan masa yang lalu dan masa kini pasien dan mendorong cara yang lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang lain pada saat ini ,sama dengan para terapis kognitif behavioral mendorong menyelesaikan masalah sosial . Hasil-hasil intervensi ini cukup menggembirakan dan pantas untuk diteliti lebih dalam dengan kontrol eksperimental yang lebih baik, seperti kelompok control tanpa penanganan dan kelompok pembanding (Crist-Christoph dkk,1996)

Pendekatan Behavioral.
Jika terapis menganggap kecemasan sebagai serangkaian respon terhadap berbagai situasi yang dapat diidentifikasi, apa yang tampak sebagai kecemasan yang bebas mengalir dapat diformulasi ulang pada satu fobia atau lebih atau kecemasan berisyarat .
Desensitisasi sistematis menjadi kemungkinan terapi.
Training relaksasi intensif yaitu belajar untuk rileks ketika mulai merasa tegang seiring mereka menjalani hidup akan mencegah kecemasan berkembang tanpa kendali
Para pasien diajarkan untuk melemaskan ketegangan tingkat rendah. Merespons kecemasan yang baru muncul dengan rileksasi daripada dengan kepanikan

Pendekatan Kognitif.
Jika suatu perasaan tidak berdaya tampaknya mendasari kecemasan pervasif, terapis berorientasi kognitif akan membantu klien menguasai keterampilan apapun yang dapat menumbuhkan perasaan kompeten.
Keterampilan tersebut termasuk asertivitas, dapat diajarkan melalui instruksi verbal, m0deling,atau pembentukan operant dan sangat mungkin kombinasi secara hati-hati dari ketiganya ( Goldfried & Davison, 1994).
.Pendekatan Borkovec (a.I. Borkovec & Castello, 1993)mengombinasikan berbagai elemen Wolpe dan Beck, yaitu mendorong pemaparan bertingkat terhadap berbagai situasi yang menyebabkan kekhawatiran seiring pasien mencoba menerapkan keterampilan relaksasi dan analisis logis terhadap berbegai hal ( a.I. , sebagaian besar kemungkinan terjadi sesuatu yang benar-benar mengerikan?)
Secara kontras, Barlow dan rekan-rekannya lebih menyukai pemaparan dalam waktu lama dan berlebihan terhadap sumber masalah kecemasan berlebihan seseorang ( Brown, O’Leary & Borwn,2001).. Diasumsikan bahwa dua proses yang berlangsung dibawah ini mengurangi kekhawatiran pasien .
1. Karena pasien tetap berada dalan situasi yang menakutkan, kecemasan diyakini akan terhapus.
2. Dengan mempertimbangkan kemungkinan ketakutan terburuk yang dapat terbayangkan pasien mengubah reaksi kognitifnya terhadap keterlambatan pasangannya.
Dengan kata lain, pasien belajar untuk memikirkan berbagai sebab yang kurang menakutkan dari suatu kejadian tertentu. Strategi Barlow ini mengingatkan pada teknik melebih-lebihkan yang dikembangkan bertahun-tahun oleh Arnold Lazarus (1991).

Peranan Pekerja Sosial
Kontribusi Pekerja Sosial untuk meneliti dan praktek pada area kesehatan mental sangat dibutuhkan . Arus pendekatan untuk treatmen GAD adalah individualistik, menggunakan dasar terapi kognitif behavioral dan medis. Integrasi pengetahuan pekerja sosial tentang system keluarga, kelompok rentan dan intervensi lingkungan sangat mendukung.

Metode Asesmen
Interview Klinis Terstruktur
Beberapa klinik menggunakan secara penuh instrument asesmen yang ada khusus untuk penyakit kecemasan yaitu Interview Terstruktur yang disebut Anxiety Disorders Interview Schedule – IV ( ADIS IV ).
ADIS telah mengalami beberpa kali perubahan, dengan pertanyaan yang dibetulkan untuk menggambarkan criteria diagnosa untuk berbagai penyakit kegelisahan dalam DSM.
Dalam ADIS IV ada seksi yang terpisah yang membolehkan asesmen pada masalah-masalah yang menyertai seperti penyakit depresi utama, penyakit dysthimik, mania, hypochordisis, penyakit sulit tidur, campuran kecemasan dan depresi, penyalahgunaan alkohol, ketergantungan alkohol, penyalahgunaan zat. Memberikan komorbiditi yang tinggi antara GAD dan AXIS I yang lain yaitu perasaan dan dan penyakit kecemasan.

Kuesioner
Skala Hamilton Anxiety and Depression adalah sangat potensial digunakan sepreti Beck Anxiety Inventori. Tidak khusus untuk GAD tetapi sering digunakan dalam hasil studi dan beberapa ukuran yang umum pada kecemasan dan depresi. Salah satu yang speisifik untuk GAD adalah Penn State Woory Questionnaire ( PSWQ). PSWQ sangat sukses membedakan GAD dari penyakit kecemasan lainnya.

Self Monitoring
Self Monitoring adalah bermanfaat dan metode asesmen yang tepat untuk GAD, sebab tekniknya dapat menyediakan Tailor made Asesmen pada setiap wilayah yang dimiliki klien pada perhatian atau sangat sulit.
Self Monitoring adalah khas digunakan selama periode baseline dan pada keseluruhan periode treatmen.

Alat Ukur Kecemasan
Untuk mengetahui sejauhmana derajat kecemasan seseorang, dapat digunakan alat ukur yang disebut Hamilton Rating Scale for Anxiety ( HRS-A), yang terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik.
Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka ( score ) antara 0 – 4, yang artinya adalah :
Nilai 0 = tidak ada gejala (keluhan)
1 = gejala ringan
2 = gejala sedang
3 = gejala berat
4 = gejala berat sekali.

Masing-masing nilai angka dari ke 14 kelompok tersebut dijumlahkan dan dapat diketahui derajat kecemasan seseorang sebagai berikut :
Total Nilai : kurang dari 14 = tidak ada kecemasan
14 – 20 = kecemasan ringan
21 – 27 = kecemasan sedang
28 – 41 = kecemasan berat
42 – 56 = kecemasan berat sekali

HAL – HAL YANG DINILAI DALAM HRS-A sebagai berikut :

Gejala Kecemasan Nilai Angka ( Score )
01. Perasaan Cemas (ansietas) 0 1 2 3 4
 Cemas
 Firasat buruk
 Takut akan fikiran sendiri
 Mudah tersinggung
02. Ketegangan 0 1 2 3 4
 Merasa tegang
 Lesu
 Tidak bisa istirahat tenang
 Mudah terkejut
 Mudah menangis
 Gemetar
 Gelisah
03. Ketakutan 0 1 2 3 4
 Pada gelap
 Pada orang asing
 Ditinggal sendiri
 Pada binatang besar
 Pada keramaian lalulintas
 Pada kerumunan orang banyak
04. Gangguan tidur 0 1 2 3 4
 Sukar masuk tidur
 Terbangun malam hari
 Tidur tidak nyenyak
 Bangun dengan lesu
 Banyak mimpi-mimpi
 Mimpi buruk
 Mimpi menakutkan

05. Gangguan kecerdasan 0 1 2 3 4
 Sukar konsentrasi
 Daya ingat menurun
 Daya ingat buruk
06. Perasaan depresi (murung) 0 1 2 3 4
 Hilangnya minat
 Berkurangnya kesenangan pada hobi
 Sedih
 Bangun dini hari
 Perasaan berubah-ubah sepanjang hari
07. Gejala somatic/fisik (otot) 0 1 2 3 4
 Sakit dan nyeri otot-otot
 Kaku
 Kedutan otot
 Gigi gemerutuk
 Suara tidak stabil
08. Gejala somatic/fisik (sensorik) 0 1 2 3 4
 Tinnitus (telinga berdenging)
 Penglihatan kabur
 Muka merah atau pucat
 Merasa lemas
 Perasaan ditusuk-tusuk
09. Gejala kardiovaskuler ( jantung dan 0 1 2 3 4
Pembuluh darah )
 Takikardia ( denyut jantung cepat)
 Berdebar-debar
 Nyeri di dada
 Denyut nadi mengeras
 Rasa lesu/lemas seperti mau pingsan
 Detak jantung menghilang
( berhenti sekejap )

10. Gejala respiratori ( pernafasan) 0 1 2 3 4
 Rasa tertekan atau sempit di dada
 Rasa tercekik
 Sering menarik nafas
 Napas pendek/sesak
11. Gejala gastrointestinal (pencernaan ) 0 1 2 3 4
 Sulit menelan
 Perut melilit
 Gangguan pencernaan
 Nyeri sebelum dan sesudah makan
 Perasaan terbakar diperut
 Rasa penuh atau kembung
 Mual
 Muntah
 Buang air besar lembek
 Sukar buang air besar (konstipasi)
 Kehilangan berat badan
12. Gejala urogenital ( perkemihan dan kelamin) 0 1 2 3 4
 Sering buang air kecil
 Tidak dapat menahan air seni
 Tidak datang bulan (tidak ada haid)
 Darah haid berlebihan
 Darah haid amat sedikit
 Masa hadi berkepanjangan
 Masa haid amat pendek
 Haid beberapa kali dalam sebulan
 Menjadi dingin (frigid)
 Ejakulasi dini
 Ereksi ilmiah
 Ereksi hilang
 Impotensi
13. Gejala autonom 0 1 2 3 4
 Mulut kering
 Muka merah
 Mudah berkeringat
 Kepala pusing
 Kepala terasa berat
 Kepala terasa sakit
 Bulu-bulu berdiri
14. Tingkah laku (sikap) pada wawancara 0 1 2 3 4
 Gelisah
 Tidak tenang
 Jari gemetar
 Kerut kening
 Muka tegang
 Otot tegang / mengeras
 Nafas pendek dan cepat
 Muka merah
Jumlah Nilai Angka ( Total Score ) =

Wilujeng Sumping di Weblog Simkuring……

Saya seorang pekerja sosial di Panti Sosial Pamardi Putra “Galih Pakuan” Bogor yang bergerak di bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial Penyalahguna Napza, tepatnya di salah satu UPT (Unit Pelaksana Teknis) Departemen sosial RI yang beralamat di Jl. H Miing No.71 Kecamatan Ciseeng Kabupaten Bogor.  

Sekilas Tentang Harga Diri

Sekilas Tentang Harga Diri
1. Pengertian Harga Diri
Pengertian Harga Diri menurut Coopersmith (1967) dan Walgito (1991) merupakan suatu proses penilaian yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri. Karena berkaitan dengan dirnya sendiri, penilaian tersebut biasanya mencerminkan penerimaan atau penolakan terhadap dirinya, menunjukkan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil serta berharga.
Menurut Branden (1987) harga diri merupakan aspek kepribadian yang paling penting dalam proses berpikir, tingkat emosi, keputusan yang diambil, nilai-nilai yang dianut serta penentuan tujuan hidup. Harga diri mencakup dua komponen yaitu perasaan akan kompetensi pribadi dan perasaan akan penghargaan diri pribadi. Seseorang akan menyadari dan menghargai dirinya jika ia mampu menerima diri pribadinya. Brehm dan Kassin (1990) menyatakan bahwa individu yang menilai dirinya baik umumnya bahagia, sehat, sukses, adaptif dalam situasi yang membuat stres.
Harga diri adalah hasil evaluasi individu terhadap dirinya sendiri yang merupakan sikap penerimaan atau penolakan serta menunjukan seberapa besar individu percaya pada dirinya, merasa mampu, berarti, berhasil dan berharga. Harga diri ini akan diungkap dengan skala Harga Diri modifikasi dari Coopersmith, dimana harga diri yang tinggi akan ditunjukan dengan skor yang tinggi pada skala tersebut dan sebaliknya harga diri yang rendah akan ditunjukan dengan skor yang rendah pula.
Sheaford & Horejski (2003 : 393) menyatakan bahwa harga diri berhubungan dengan kepercayaan seseorang tentang yang bernilai dalam dirinya. Seseorang yang tidak menghargai atau menghormati dirinya sendiri akan merasa kurang percaya diri dan banyak berjuang dengan segala keterbatasan dirinya, sehingga sering mereka terlibat dalam tingkah laku yang salah atau rentan untuk dieksploitasi dan disalahgunakan oleh orang lain.
Selanjutnya Sheaford menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki perasaan menghargai diri yang rendah timbul karena persepsi yang subjektif dan tidak selalu akurat dengan pandangan orang lain. Rasa menghargai diri yang rendah seringkali berasal dari perbandingan yang tidak menyenangkan tentang dirinya sendiri dan orang lain. Pendapat senada dinyatakan Rosenberg (1979) bahwa individu yang memiliki harga diri tinggi ia akan menghormati dirinya dan menganggap dirinya sebagai individu yang berguna. Sedangkan individu yang memiliki harga diri yang rendah ia tidak dapat menerima dirinya dan menganggap dirinya tidak berguna dan serba kekurangan. Sedangkan Coopersmith (1967) mengatakan bahwa harga diri (self esteem) adalah evaluasi diri yang dibuat seseorang, biasanya untuk dipertahankan, dan sebagian berasal dari interaksi seseorang dengan lingkungannya dan dari sejumlah penghargaan, penerimaan dan perhatian orang lain yang diterimanya .
Sedangkan menurut Ubaydillah (http://e-psikologi.com) harga diri secara bahasa pengertiannya adalah kehormatan-diri. Jadi, orang yang harga-dirinya bagus itu adalah orang yang mengalami proses hubungan yang positif dengan dirinya, punya perasaan positif terhadap dirinya, punya penilaian yang bagus terhadap dirinya (self-concept). Pengalaman dan proses hubungan yang positif inilah yang kemudian melahirkan sikap dan tindakan yang positif (terpuji atau terhormat).
Pengertian tersebut menjelaskan bahwa harga-diri itu adalah proses intrinsik di mana orang merasa perlu (sadar) untuk menjaga atau menghormati dirinya dengan cara-cara yang terhormat. Cara ini bisa dalam bentuk melakukan sesuatu yang positif atau dengan menghindari sesuatu yang negatif. Dengan cara ini maka secara alamiahnya akan mendatangkan feed-back atau balasan yang bernama penghormatan itu.
Lebih lanjut Ubaydillah menjelaskan bahwa harga diri ini terkait dengan berbagai hal yang berperan vital dalam kehidupan, antara lain harga-diri terkait dengan :
a). Kualitas emosi.
Menurut Gary Zukav dalam bukunya The Heart of The Soul (2002), sumber berbagai malapetaka emosi, seperti misalnya stres, distress atau depresi itu adalah self-worth.
b). Aktualisasi-diri. Aktualisasi di sini pengertiannya adalah proses yang kita lakukan dalam merealisasikan potensi yang kita miliki
c). Kepercayaan diri (self-confidence)
Pendapat tersebut menjelaskan bahwa harga-diri ini menjadi penting terutama bagi penyalahguna napza, dimana saat mereka memiliki perasaan positif hanya ketika mengkonsumsi narkoba atau zat kimia lain saja. Ini menjadi bukti adanya harga-diri yang rendah pada penyalahguna napza karena tidak bisa menciptakan kebahagian dari dalam dirinya tetapi dengan mencari di luar melalui penggunaan napza. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan sendiri oleh Triantoro safari yang membuktikan bahwa harga diri yang rendah memiliki kecenderungan seseorang untuk menggunakan dan menyalahgunakan napza . Selain itu harga diri sangat berkaitan dengan arti hidup seseorang artinya walaupun dalam keadaan apapun seseorang harus tetap merasakan dirinya berarti dalam hidupnya. Begitupula para penyalahguna napza yang rentan terhadap gangguan emosi harus tetap menjalani kehidupannya dengan penuh rasa berarti agar dapat hidup secara normal dan wajar serta terhindar dari penggunaan dan penyalahgunaan napza .
Hal-hal yang dapat meningkatkan Harga diri seseorang menurut pendapat Coopersmith (1967: 38) diantaranya adalah keberhasilan yang diperoleh selama dirinya berinteraksi dengan lingkungan. Keberhasilan itu sendiri antara lain: a. Power, kemampuan untuk mempengaruhi atau menguasai orang lain; b. Virtue, kesesuaian diri dan kecemasan dalam mengemukakan tentang dirinya; c. Significance, penerimaan perhatian dari keluarga; d. Competence, kesuksesan dan perasaan katidakpuasan.
Sedangkan Soepri Tjahyono menjelaskan beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan harga diri diantaranya adalah :
a). Mengenali diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan dengan cara bercermin baik dengan kaca maupun melalui tulisan dikertas dan menuliskan mana potensi-potensi yang bisa kita kembangkan atau tunjukan ke orang lain, dan mana yang harus kita tinggalkan.
b). Menerima diri seperti apa adanya. Orang yang dapat menerima diri sendiri apa adanya tidak akan menyesali segala yang terjadi dalam menghadapi kenyataan. Artinya, apa yang ada pada diri kita harus diterima dan dikembangkan.
c). Manfaatkan kelebihan dengan cara mengenali kelebihan yang kita miliki, selanjutnya digunakan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Misalnya kita yang pandai berbicara, mengapa tidak mencoba jadi pembawa acara?
d). Meningkatkan keahlian yang dimiliki. Kemampuan, keahlian, dan keterampilan yang kita miliki memberikan sumbangan untuk meningkatkan harga diri kita. Semakin banyak dan beragam keahlian yang kita miliki, akan semakin besar kita menghargai diri kita.
e). Memperbaiki kekurangan. Kita harus mengenali kekurangan yang ada pada diri kita. Kalau kita tidak mengenalinya, maka keinginan untuk memotivasi dan mengembangkan diri kita ke arah yang lebih baik juga tidak ada. Kalau kita mengenali kekurangan kita, maka sebenarnya kekurangan itu dapat juga kita manfaatkan untuk sesuatu yang berguna.
f). Mengembangkan pemikiran bahwa kita sama dan sederajat dengan orang lain. Setiap orang berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan itu bisa dari sudut ekonomi ataupun status sosial. Tetapi semuanya itu akan sama haknya dalam setiap kesempatan. Pemikiran itulah yang harus selalu dikembangkan bahwa setiap orang punya hak dan derajat yang sama.
Raymond Tambunan (http:/e-psikologi.com) menjelaskan bahwa perkembangan harga diri pada seseorang akan menentukan keberhasilan maupun kegagalannya dimasa mendatang. Sedangkan arti harga diri itu sendiri menurutnya adalah hasil penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap-sikap yang dapat bersifat positif dan negatif. Bagaimana seseorang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya sehari-hari. Harga diri yang positif akan membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan kemampuan diri, rasa berguna serta rasa bahwa kehadirannya diperlukan di dunia ini.
Pendapat diatas menunjukan peningkatan harga diri seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor , yaitu faktor internal pada diri individu dan faktor eksternal. Faktor internal pada individu meliputi penghargaan, penerimaan, pengertian dan perlakuan orang lain terhadap dirinya. Sedangkan faktor eksternal adalah prestasi yang dicapai, hubungan dimasyarakat, keluarga dan peer groupnya.
Harga diri bukan merupakan faktor bawaan tetapi dapat dibangun / ditingkatkan melalui proses belajar melalui interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya dalam bentuk umpan balik yang diterima dari orang-orang yang berarti bagi individu. Kemauan untuk mengevaluasi kembali kepercayaan seseorang tentang diri sendiri merupakan langkah awal terhadap pertumbuhan dalam menghargai dirinya.
Menurut Ubaydillah (2001) menaikkan harga-diri harus dimulai dari diri sendiri terlebih dulu. Jika ini sudah kita lakukan, orang lain akan menghargai kita meski prosesnya ada yang tidak langsung-seketika. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi :
a). Secara mental, temukan sesuatu yang menurut anda berharga di dalam diri anda. Ini bisa sifat, watak, skill, pengetahuan, kelebihan, pedoman hidup yang anda yakini, kebaikan anda, sikap, atribut akademik, modal sosial yang anda miliki, dan lain-lain. Ini adalah jalan untuk menciptakan perasaan positif tadi. Untuk bisa menemukan ini memang harus sering-sering melakukan dialog dengan diri sendiri dan cepat sadar atas munculnya unek-unek negatif yang bisa menimbulkan perasaan negatif.
b). Secara aktual, lakukan sesuatu yang menurut anda itu bernilai atau berharga buat diri anda, entah itu untuk hari ini atau hari esok. Ini pokok. Tidak ada orang yang punya perasaan positif kalau tidak melakukan hal-hal positif. Menurut pengalaman hidup Michael Angier, jika seseorang punya perasaan positif terhadap dirinya, orang itu akan merasa lebih ringan untuk melakukan hal-hal positif. Semakin banyak tindakan positif yang dilakukan, semakin besar pula perasaan positif yang muncul. Jadi ada semacam timbal-balik yang saling terkait.
c). Melatih diri untuk memiliki jiwa yang lebih besar, pikiran yang lebih besar atau pertimbangan yang lebih bijak. Tapi ini perlu kita dasari atas pengetahuan tentang adanya manfaat yang lebih besar (kekuatan). Ini misalnya saja kita memaafkan atau memahami orang lain karena itu hasilnya akan lebih baik, bukan karena tidak mampu melawan secara terang-teranga lalu ngomong di belakang (kelemahan).
d). Latihlah menghadapi persoalan dengan keputusan.
e). Jauhi hal – hal yang berpotensi menegatifkan perasaan dan pikiran.

Selanjutnya Sumarni (2007) menjelaskan bahwa terdapat tiga hal yang dapat dilakukan agar harga diri atau kehormatan diri seseorang dapat terpelihara dengan baik diantaranya :
a). Mengenali kelebihan dan kekurangan diri sendiri , artinya menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan.
b). Menerima diri apa adanya , artinya menyadari dan menerima apa adanya dengan mensyukuri keadaan yang ada pada diri sendiri walau dalam keadaan apapun juga dengan menyadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna.
c). Memanfaatkan kelebihan, artinya menyadari bahwa semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangan yang beragam bentuknya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki harga diri akan dapat menerima dirinya sendiri dan juga orang lain. Harga diri juga penting bagi manusia dalam mempertahankan dirinya sebagai mahluk sosial begitupula dengan penyalahguna napza. Hal ini berarti tingkat harga-diri yang tinggi sangat menentukan dan memiliki andil dalam kecenderungan terlibatnya seseorang dalam penyalahgunaan napza.
2. Aspek-Aspek Tentang Harga Diri
Faktor kepribadian mempunyai peranan penting di samping faktor fisiologik pada penyalahgunaan Napza (shield, 1976;jessor dan jessor, 1977; wienfield, dkk, 1989;Brook dan Brook, 1990; Hawari, 1991). Faktor kepribadian ini dapat dibedakan menjadi aspek intrapersonal, interpersonal dan aspek kognitif(Olson, dkk, dalam Brown&Lent,1992).
Aspek intrapersonal yang diidentifikasi berperan penting dalam penyalahgunaan Napza pada remaja adalah rendahnya Harga Diri remaja (Gorsuch dan Butter, 1976: Sield, 1976). Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa remaja dengan harga diri rendah merasa dirinya terasing, tertekan dan kurang memiliki keberanian untuk berbuat sesuatu. Mereka cenderung lebih cemas, mudah depresi, pesimis akan masa depannya dan mudah gagal. Selanjutnya remaja dengan cirri-ciri tersebut mudah mendapat pengaruh dari lingkungannya untuk mengkonsumsi Napza.
Remaja yang memiliki Harga Diri rendah memilih menggunakan Napza sebagai sarana untuk mengembalikan kestabilan emosinya, sehingga menimbulkan rasa aman pada diri mereka. Hal ini terbukti pada penelitian test (dalam Skager dan Kerst, 1989) melaporkan bahwa remaja yang menggunakan mariyuana mengalami perubahan positif pada harga dirinya. Demikian juga pada pemakai kokain merasa meningkat dalam keyakinan diri dan hubungan sosialnya ketika dalam keadaan memakai. Pada individu yang memiliki Harga Diri tinggi, mereka umumnya merasa lebih bahagia, bebas dari simptom psikosomatis, sukses dan adaptif dalam situasi yang dapat menimbulkan stres (Brehm dan Kassin, 1990).
Menurut Sigal dan Gould (dalam Brehm dan Kassin, 1990) individu yang memiliki Harga Diri yang tinggi selalu akan termotivasi untuk berperilaku baik, termasuk tidak melibatkan diri dalam penyalahgunaan Napza karena menreka mengerti bahwa efek negatif zat tersebut akan merusak kehidupan mereka. Selain Harga Diri sebagai aspek intrapersonal, aspek interpersonal juga berperan penting dalam penyalahgunaan Napza.
Aspek interpersonal atau kemampuan melakukan hubungan sosial dengan orang lain yang diidentifikasi berperan penting dalam penyalahgunaan Napza pada remaja adalah rendahnya asertivitas remaja (Horan dan Harrison, 1981; Schaps, dkk,1981; Afiatin, 2001a). Hasil hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan kemampuan asertivitas rendah tidak mampu untuk menghadapi tekanan kelompok, termasuk menolak bujukan menggunakan Napza.
Remaja yang kurang asertif memiliki ciri-ciri tidak dapat menguasai diri pada situasi yang seharusnya ia dapat bersikap bebas dan menyenangkan, mengalami kesulitan dalam merespon hal-hal yang sangat disukai, mengalami kesulitan dalam menyatakan perasaan cinta dan kasih sayang pada orang lain atau pada orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Ketidak asertivan remaja membuat mereka measa terombang-ambing dalam situasi yang tidak menentu. Remaja yang kurang asertif sering tidak efektif dan adaptif dalam menghadapi stress dan konflik.

Sekilas Tentang Terapi Emotif Rasional

Sekilas Tentang Terapi Emotif Rasional
1. Pengertian Terapi
Istilah Teapi Emotif Rasional sukar digantikan dengan istilah bahasa Indonesia yang mengena; paling-paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dan akal sehat (rational thingking, berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting), serta sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam perasaannya, harus dibantu untuk meninjau kembali cara berpikir dan memanfaatkan akal sehat.
Pelopor dalam sekaligus promoter utama corak konseling ini adalah Albert Ellis, yang telah banyak menerbitkan banyak karangan dan buku, antara lain buku yang berjudul Reason and Emotion in Psychotherapy (1962), A New Guide to Rational Living (1975), serta karangan yang berjudul The Rational Emotive Approach to Counselling dalam buku Burks Theories of Counselling (1979).
Menurut pengakuannya Ellis sendiri, corak konseling Rational Emotive Terapi (disingkat RET) berasal dari aliran pendekatan Kognitif Behavioristik. Banyak buku yang telah terbit mengenai tata cara memberikan konseling kepada diri sendiri, mengambil inspirasi dari gerakan RET, misalnya J. Lembo, Help Yourself, yang telah disadur pula kedalam bahasa Indonesia dengan judul Berusahalah Sendiri (1980).
Corak konseling RET berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia dan tentang proses manusia dapat mengubah diri, yang sebagian bersifat filsafat dan sebagian lagi bersifat psikologis, yaitu:
(a) Manusia adalah mahluk yang manusiawi, artinya dia bukan superman dan juga bukan mahluk yang kurang dari seorang manusia. Manusia mempunyai kekurangan dan keterbatasan, yang mereka atasi sampai taraf tertentu. Selama manusia hidup di dunia ini, dia harus berusaha untuk menikmatinya sebaik mungkin.
(b) Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh bekal keturunan atau pembawaan, tetapi sekaligus juga tergantung dari pilihan-pilihan yang dibuat sendiri. Nilai-nilai kehidupan (values) untuk sebagian ditentukan baginya.
(c) Hidup secara rasional berarti berpikir, berperasaan, dan berperilaku sedemikian rupa, sehingga kebahagiaan hidup dapat dicapai secara efisien dan efektif. Bilamana orang berpikir, berperasaan dan berperilaku sedemikian rupa, sehingga segala tujuan yang dikejar tidak tercapai, mereka ini hidup secara tidak rasional. Dengan demikian berpikir rasional menunjuk pada akal sehat, sehingga sungguh-sungguh membantu mencapai kebahagiaan di hidup ini. Orang yang tidak mencapai kebahagian itu harus mempersalahkan dirinya sendiri karena tidak menggunakan akal sehatnya secara semestinya.
(d) Manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk hidup secara rasional dan sekaligus untuk hidup secara tidak rasional. Dia dapat berpikir dengan akal sehat, tetapi dapat juga berpikir salah.
(e) Orang kerap berpegang pada setumpuk keyakinan yang sebenarnya kurang masuk akal atau irrasional (irational beliefs), yang ditanamkan sejak kecil dalam lingkungan kebudayaan atau diciptakan sendiri. Mungkin juga keyakinan-keyakinan itu merupakan gabungan dari pengaruh lingkungan sosial dan gagasannya sendiri. Tumpukan keyakinan irasional cenderung untuk bertahan lama, bahkan orang cenderung memperkuatnya sendiri dengan berbagai dalih. Albert Ellis sendiri mengakui mula-mula merumuskan 11 keyakinan irasional yang dianggapnya dipegang oleh banyak orang, tetapi kemudian ditinjau kembali. Jumlah itu dikurangi sampai tiga keyakinan dasar yang irasional, yaitu tiga keharusan yang disampaikan oleh orang kepada dirinya sendiri:
Teapi Emotif Rasional yang dikembangkan oleh Albert Ellis merupakan bagian dari terapi CBT (cognitive behaviural therapy) lebih banyak kesamaannya dengan terapi-terapi yang berorientasi kognitif-tingkah laku-tindakan dalam arti menitik beratkan pada proses berpikir, menilai, memuuskan, menganalisa dan bertindak. Konsep-konsep Teapi Emotif Rasional membangkitkan sejumlah pertanyaan yang sebaiknya, seperti: Apakah pada dasarnya psikoterapi merupakan proses reeduksi? Apakah sebaiknya terapis berfungsi terutama sebagai guru? Apakah pantas para terapis menggunakan propaganda, persuasi, dan saran-saran yang sangat direktif? Sampai mana membebaskan keefektifan usaha membebaskan para klien dari “keyakinan-keyakinan irasional” nya dengan menggunakan logika, nasihat, informasi, dan penafsiran-penafsiran.
Teapi Emotif Rasional adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan –kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan yang tidak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme dan mencela diri serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri. Manusia pun berkecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang disfungional dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka, sangat personal, dan irasional.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Teapi Emotif Rasional (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri.
Teapi Emotif Rasional menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakat. Manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.
TRE menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik.
Menurut Allbert Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Sebagai akibatnya, mereka akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau. Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah, mereka bukan korban-korban pengkondisian masa lampau yang pasif.
Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah Menurut Ellis, pilaran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengarulu pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran.
Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep hahwa banyak perilaku emosional indiuidu yang berpangkal pada “self-talk:” atau “omong diri” atau internatisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Eilis adalah karena: (1) terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas, (2) orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara cerdas tetapi tidak tahu bagaimana herpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi, (3) orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan seeara memadai.
Neurosis adalah pemikiran dan tingkah laku irasional. Gangguan-gangguan emosional berakar pada masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi sekarang. Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh karenanya, klien ditantang untuk menguji kesahihan keyakinan-keyakinan tertentu. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis menyatakan bahwa “gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah”.
TRE berhipotesis bahwa karena kita tumbuh dalam masyarakat, kita cenderung menjadi korban dari gagasan-gagasan yang keliru, cenderung mendoktrinasi diri dari gagasan-gagasan tersebut berulang-ulang dengan cara yang tidak dipikirkan dan autsugestif, dan kita tetap mempertahankan gagasan-gagasan yang keliru dalam tingkah laku overt kita. Beberapa gagasan irasional yang menonjol yang terus menerus diinternalisasikan dan tanpa dapat dihindari mengakibatkan kesalahan diri.
Ellis menunjukkan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam TRE yang diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu : ” meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik”. Tujuan psikoterapis yang lebih baik adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri merka telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh mereka.
Ringkasnya, proses terapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidakbhagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Proses terapi, karenanya sebagian besar adalah proses belajar-mengajar. Menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional.
2. Tujuan Terapi Emotif Rasional
Tujuan utama dari terapi ini yaitu meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik. Terapi ini mendorong suatu reevaluasi filosofis dan ideologis berlandaskan asumsi bahwa masalah-masalah manusia berakar secara filosofis, dengan demikian Terapi Emotif Rasional tidak diarahkan semata-mata pada penghapusan gejala (Ellis, 1967, hlm, 85;1973a, hlm. 172), tetapi untuk mendorong klien agar menguji secara kritis nilai-nilai dirinya yang paling dasar. Jika masalah yang dihadirkan oleh klien adalah ketakutan atas kegagalan dalam perkawinan misalnya, maka sasaran yang dituju oleh seorang terapis bukan hanya pengurangan ketakutan yang spesifik itu, melainkan penanganan atas rasa takut gagal pada umumnya. TRE bergerak ke seberang penghapusan gejala, dalam arti tujuan utama
Ringkasnya, proses terapeutik utama TRE dilaksanakan dengan suatu maksud utama yaitu: membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya. Sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasikan suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasikan keyakinan-keyakinan dogmatis yang irasional dan takhayul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya.
Untuk mencapai tujuan-tujuan diatas, terapis memiliki tugas-tugas yang spesifik. Langkah pertama adalah menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya, menunjukkan bagaimana klien mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikapnya, dan menunjukkan secara kognitif bahwa klien telah memasukan banyak “keharusan”, “sebaiknya”, dan “semestinya”. Klien harus belajar memisahkan keyakinan-keyakinannya yang rasional dari keyakinan-keyakinan irasionalnya. Agar klien mencapai kesadaran, terapis berfungsi sebagai kontrapropogandis yang menentang propaganda yang mengalahkan diri yang oleh klien pada mulanya diterima tanpa ragu sebagai kebenaran. Terapis mendorong, membujuk, dan suatu saat bahkan memerintah klien agar agar terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang akan bertindak sebagai agen-agen kontra propoganda.
Langkah kedua adalah membawa klien ke-seberang tahap kesadaran dengan menunjukkan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosional untuk tetap aktif dengan terus menerus berpikir secara tidak logis dan dengan mengulang-ulang kalimat-kalimat yang mengalahkan diri dan yang mengekalkan pengaruh masa kanak-kanak. Dengan perkataan lain, karena klien tetap mereindoktrinasi diri, maka dia bertanggung jawab atas masalah-masalahnya sendiri. Terapis tidak hanya cukup menunjukkan kepada klien bahwa Dia memiliki proses-proses yang tidak logis, sebab klien cenderung mengatakan, ”sekarang saya mengerti bahwa saya memiliki ketakutan akan kegagalan dan bahwa ketakutan ini berlebihan dan tidak realistis”.
Untuk melangkah ke seberang pengakuan klien atas pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan irasionalnya, terapis mengambil langkah ketiga, yakni berusaha agar klien memperbaiki pikiran-pikirannya dan meninggalkan gagasan-gagasan irasionalnya. TRE berasumsi bahwa keyakinan-keyakinan yang tidak logis itu berakar dalam sehingga biasanya klien tidak bersedia mengubahnya sendiri. Terapis harus membantu klien untuk memahami hubungan antara gagasan-gagasan yang mengalahkan diri dan filsafat-filsafatnya yang tidak realistis yang menjurus pada lingkaran setan proses penyalahan diri. Jadi langkah terakhir dari proses terapeutik adalah menantang klien untuk mengembangkan filsafat-filsafat hidup yang rasional sehingga dia bisa menghindari kemungkinan menjadi korban keyakinan-keyakinan yang irasional.
Menangani masalah-maslah atau gejala-gejala yang spesifik saja tidak menjamin bahwa masalah-masalah lain tidak akan muncul. Yang kemudian diharapkan adalah terapis menyerang inti pikiran irasional dan mengajari klien bagaimana menggantikan keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap yang irasional dengan yang rasional.
Terapis yang bekerja dalam kerangka TRE fungsinya berbeda dengan kebanyakan terapis yang lebih konvensional. Karena TRE pada dasarnya adalah suatu proses terapeutik kognitif dan behavioral yang aktif dan direktif. TRE adalah suatu proses edukatif, dan tugas utama terapis adalah mengajari klien cara-cara memahami dan mengubah diri. Terapis terutama menggunakan metodologi yang gencar, sangat direktif, dan persuasif yang menekankan aspek-aspek kognitif. Rllis (1973ª,hlm.185) memberikan suatu gambaran tentang apa yang dilakukan oleh terapis TRE sebagai berikut:
1. mengajak klien untuk berpikir tentang beberapa gagasan dasar yang irasional yang telah memotivasi banyak gangguan tingkah laku;
2. menantang klien untuk menguji gagasan-gagasanya;
3. menunjukkkan kepada klien ketidaklogisan pemikirannya;
4. menggunakan suatu analisis logika untuk meminimalkan keyakinan-keyakinan irasional klien;
5. menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan itu tidak ada gunanya dan bagaimana keyakinan akan mengakibatkan gangguan-gangguan emosional dan tingkah laku di masa depan;
6. menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi irasionalitas pikiran klien;
7. menerangkan bagaimana gagasan-gagasan yang irasional bisa diganti dengan gagasan-gagasan yang rasional yang memiliki landasan empiris;
8. mengajari klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah pada cara berpikir sehingga klien bisa mengamati dan meminimalkan gagasan-gagasan yang irasional dan kesimpulan-kesimpulan yang tidak logis sekarang maupun pada masa yang akan datang, yang telah mengekalkan cara-cara merasa dan berperilaku yang dapat merusak diri.
Pengalaman utama klien dalam TRE adalah mencapai pemahaman. TRE berasumsi bahwa pencapaian pemahaman emosional (emotional insight) oleh klien atas sumber-sumber gangguan yang dialaminya adalah bagian yang sangat penting dari proses terapeutik. Ellis (199\67, hlm 87) mendefinisikan pemahaman emosional sebagai “ mengetahui atau melihat penyebab-penyebab masalah dan bekerja dengan keyakinan dan bersemangat untuk menerapkan pengetahuan itu pada penyelesaian masalah-masalah tersebut”. Jadi, TRE menitikberatkan penafsiran sebagai suatu alat terapeutik.
3. Tiga Taraf Pemahaman dalam TRE
• Klien menjadi sadar bahwa ada anteseden tertentu yang menyebabkan dia takut terhadap suatu hal
• Klien mengakui bahwa dia masih merasa terancam oleh ketidaknyamanannya, karena dia tetap mempercayai dan mengulang-ulang keyakinan-keyakinan irasional yang telah diterimanya
• Tarap pemahaman ketiga terdiri atas penerimaan klien bahwa dia tidak akan membaik, juga tidak akan berubah secara berarti kecuali jika dia berusaha sungguh-sungguh dan berbuat untuk mengubah keyakinan irasionalnya dengan benar-benar melakukan hal-hal yang bersifat kontropropaganda.
TRE lebih menekankan terutama pada dua pemahaman-pemahaman yaitu tarap pemahaman kedua dan ketiga, yakni pengakuan klien bahwa dirinyalah yang sekarang mempertahankan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang semula mengganggu dan bahwa dia sebaiknya menghadapinya secara rasional-emotif, memikirkannya, dan berusaha menghapuskannya.
4. Penerapan Teknik-Teknik Dan Prosedur-Prosedur Terapeutik Rasional Emotif
TRE memberikan keleluasaan kepada pempraktek untuk menjadi eklektik. Sebagian besar sistem psikoterapi mengandaikan suatu kondisi tunggal yang diperlukan bagi pengubahan kepribadian. Ellis (1976, hlm 89), berpendapat bahwa mungkin tidak ada kondisi tunggal atau sekumpulan kondisi yang memadai dan yang esensial bagi terjadinya suatu perubahan. TRE menandaskan bahwa orang-orang bisa mengalami perubahan melalui banyak jalan yang berbeda seperti memiliki pengalaman-pengalaman hidup yang berarti, belajar tentang pengalaman-pengalaman, orang lain, memasuki hubungan dengan terapis, menonton film, mendengarkan rekaman-rekaman, mempraktekkan pekerjaan rumah yang spesifik, melibatkan diri dalam korespondensi melalui saluran-saluran TRE, menghabiskan waktu sendirian untuk berpikir dan meditasi, dan dengan banyak cara lain untuk menentukan perubahan kepribadian yang tahan lama.
Teknik TRE yang esensial adalah mengajar secara aktif-direktif. Segera setelah terapi dimulai, terapis memainkan peran sebagai pengajar yang aktif untuk mereeduksi klien. Dalam hal ini teknik-teknik yang dapat digunakan dalam terapi ini meliputi diantaranya: pelaksanaan pekerjaan rumah (home task/work) dimana pada pelaksnaannya klien diajarkan dan disuruh untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang dapat dilakukannya seperti kedisiplinan waktu, merapihkan tempat tidur, melaksanakan komunikasi dan relasi yang positif (produktif), desensitiasi, pengkondisian operan, hipnoterapi dan latihan asertif.
5. Penerapan TRE pada Terapi Individual
Ellis (1973ª, hlm. 192) menyatakan bahwa pada penanganan terapi individual pada pelaksanaannya diharapkan memiliki satu sesi dalam setiap minggunya dengan jumlah antara lima sampai lima puluh sesi. Dimana pada pelaksanaan terapi ini klien diharapkan mulai dengan mendiskusikan masalah-masalah yang paling menekan dan menjabarkan perasaan-perasaan yang paling membingungkan dirinya. Kemudian terapis juga mengajak klien untuk melihat keyakinan-keyakinan irasional yang diasosiasikan dengan kejadian-kejadian pencetus dan mengajak klien untuk mengatasi keyakinan-keyakinan irasionalnya dengan menugaskan kegiatan pekerjaan rumah yang akan membantu klien untuk cecara langsung melumpuhkan gagasan-gagasan irasionalnya itu serta membantu klien dalam mempraktekkan cara-cara hidup yang lebih rasional.
Setiap minggu terapis memerikasa kemajuan kliennya dan klien secara sinambung belajar mengatasi keyakinan-keyakinan irasionalnya sampai ia lebih dari sekedar menghilangkan gejala-gejala, yakni sampai mereka belajar cara-cara hidup yang lebih toleran dan rasional
7. Teknik-Teknik Terapi Emotif Rasional (Emotif)
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.

c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.
8. Teknik-teknik Behavioristik
a. Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b. Sosial modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
c. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
d. Latihan asertif
Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya; (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain; (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.